"Ty, siapkan minuman untuk kami berdua. Berikan yang terbaik!" ujar Beth pada bartender di minibarnya.
Tyson adalah seorang lelaki berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Ia sudah bekerja sebagai bartender selama lima tahun di mansion itu. Setiap racikan minumannya membuat Beth kagum dan menginginkannya lagi dan lagi. Lelaki dengan tinggi 175cm, berkulit kuning langsat dan memiliki tatto di leher dan badannya itu adalah salah satu orang kepercayaan Evacska untuk melindungi Beth.
"Nona, anda sudah menghabiskan lima botol siang tadi. Apakah anda ingin saya kena omel Tuan?"
"Apa! Lima botol? Kau gila!" seru Rick.
"Ya, dan itu semua karena dirimu!"
"Aku sudah minta maaf padamu!"
"Maaf? Hah ... Bahkan aku tak peduli dengan permintaan maafmu!"
"Kau marah?"
"Dengan bodohnya kau bertanya seperti itu."
Tiba-tiba saja Rick mencium Beth. Rick melumat bibir wanita itu sedikit kasar. Tyson yang menyaksikan hanya bisa berkedip dan menelan salivanya dengan kasar. Cukup lama ciuman itu berlangsung, hingga Rick melepaskannya.
"Maafkan aku, aku tak bermaksud membohongimu. Aku hanya ingin memastikan kondisinya, karena selama ini ia menghilang begitu saja,"jelas Rick.
Beth menatap iris biru milik Rick, tidak ada kebohongan kali ini. Beth menganggukkan kepalanya, ia menyuruh Tyson untuk menuangkan minuman kedalam gelas miliknya. Beth meneguk minuman itu dengan sekali tegukan.
"Duduklah, temani aku minum," ujar Beth lirih.
Rick hanya menurut, ia duduk disamping Beth dan meneguk minuman yang sudah Tyson tuang sebelumnya. Mereka hanya diam dan mengisyaratkan pada Tyson untuk menuangkan minuman kedalam gelas kosongnya. Hingga Beth tak mampu lagi menahan berat tubuhnya, wanita itu jatuh didalam pelukan Rick. Meski Rick sendiri tengah mabuk, tetapi ia masih bisa menggendong Beth untuk masuk kekamarnya.
Rick merebahkan tubuh Beth diatas ranjang, saat ia akan menegakkan posisi tubuhnya, Beth menarik Rick hingga bibir mereka bertemu. Beth melumat bibir Rick dengan lembut, begitupun dengan Rick yang membalas lumatan itu.
Bibir yang sudah bertautan dengan mata terpejam, satu tangan Rick menopang berat tubuhnya sedngkan tangan lainnya sudah bermain diatas d**a Beth. Tangan Rick meremas dad itu dengan perlahan, membuat tubuh Beth menggeliang. Kini tubuh Rick menindih Beth, ia menggesekkan kejantanannya yang masih terbungkus rapi pada area sensitif milik Beth.
Rick melepaskan ciuman Beth, mata mereka saling menatap. Perlahan Rick melepaskan pakaian Beth hingga terlihat jelas tubuh indahnya. Setelah itu ia juga melepaskan pakaian miliknya.
Rick kembali menindih tubuh Beth, ia kini tengah mengulum p****g p******a Beth yang sudah mengeras. Sedangkan satu tangan bermain diarea kewanitaan milik Beth.
"Akh, Rick ... kau terlalu keras disana," desah Beth.
Lelaki itu tak menghiraukan desahan Beth, ia terus menikmati p******a yang kenyal dan juga menawan itu.
"Aakkhh ... terus, Rick. Yeah,"
Rick memasukkan satu jarinya kedalam liang kewanitaan Beth. Jari itu bergerak mengaduk didalam sana. Desahan Beth semakin keras, hingga ia mendapatkan pelepasan yang pertama.
"Aaakkhhh,"
Rick mengeluarkan jarinya, ia kini menggesekkan kejantanannya pada bibir kewanitaan Beth. Kaki Beth meligkar pada pinggul Rick. Perlahan lelaki itu memasukkan kejantanannya kedalam liang sempit milik wanitanya. Beth meringis merasakan sesuatu yang berusaha menerobos selaput dara miliknya.
"Aakkkhhh ... S-sakit!" pekik Beth yang merasakan kejantanan Rick masuk memenuhi liang miliknya.
Beth mencengkeram lengan Rick menahan rasa sakit pada bagian bawahnya. Rick mencium Beth agar sedikit menghilangkan rasa sakitnya, lalu ia menggerakkan pinggulnya dengan gerakan memompa.
"Akh ... ehmm," desah Beth.
Rick terus memompa tubuh Beth, kali ini ia menambah temponya. Hal itu membuat Beth mendapatkan pelepasannya yang kedua.
Tiba-tiba saja Rick menghentikan kegiatannya. Tentu hal itu membuat Beth sedikit kesal. Rick membalikkan tubuh Beth, ia membuat Beth menungging, menumpu tubuhnya dengan berpegangan pada badan ranjang. Lalu Rick kembali menyerang kewanitaan Beth dari belakang.
Kali ini hanya ada rasa nikmat yang mereka rasakan. Hentakan demi hentakan lelaki itu lakukan, ia tengah menikmati kejantanannya yang terasa terjepit didalam sana.
"Ouh, s**t! Milikmu sempit sekali, Sayang. Aakkhh ... aku tak bisa berhenti untuk tidak memasukimu lebih dalam," ujar Rick ditengah pompaannya.
Tubuh Rick sedikit membungkuk, kedua tangannya menangkup p******a Beth. Lalu ia kembali menggerakkan pinggulnya.
" Akkh, Rick ... yeah, nikmat sekali," rancau Beth yang merasakan miliknya penuh dengan kejantanan milik Rick
Rick kembali membuat Beth mengeluarkan cairan bening miliknya. Setelah desahan panjang, tubuh Beth melemas. Rick melepaskan kejantanannya, lalu membalikkan posisi Beth.
Rick menaikkan kaki Betj keatas bahunya. Lelaki ituh kembali memasukkan kejantanannya kedalam liang kewanitaan Beth.
"Aakkhhh," desah keduanya.
"Terus, Rick. Itu sangat nikmat, aakkhh ... jangan berhenti," rancau Beth.
"Seperti yang kau mau, sayang. Milikmu benar-benar nikmat sekali," ujar Rick.
Rick menurunkan tubuhnya hingga menindih Beth dengan intim yang masih bertautan. Rick melumat bibir Beth, lidahnya menjulur menyusuri rongga mulut dan saling bertukar saliva.
Sudah hampir empat puluh lima menit mereka b******a. Peluh membasahi tubuh keduanya, meski ruang kamar Beth begitu dingin, tetapi suhunya tak dapat mendinginkan persetubuhan panas itu.
Rick mempercepat gerakan pinggulnya, tubuhnya mulai menegang.
"Aku akan sampai, sayang," ucap Rick.
"Aku juga, Rick,"
Rick menghentakkan kejantanannya lebih dalam. Ia mengeluarkan cairan putih kentalnya di dalam rahim Beth. Rick mencium kening Beth, lalu berbaring disamping wanit itu dengn melepaskan kejantanannya terlebih dahulu.
Tanda sadar, Rick memeluk tubuh Beth. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih telnjang.
"Terima kasih, Rick."
Rick hanya tersenyum lalu memejamkan matanya. Diikuti oleh Beth yang memilih untuk tidur bersama orang yang sangat ia cintai.
***
Keesokan paginya, Beth bangun terlebih dahulu. Ia merasakan nyeri pada bagian bawahnya. Saat melihat kesamping, Rick masih setia dalam tidurnya. Dengan menahan rasa sakit itu, Beth beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
"Akhirnya aku mendapatkanmu, Rick,"gumam Beth sembari berkaca didalam kamar mandi.
Wanita itu dengan perasaan bahagia membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaan mereka. Meski tengah merasakan nyeri pada bagian kewanitaannya, tetapi hal itu tak membuatnya jera dengan persetubuhan panas yang semalam ia lakukan.
"Rasanya begitu nikmat, meski sedikit nyeri saat milikku sudah ia renggut," gumamnya lagi.
Seketika ia melupakan rasa sakit hatinya kemarin. Ia bahkan sudah tak ingin mengambil pusing dengan hal itu.
"Aku ingin melakukannya lagi," ucap Beth.
Ia buru-buru menyelesaikan kegiatannya, lalu mengenakan kimononya. Saat Beth keluar dari kamar mandi, ia melihat Rick dengan bertelanjang d**a menatapnya dan tersenyum hangat.
"Kau sudah selesai? Giliranku untuk mandi," ujar Rick.
Lelaki itu melangkah mendekati Beth. Wanita itu tersenyum saat Rick mulai mendekat, tangannya menyentuh d**a bidang milik Rick. Sungguh sebuah pemandangan yang menyegarkan dipagi hari.
"Hei, apa aku bisa mendapatkannya lagi?" tanya Beth pada Rick.
"Hah? Apa maksudmu?"
"Aku menginginkannya lagi," sembari meremas perlahan kejantanan milik Rick.
Rick menatap tajam pada Beth, lalu beberapa detik kemudian senyumnya mengembang. Rick menarik tubuh Beth kedalam pelukannya.
"Jangan menyesal jika kali ini akan kupastikan kau tak dapat berjalan dengan nyaman, sayang."