07. Steven

2144 Kata
“Anak yang duduknya di pojok kiri dekat jendela, dia anak ketua yayasan! Selama ini dia di depan guru cuman pura-pura baik, tapi sebenarnya dia itu tukang bully, anak-anak yang gak disukain ama dia, bakalan jadi korban, dan mereka yang udah jadi korban akhirnya pasrah doang, karena nggak bisa ngelawan,” Dito menjawab pertanyaan Cakra mengenai siapa Steven, dan lagi-lagi Cakra hanya dapat mengikuti setiap adegan dengan detail, ia tak mampu bergerak di luar adegan, bahkan untuk sekedar mengambil napas. “Emang nggak ada yang lapor?” tanya Cakra bingung. Walaupun sebenarnya ia sudah ingat betul seluruh rangkaian adegan yang berlaku sekarang ini, ia tetap harus menjalankan seluruh prosesi selaman ingatan tanpa adanya interfensi. “Udah! Tapi guru nggak pada percaya, terus besoknya yang ngelapor…. Tiba-tiba di dalam tasnya ada rokok sama condom! Anak-anak yakin kalo itu kelakuan Steven, tapi nggak ada yang bisa ngebuktiin. Soalnya, jangankan buat beli condom ama rokok! Buat makan aja anak itu kadang susah, malah sebelum diterima di sekolah ini, dia sering puasa karena keluarganya nggak punya apa-apa untuk di makan!” Cakra bergidik ngeri mendapati aksi perundungan yang terjadi nyata di depan matanya. Selama ini, Cakra pikir aksi perundungan hanya terjadi di sinetron yang sering bundanya saksikan lewat layanan streaming. Mengingat, mereka saat itu jauh dari tanah air, sehingga satu-satunya jalan untuk dapat menikmati segala hal yang berkaitan dengan Indonesia, hanya dapat ditempuh melalui dunia internet. Ia pun ingat perkataan bundanya, yang menjelaskan bahwa aksi perundungan itu hanya terjadi di sinetron saja. Dan Cakra mempercayai hal itu.  Namun kini, ia sangsi bahwa hal yang terjadi pada layar kaca tak akan terjadi di dunia nyata.  “Jadi ya terpaksa sekolah ngeluarin dia. Itu juga semacam ancaman gitu buat jangan main-main ama dia!” Cakra tidak lupa perasaan itu, rasa amarah pada seseorang yang berbuat semena-mena karena pengaruh status sosial, apalagi aksi perundungan itu terjadi pada anak yang sekarang merupakan salah satu sahabat Cakra.  Jika saat itu Cakra tahu bahwa sahabatnya akan diperlakukan semena-menan seperti itu, maka Cakra yakin. Steven akan berada di rumah sakit karena koma akibat tinju yang ia layangkan.  Mengingat, betapa pengecutnya anak itu.  Ia pun  tak habis pikir, mengapa pihak sekolah sama sekali tidak pernah menaruh curiga pada Steven. “Jrit! Parah juga ya tuh anak!” ujar Cakra sambil mendongak dan lehernya bergerak kanan-kiri lalu terpaku pada benda yang ia cari. “Itu kan ada CCTV, emang nggak ada bukti kalo siapa yang masukin?” ujar Cakra heran. Tidak mungkin Steven dapat lolos dengan mudah, jika seluruh aksinya terekam dengan jelas oleh kamera pemantau. “Nah itu dia! File CCTV pas kejadian itu gak ada! CCTV-nya mati…. Ya semuanya pasti tau kalo Steven sengaja masuk ke ruang kontrol. Trus matiin, ato hapus filenya, cuman nggak ada bukti!” Kini Dito hanya mengehela napas kecil, tangan yang sedari tadi ikut bergerak seiring mulutnya buka-tutup, ikut terhenti. Padahal, guru di depan mereka meminta seluruh muridnya untuk mencatat apa yang terpaparkan oleh proyeksi cahaya dari alat proyektor kelas Cakra. “Lagian Steven itu murid teladan, terutama di depan para guru, trus dia juga yang selalu jadi juara di sekolah ini. Beberapa kali dia bawa medali emas olimpiade Kimia! Walaupun cuman tingkat kota tapi itu udah luar biasa! Jadi nggak ada alasan buat  para guru nggak percaya ama dia!” Dito melanjutkan tanpa menoleh pada Cakra, ia kembali sibuk menyalin Tulisan yang tersuguh di depan kelas.  Suara lirihnya sempat tak terdengar jelas oleh Cakra. “Okeh tengkyu infonya!” ucap Cakra sambil mengikuti Dito mencatat tulisan yang tersuguhkan di dinding kelasnya. Ia berusaha untuk menyimak penjelasan Guru mengenai energi mekanik, sambil memikirkan strategi untuk membalas perlakukan Steven jika apa yang diucapkan anak itu benar. Ia sangat mengingat perasan itu, perasaan yang ia tak tahu apakah itu benar atau salah. Selama ini, ia hanya memegang teguh pendirian ayahnya, dimana lebih baik mati dari pada hidup namun menutup mata saat melihat ketidak-adilan.  Cakra sungguh tak sabar menantikan adegan selanjutnya.  Ingin rasanya ia dapat langsung melompat ke adegan yang membuat hidupnya lebih berarti. Akan tetapi, ia tak dapat mengendalikannya, adegan tetap berlanjut, lebih lama dari yang ia pikir. Ia heran mengapa adegan di kamarnya yang ia alamai beberapa menit lalu rasanya lebih cepat dibanding adegannya di sekolah ini.  Ia pun terpikirkan apakah Tuhan ingin ia memahami maksud dari ini semua?  Apakah ini semacam tes agar nanti saat ia sudah menyelesaikan semua rekaman adegan dari proyeksi lobus temporal otaknya, ia dapat menjawab apapun yang ditanyakan oleh-Nya?  Cakra tak ingin menerka-nerka, ia lebih baik berada dalam ingatannya sendiri, dibanding harus kembali ke ruangan yang entah dimana itu. Ia tak sudi bertemu kembali dengan pria cantik yang hobi menyiksanya dengan aliran listrik, ia juga tak ingin bangun dalam suasana yang aneh, basah namun tak basah, terang namun gelap. Cakra pasrah mengikuti keinginan ingatannya yang kini menggambarkan suasana kelas setelah pelajaran berganti. Hawa kelas yang semula hikmat sedikit melunak, para murid meregangkan seluruh otot mereka. Ada pula yang mulai bercengkarama. Namun tidak sedikit yang memasang mata pada Cakra.  Tidak heran mengapa hampir semua murid di kelas itu memandangnya dengan tatapan bertanya-tanya nan membingungkan. Karena, baru pertama kali ini dalam sejarah sekolah mereka, ada murid baru di pertengahan tahun. Jeda lima menit yang mereka punya sebelum pelajaran berikutnya mulai, sangat dimanfaatkan mereka dengan baik, termasuk Cakra yang ingin mengorek lebih mengenai situasi sekolah barunya. Sekolah yang dimiliki oleh keluarganya dengan sistem subsidi. SMA Berbudi Pekerti merupakan sister school dari sekolah elite Budi Pekerti International High School. Dimana, sekolah itu diperuntukkan bagi kaum elite yang mempunyai banyak uang. Sekolah bonafide yang dipenuhi oleh anak-anak pengusaha, pejabat dan juga orang-orang yang berkepentingan di Indonesia. Sistem sekolahnya pun mengadaptasi sistem sekolah di Amerika Serikat, sehingga mereka dapat memilih untuk mengikuti Ujian Nasional ataupun Ujian International.  Sekolah elite itu juga mempunyai kerjasama dengan sekola-sekolah elite yang ada di beberapa negara maju. Sehingga, pada tahun ke dua mereka dapat memilih untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri selama satu tahun. Uang semester pada sekolah Budi Pekerti International High School pun sangatlah tinggi, alat tukarnya pun menggunakan mata uang Dollar ataupun Euro. Sehingga, hasil dari kentungan yang didapat, mampu membantu sekolah SMA Berbudi Pekerti.  Dimana, sekolah ini dikhususkan bagi para siswa berprestasi yang kurang mampu.  Murid-murid di sini diterima melalui undangan dan melalui jalur prestasi yang dibuka pada setiap tahun. Hanya tiga puluh enam orang yang diterima setiap tahunnya, dan dibagi menjadi dua belas murid dalam satu kelas sesuai dengan peminatan masing-masing murid.  Sehingga, sekolah ini tidak begitu besar dan luas. Walaupun begitu, sekolah ini mempunya fasilitas yang lengkap dan menunjang. Setiap murid mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, yaitu dibebaskan biaya sekolah, dapat menggunakan fasilitas sekolah secara penuh, mendapatkan sarapan dan makan siang gratis, tunjangan bulanan untuk biaya hidup dan transportasi, serta tempat tinggal bagi yang tidak mempunyai tempat tinggal.  Yaitu, berupa satu tempat tidur di dalam kamar yang terbagi untuk delapan anak di salah satu panti asuhan milik Monument Group, dibawah Yayasan Asuhan Bunda, yayasan yang dipimpin oleh Pak Handoko, ayah Steven. Seleksi masuk sekolah ini pun cukup sulit bagi yang mendaftar, karena kuota untuk pendaftaran hanya sedikit, tergantung berapa jumlah murid yang diundang untuk menempuh pendidikan di sana. Jika undangan sudah memenuhi kuota, maka dipastikan bahwa pendaftaran tidak akan dibuka.  Awalnya sekolah Berbudi Pekerti hanya ada satu di Jakarta, namun seiring naiknya jumlah siswa tidak mampu yang berprestasi, maka dibukalah cabang di beberapa wilayah, hingga menyebar ke beberapa kabupaten di seluruh Indonesia. Selama ini, para siswa di SMA Berbudi Pekerti wilayah I berpikir bahwa sekolah mereka adalah milik ayah Steven, karena beliau merupakan pemimpin yayasan wilayah I Jakarta. Tidak heran mengapa mereka bependapat demikian, karena ayah Steven sering berlaku seperti pemilik.  Hal ini tentu idak diketahui oleh Pak Adipramana ayah Cakra. Karena, Ayah Cakra sekaligus Presiden Direktur dari Monument Group itu memang sudah tidak lagi mengurus langsung perkembagan yayasan. Hanya laporan tahunan yang ia dapat dari salah satu tim Dewan Sekretari yang bertanggung jawab untuk mengawasi yayasan dan Pak Handoko.  Bahkan, Pak Handoko hanya beberapa kali bertemu dan bertatapan muka langsung dengan Pak Adipramana. Terkahir terjadi pada beberapa tahun lalu, saat ia dan keluarganya mengadakan acara ulang tahun Cakra di Panti Asuhan Pusat I, Yayasan Asuhan Bunda, tempat Pak Handoko bekerja.  Karena memang semasa Cakra kecil hingga ia lulus SMP, Pak Adipramana selalu merayakan hari lahir Cakra di Pantai Asuhan miliknya secara bergilir. Selain SMA Berbudi Pekerti, sekolah ini juga memiliki sekolah pendidikan dasar dan menengah. Namun letaknya tidak berada dalam satu area. Untuk SD dan SMP Berbudi Pekerti berada tak jauh dari panti asuhan Yayasan Asuhan Bunda, dan memang lebih fokus dikususkan bagi penghuni panti asuhan ataupun anak tak mampu yang berada di wilayah tersebut. Untuk masuk ke dalam SD dan SMP Berbudi Pekerti pun tidak sesulit memasuki SMA Berbudi Pekerti, karena Pak Adiprama meyakini seluruh anak Indonesia wajib menuntaskan pendidikan Sembilan tahun tanpa terkecuali. Jika ditanya seberapa banyak kekayaan yang dimiliki Pak Adipramana, maka jawabannya, ia pantas berada pada posisi ke empat dalam daftar orang terkaya di dunia versi majalah Forbes.  Bisnis yang ia geluti awalanya hanya bergerak di bidang fashion retail industry. Akan tetapi seiring berjalannya waktu,  bisnisnya mulai merambah ke industi makanan, properti, media, keuangan dan perbankan, kesehatan, pendidikan, hingga industri teknologi dan komputer.  Tidak heran bila keluarga Cakra sering berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya. Selain itu, Pak Adipramana juga  memiliki suara atas perkembangan dunia. Hampir seluruh pemimpin dunia telah berjabat tangan dengannya. Termasuk presiden negara adidaya Amerika Serikat.  Kendati ia merupakan orang yang berpengaruh, ayah Cakra berusaha menjauhkan semua itu dari anaknya, ia selalu menamkan sifat sederhana kepada Cakra. Salah satunya dengan mendidik Cakra untuk tidak berpenampilan mewah, dan berlaku sederhana. Bahkan saat Cakra ingin berangkat sekolah pagi ini, ayahnya yang semula menyuruh Cakra untuk berangkat dengan taksi online dari pada mengendarai mobil mewahnya, ditolak dengan halus oleh Cakra. Karena ia ingin mencoba hari pertama sekolahnya menggunakan angkutan kota.  Hal yang selalu ia inginkan begitu menginjakkan kakinya di Ibukota. Ia selalu penasaran bagaimana rasanya bergelantungan di ujung pintu masuk angkutan umum tersebut, setelah mencobanya ia jadi candu. Ia tidak terlalu mempedulikan teguran beberapa orang karena takut nyawanya menjadi terancam.  Cakra pun tidak bodoh, ia tahu bagaimana menjaga dirinya sendiri.   Masih di dalam kelas yang sama namun dengan atmosfer yang berbeda, beberapa pasang mata masih berusaha menelisik Cakra. Ia mulai menyadari ada energi negatif yang terpancar dari beberapa pasang mata. Ia mendapati tatapan sinis, pandangan tak suka, beriringan dengan bisikan kecil mengenai dirinya. “Eh nama lu siapa?” tanya Cakra pada anak laki-laki yang di sebelah kanannya. “Dito!” “Kok kayanya pada merhatiin gue yak?” “Tadi udah gue bilang kan ada yang di keluarin gara-gara ngelawan Steven? Nah anak-anak pada yakin, lu masuk sekolah ini gara-gara anak itu dikeluarin! Jadi banyak yang ga suka! Trus baru sekali ini juga ada murid pindahan. Karena untuk masuk sekolah ini tuh susah dan ada kuotanya, kalo nggak diundang ya gak bisa masuk ke sekolah ini! Lu masa nggak tau?” hanya dijawab gelengan oleh Cakra.  Saat kembali ingin mengajukan pertanyaan, tiba-tiba secarik kertas yang diremuk hingga berbentuk seperti bola tak sempurna, menghantam kepala bagian belakang Cakra kemudian terlempar jatuh di dekat kaki kanannya.  Ia menoleh mencari sesosok anak manusia seusianya yang melempar kertas tersebut padanya, pandangannya terhenti pada sosok remaja laki-laki yang duduk di pojok kanan bagian belakang. Mata remaja laki-laki itu menatap tajam kepada Cakra.  Mata itu berbicara bahwa ia tak menyukai Cakra.  Leher Cakra kembali bergerak, menunduk, menatap pada secarik kertas yang masih berada di lantai, dengan malas ia mengambil secarik kertas itu dan membukanya. Tertulis kalimat ‘jangan sok deket jadi anak baru! Mia punya gue’ yang ditulis secara tergesa-gesa, beberapa huruf tidak terlalu terbaca. Cakra tidak peduli pada ancaman itu. Ia memilih berjalan ke tempat sampah yang berdiri manis di pojok kiri belakang, saat kembali ia sempat menoleh pada Steven.  Pandangan mereka bertemu.  Steven menatapnya dengan tatapan intimidatif, sedangkan Cakra menatapnya kasihan. Menyadari bahwa pandangan yang diberikan Cakra kepada Steven bukanlah pandangan yang diharapkan, Steven tiba-tiba menjadi makin tak suka.  Ia langsung berdiri, sedikit membuat suara deritan keras saat ia memundurkan bangku dengan badannya. Sehingga, mengundang perhatian pada setiap jiwa yang hadir di ruangan tersebut. Sekonyong-konyong ruang kelas itu sunyi, setiap mata tertuju pada Steven dan Cakra. Silih berganti. Ujung bibir Steven bergerak, menarik lembaran daging itu ke atas dengan gaya mengejek, kaki kirinya melangkah siap menghampiri Cakra yang masih berdiri cuek.  Tiga anak laki-laki yang duduk tidak jauh dari Steven ikut berdiri, mereka juga menatap Cakra dengan cara yang sama. Cakra bergerak tak acuh kembali ke tempat duduknya, Steven menangkap ada kesan meremehkan yang diberikan Cakra. Ia tidak terima. “Diem lu di sana!” Cakra tak menjalankan perintah, ia tetap berjalan menuju mejanya.  Saat Steven dan tiga remaja laki-laki yang juga berdiri ingin menghampiri Cakra, pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka. Seorang wanita muda, belum mencapai usia tiga puluh, melangkah masuk. Steven dan ketiga anak laki-laki tersebut kembali duduk ke bangku mereka masing-masing sembari menahan emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN