32. Sleep Paralysis

2507 Kata
Distrik Nor tidak lagi terlihat menakjubkan, dibandingkan dengan pemandangan yang tersuguhkan pada indra penglihatan Cakra. Bangunan pada distrik Lguih lebih megah, seperti kota-kota futuristis yang ia lihat di film-film. Belum lagi pemandangan yang menjadi atap kota tersebut. Ia melihat ada dua benda langit yang mirip dengan pelanet Saturnus yang cincinnya saling silang. Pancaran bintang-bintang yang berkelip, dengan aneka warna juga tak kalah menarik untuk dinikmati. Padahal, saat ini ia sedang memerintahkan otaknya untuk menyuguhkan penerangan siang.  Iseng, Cakra memerintahkan otaknya untuk menggangitkan keadaan menjadi gelap. Seketika ia langsung mentiikan air mata. Pemandangan di luar lebih dari menakjubkan. Seakan semua yang ada di hadapannya bersinar. Termausk seluruh gedung-gedung dengan berbagai bentuk saling bersinar dan berkompetisi menarik perhatian Cakra. Ia pun kembali mengubah metodenya menjadi terang. Ia ingin memperhatikan setiap pahatan arsitektur gedung di kota ini, lebih lekat dan seksama. Setelah itu, ia semakin jingkrak kegirangan saat mendapati berbagai macam bentuk gedung. Ada yang berbentuk bulan sabit terbalik. Ada yang bentuknya seperti kue pastel dengan posisi berdiri di ujung kue. Ada pula, yang bentuknya tumpukan kotak tak beraturan. Dan yang lebih menakjubkannya lagi, gedung-gedung itu bergerak. Bahkan, ia menyaksikan, dua gedung yang saling menabrakkan diri. Tapi bukannya hancur, melainkan menyatu. lalu terpisah kembali.  Sungguh fenomena yang luar biasa.  Cakra menyadari bahwa, distrik Lguih nampak lebih padat dibanding distrik Nor. Satu gedung dengan lainnya berdampingan tanpa jarak yang lebar, membuatnya seperti saling menumpuk satu sama lain. Walau begitu, kota ini terlihat lebih kecil dibanding Nor. Cakra dapat mengambil kesimpulan bahwa kota ini mungkin pusatnya perkembangan teknologi bangsa Porkah. “Kota ini nampak sedikit berbeda dari kota sebelumnya….” tanya Cakra pada Mynhemeni yang bersiap untuk beranjak.  Jetnya sudah hampir sampai, di kediaman orang tua Saljiva yang juga merupakan pengembang teknologi. Keluarga mendiang suaminya itu, memang sudah menjalani profesi sebagai pengembang teknologi sejak bertahun-tahun yang lalu. Bahkan kakek-nenek mertua Mynhemeni pun, masih menjalani profesi tersebut. Mereka salah satu pemimpin misi dan juga kepala devisi dari teknologi yang sedang mereka kembangkan. “Selamat datang di pusat teknologi negeri Porkah, di sini seluruh perkembangan teknologi kami lahir. Termasuk busana yang kita pakai!” jawabnya yang kini sudah berdiri di samping Cakra. “Itu rumah orang tua mendiang suamiku…” tunjuk Mynhemeni pada salah satu bangunan yang bentuknya seperti gelang mutiara, yang tersusun puluhan tingkat. Bangunan itu berada di atas terumbu karang yang melayang, serta menyatu dengan bangunan lain yang terhubung dengan jembatan meliuk. Yang bercahaya pada lantainya.  Bangunan yang terhubung itu bentuknya lebih unik lagi. Yaitu, berbentuk seperti corong dengan tangkai corong yang seakan menancap di atas tanah. Jembatan yang terbentang sepanjang tujuh puluh meter itu, menghubungkan bangunan bagian tengah tangkai corong dengan bagian permukaan terumbu karang yang melayang. Betapa menakjubkan! “Bangunannya unik dan indah sekali….” Cakra kagum dengan desain bangunan tersebut. “Di sebelahnya, kantor dari ayah mendiang suamiku. Dia kepala devisi untuk teknologi medis bangsa Porkah.” jelas Mynhemeni.  "Dan bangunan yang bulat-bulat itu, hunian dari seluruh pekerja yang bekerja di sana. Termasuk keluaga mendiang suamiku!" lanjut gadis itu sama sekali tak menoleh pada Cakra, bahkan terlihat tatapannya tidak tertuju pada satu benda pun yang ada di hadapannya. Cakra hanya menyimak ucapan Mynhemeni tanpa menyadari tatapan kosong Mynhemeni yang menyiratkan kesedihan akan kenangan mendiang suamianya.   Cakra masih terpesona dengan apa yang ia lihat. “Kita sudah sampai!” ucap Mynhemeni begitu di kepalanya terdengar suara Emi, nama busananya. Seluruh bangsa Porkah memberikan nama pada busana mereka. Karena, busana itu juga sebagai wadah untuk segala informasi yang mereka butuhkan.  Tanpa sadar Cakra sudah berada di atas terumbu karang yang sangat indah. Terumbu karang yang juga menjadi penopang bagi bangunan gelang mutiari menumpu itu. Walalupun terumbu karang itu melayang, terumbu karang itu sama sekali tidak goyang.  Di atas permukaan terumbu karang tersebut, terdapat pohon-pohon yang batangnya memantulkan cahaya warna-warni. Dengan dedaunan yang bergoyang teratur, seakan sedang menari. Pohon-pohon itu dikelilingi bermacam ikan kecil yang juga berwarna-warni. Beberapa ikan mengeluarkan cahaya, beberapa tidak. Bukan hanya ikan, Cakra pun melihat beberapa binatang aneh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Kenapa kita tiba-tiba sudah di luar?” tanya Cakra kebingunan, ia pun keheranan karena tak lagi melihat jet yang mereka tumpangi. “Terus kenapa jetnya ilang?” “Seperti saat kita masuk ke dalam kendaraan, tubuhmu akan terhisap masuk dalam kecepatan yang sangat cepat. Begitu juga dengan keluar. Jetnya sudah aku perintahkan untuk pergi ke area parkir. Kami tidak boleh sembarangan meletakkan kendaraan yang tidak kami gunakan, kendaran itu harus berada di area parkir. Aku memerintahkan Emi untuk mencari area parkir yang sepi. Aku tidak ingin parkir di rumah orang tua mediang suamiku…” ungkap Mnyhemeni. “Emi? Siapa dia?” tanya Cakra, yang kini ikut melayang bersama Mynhemeni dari permukaan terumbu karang. Pecahan terumbu karang itu utuh dengan rumput, yang beberapa kali menyentuh betis kaki Cakra. Ia tak merasakan sensasi geli dan gatal, seperti yang ia rasakan ketika kakinya bersentuhan dengan rerumputan yang ada di daratan.  Sensasi yang ia rasakan seperti sedang dipijat. “Emi nama busanaku, kami bisa berkomunikasi dengan busana kami. Busanamu tidak bisa melakukannya karena telah kami non-aktifkan!” ucap Mynhemeni tegas. Ia tak ingin Cakra protes, kenapa busananya tidak dapat diajak bicara seperti miliknya. “Iya aku paham… Hey! Rumputnya mijat kakiku…” jawab Cakra yang sedari tadi tidak memperhatikan Mynhemeni, ia hanya sibuk mengamati rerumputan yang membungkus kakinya sambil sesekali merasakan sensasi seperti dipijat. Ia tak melihat rumput itu mengelilingi kaki Mynhemeni. “Itu bukan rumput, melainkan hewan. Mereka sepertinya menyukaimu. Aku tak menyukai hewan itu…” ucap Mynhemeni tanpa melihat ke arah Cakra. Sedangkan anak remaja yang kini berupa buron itu, masih memperhatikan rerumputan yang ternyata memang hewan.  Ia dapat menyimpulkan bahwa mereka bukan sedang memijat kaki Cakra melainkan menggenggamnya. Karena, Mynhemeni melayang dengan kekuatan penuh sehingga membuat hewan itu ketakutan. Beberapa kali, mereka menyalip orang yang juga melayang di hadapan dan atas mereka.  Hingga, mereka kini telah berada di depan jembatan yang menghubungkan antara bola-bola mutiara yang tinggi masing-masing mutiara itu mungkin sekitar lima belas meter. Mutiara itu sangat besar dan berkilau, Cakra dapat menyimpulkan bahwa mutiara itu merupakan rumah orang tua Chuvohus, mendiang suami Mynhemeni.  Di atas jembatan tersebut terlihat Saljiva yang tengah berdiri tegang, mukanya pucat dan sedikit ketakutan. “Wakil Ketua distrik Nor… apa yang membuat Anda datang ke sini…?” ucap gadis yang dilihat Cakra mirip seperti anggot girl band Korea, yang selalu dibicarakan Dito. Sahabatnya itu, sangat tergila-gila dengan kecantikan orang Korea. “Siva… ini aku Hemy!” ucap Mynhemeni, yang berdiri berhadapan dengan Saljiva. Mereka hanya terpisahkan ruang kosong selebar satu meter. “Kak! Aku sudah bilang! Matikan dulu mode penyamaranmu!” keluh Saljiva sembari bernapas lega. Wajahnya kini sudah tak setagang tadi. “Akan aku matikan, kalau kita sudah berada di ruang kerjamu!” ucap Mnyemeni sambil melajukan kembali petakan terumbu karang yang kini sudah berganti warna. Petakan itu, sudah bukan lagi pecahan terumbu karang melainkan bagian jembatan yang juga berwarna mutiara. Sedangkan, hewan-hewan yang berada di atas petakan terumbu karang mereka, sudah tak terlihat. Cakra tak menyadari bahwa seluruh hewan sudah meninggalkan petakan itu, beberapa lama setelah mereka melayang. “Baiklah, ayok kita langsung masuk…!” ucap Saljiva sembari melayang di atas petakan yang juga berisi Mynhemeni serta Cakra. Mereka menuju bagian bola mutiara raksasa, yang tiba-tiba permukaannya membelah diri.  Menciptakan ruang sebagai pintu masuk.   Mereka terus melayang, hingga memasuki ruangan lainnya. Sepanjang mereka melayang, Cakra terus memandangan interior bangunan yang nampak tinggi dan megah, terdapat beberapa lantai ruangan terbuka seperti mezzanine tetapi melayang di atas lantai. Setiap ruangan yang dilewati Cakra mempunyai interior yang berbeda-beda dan tidak kalah cantik dan juga megah. “OK! Sekarang matikan mode penyamaranmu!” ucap Saljiva berbalik menghadap Mynhemeni dan Cakra.  Cakra hanya memandangi ruangan yang tidak terdapat apa-apa. Kosong melompong! Hanya dinding bercahaya putih, seperti bagian luar mutiara gedung ini, yang mengeliligi mereka. Saat Cakra ingin menanyakan kepada gadis yang nampak seumuran dengan dirinya, kenapa mereka dibawa ke ruang kosong.  Tiba-tiba, dari lantai tersebut terjadi pergerakkan. Muncul beberapa perabotan dan juga alat-alat canggih yang belum pernah Cakra saksikan.  Bahkan di dalam film sekalipun.  Ruangan kosong yang luasnya mungkin dua ratus meter tersebut, menjadi tak kosong lagi berkat hadirnya barang-barang yang dibutuhkan oleh Saljiva. “Terima kasih kamu sudah mau membantuku!” ucap Mynhemeni yang kini sudah menjadi dirinya, dari sudut pandang Saljiva. Karena, sedari tadi yang ia lihat bukanlah kakak iparnya, melainkan Rumsun. Orang yang sangat ingin ia hindari saat ini. “Jadi yang kamu hindari saat ini Rumsun?” lanjutnya sambil melayang ke sudut kanan ruangan itu. Terdapat  alat canggih yang membuat Cakra penasaran apa fungsi alat-alat ini. “Tentu saja! Aku seperti sedang melakukan kriminal, jadi kamu anak remaja daratan itu? Aku Saljiva, kamu?” ucapnya ramah sambil menodongkan tangan kanannya. Cakra hanya menatap gadis yang bentuk fisiknya menyerupai orang dengan ras asia timur itu, dengan tatapan kebingungan. “Kenapa diam saja? Bukankah cara berkenalan kalian seperti ini?” tanyanya sambil mengayunkan tangan kanannya. “Iya benar… aku Cakra. Salam kenal!” ucapnya sedikit canggung. “Nama yang terdengar indah, salam kenal juga. Kamu sudah mengetahui nama Kakak iparku?” tanya Saljiva yang kini melayang menyusul Mynehmeni, yang tengah menggerak-gerakkan kepalanya.  Beberapa benda di hadapannya, ikut bergerak dan kadang berpindah tempat serta melayang, seiring gerakan kepalanya. Ia sedang menganalisa, metode apa yang dapat membantu memecahkan misteri kekuatan pada tubuh Cakra.  Serta yang paling penting, apakah anak itu merupakan sebuah ancaman atau tidak. “Tadi aku dengar, kamu menyebutnya Hemy, jadi aku asumsikan namanya Hemy?” membuat Cakra tersadar, bahwa ia sama sekali belum berkenalan dengan Mynhemeni. “Namaku Mynhemeni, hanya orang terdekatku yang memanggilku Hemy!” ucapnya tegas tanpa melihat ke arah Cakra, yang kini sudah berdiri di samping kanannya.  Sedangkan Saljiva, sudah berdiri di samping kiri Mynhemeni berjarak kurang dari dua meter sambil menghadap ke arah yang berbeda. Karena posisi mereka, sedang berada di ujung kiri ruangan persegi panjang tersebut. Yang mana, Mynhemeni serta Cakra berdiri menghadap bagian panjang dari ruangan itu. Sebaliknya Saljiva, berdiri menghadap dinding yang menjadi bagian lebar dari ruagan tersebut.  Saljiva dan Mynhemeni hanya berdiri, sambil menggerakkan kepala mereka, serta sesekali berkedip. Mereka serempak, sedang bekerja sama untuk mencari sesuatu yang dapat mereka lakukan untuk menganalisa tubuh Cakra. Mereka juga menemukan alat apapun yang dapat membangktikan dektektor, yang ada pada seluruh bagian badan remaja lelaki itu. “Aku harus ngapain? Aku gak tidur atau masuk ke tabung gitu?” tanya Cakra selang semenit ia terdiam, hanya memperhatikan dua wanita yang entah sedang melakukan apa. “Belum dulu, sebagian besar aku sudah mendapatkan data tubuhmu… kami sedang mencari metode apa yang memungkinkan untuk menganalisa tubuhmu!” balas Mynhemeni tanpa menoleh padanya. “Oke… kalau begitu aku boleh duduk? Aku mau duduk…” belum selesai pertanyaan yang muncul dari Cakra, tiba-tiba tubunya seperti ditarik. Seketika pula ia sudah duduk di atas kursi yang melayang, berbentuk setengah lingkaran dengan dudukan yang sangat empuk.  Tak lama, tubuhnya kembali seperti ditarik dan memaksanya untuk berbaring di atas kursi tersebut. Saat Cakra ingin protes, dikarenakan tubuhnya tidak mungkin muat untuk berbaring di kursi itu. Tahu-tahu, kursi itu bergerak, seakan memanjangkan diri, sehingga membentuk seperti kapsul yang melayang. Bukan itu saja, ujung kursi yang melengkung juga ikut bergerak, sehingga membuat Cakra seperti terperangkap di dalam tabung mengawang. “Aku akan coba menganalisa lebih jauh… kamu tenang saja. Ini semua aman kok!” ucap Saljiva tanpa menoleh pada Cakra.  Hampir satu menit Cakra berdiam tak tahu berbuat apa di dalam tabung tersebut. Pikirannya tumpang tindih memenuhi kepalanya. Angannya menjelajah memikirkan orang tuanya, para sahabatnya, dan juga dunia perkuliahan yang akan ia jalani tak lama lagi.  Akan tapi semua pikiran itu dikalahkan dengan pikirannya yang sedang berada di negeri asing bak negeri dongeng. Angannya akan tinggal di Porkah lebih mendominasi, seakan ingin menguasai perhatian Cakra. Ditambah, segala teknologi yang terpampang nyata di depannya. Membuatnya semakin ingin berada di negeri, yang kehadirannya mungkin tak diinginkan oleh mereka. Besar harapannya bahwa, ia bukanlah sebuah ancaman untuk Porkah. Besar harapannya, agar ia dapat bebas mengambil sebanyak-banykanya ilmu pengetahuan  dari negeri yang terdapat di dasar laut planet bumi ini. Saat ia sedang menerawang jauh masuk ke dalam khayalannya, tiba-tiba matanya tersoroti cahaya biru yang muncul dari langit-langit kapsul transparang tersebut. Membuatnya seakan tak dapat bergerak. Ia seperti sedang merasakan sleep paralysis, atau ketindihan. Ia mencoba berusa membuka mulutnya, agar mereka menghentikan apapun yang sedang mereka lakukan. Karena sinar biru yang menyerupai laser tersebut seakan mengalir ke seluruh aliran darahnya. Ia merasa, bahwa apa yang ia alami dengan aliran laser itu sangatlah lama.  Padahal, laser itu hanya menyoroti mata Cakra tak lebih dari tiga puluh detik. Namun, tiga puluh detik itu terasa seperti tiga tahun baginya. Rasanya seperti ia mengulas semua kejadian yang pernah ia alami, mulai dari ia lahir, hingga ke kejadian terbaru. Yaitu, ia terbaring dalam kapsul aneh dengan laser biru yang menghujani bola matanya. “Huaaah… itu tadi apa?” ucap Cakra berteriak begitu laser itu berhenti bersinar, membuat Cakra dapat bergerak kembali. Ia sampai bangkit dari tidurnya. Membuat atap kapsul, yang membungkus tubuh Cakra seketika lenyap. Seakan mengetahui bahwa Cakra hendak menegakkan badannya. “Kenapa aku nggak bisa bergerak tadi? Rasanya seperti mayat!” protes Cakra. Tersirat rasa takut dan cemas dari nada suaranya. “Maaf, kami mencoba menganalisa tubuhmu, tapi ternyata otakmu memblokirnya. Kamu bisa perintahkan otakmu untuk mengizinkan kami masuk?” tanya Mynhemeni yang kini menoleh pada Cakra. Cakra menangkap adanya rasa belas kasihan, dari raut wajah ayu gadis tersebut. Membuatnya mengangguk, menyetujui untuk berusaha mengambulkan keiginannya. “Aku akan mencobanya!” balas Cakra, seraya berbaring. Atap transparan muncul dalam sekejap, membalut tubuh remaja tampan itu.  Tak lama, sinar laser biru kembali menyoroti bola matanya yang terlapisi iris berwarna coklat terang. Lagi-lagi, Cakra merasakan sensasi ketindihan, kali ini lebih dahsyat. Terlihat beberapa kali matanya berusaha bergerak, namun tetap tak mampu menuruti keinginan otak. Hingga sinar itu berulang lagi sirna, membuat Cakra berhasil keluar dari apapun yang membelenggunya. “Kamu benar? Sudah memberikan izin pada otakmu untuk kami mengalisamu?” tanya Mynhemeni memastikan. Kali ini ia melayang menghampiri tabung yang melapisi tubuh Cakra. “Sudah! Aku sudah berusaha semampuku….!” ucap Cakra bingung, apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Ia hanya memerintahkan otaknya, untuk pasrah menerima perlakuan apapun dari para gadis cantik dan pintar itu. “Sepertinya otakmu tak ingin menuruti perintahmu!” simpul Mynhemeni lalu beranjak terbang ke Saljiva. “Bagaimana Siva? Apa kamu sudah dapat meciptakan alat untuk mendukung metode apa yang akan kita lakukan pada tubuhnya?” tanya Mynhemeni sedikit putus asa. “Aku masih berusaha Kak… sebentar lagi… Duh!” “Kenapa?” “Aku membutuhkan komponen ini!” ucapnya sambil menggerakkan kepalanya. Lalu muncul hologram, yang melayang ke arah Mynhemeni. Hologram itu menampilkan benda kecil, seperti segienam yang mengeluarkan cahaya warna-warna pada sikunya. Benda itu juga terdapat ukiran aneh yang bergerak dan menyala. “Aku nggak bisa mengajukan komponen ini ke kantorku, karena tidak berhubungan dengan pekerjaanku!” sesalnya. “Aku bisa ambil, dari bagian alat analisa di kantorku. Aku akan meminta Georu untuk mengambilnya dan memintanya kemari segera mungkin!” ucap Mynhemeni menenangkan.  Ia pun langsung menghubungi Georu lewat telepati, tanpa mengetahui bahwa apa yang ia lakukan, merupakan kesalahan yang tak lama lagi ia sesali. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN