Dellia memandangi papan skor dengan perasaan tak menentu, antara ingin kecewa atau senang. Sejak menonton pertandingan sejak satu jam yang lalu ia sudah merasa yakin bahwa kemenangan adalah milik tim Raka, namun kenyataannya tim lawan mampu membalikkan situasi dan akhirnya kini malah menjadi pemenangnya. “Sayang sekali tim kak Raka tidak bisa menang hari ini.” Putri menghela napasnya seraya mengamati lapangan basket dan sesekali menutup telinganya merasa terganggu mendengar riuh ricuh pendukung tim lawan yang tentu saja sedang merayakan kemenangan mereka. “Iya, Put. Sayang sekali. Padahal selama ini kak Raka selalu memenangkan pertandingannya.” Novita ikut menghela napas dengan panjang, sebagai pengagum dari pemuda tampan itu sejak memasuki Sekolah Menengah Pertama ia tentu sangat meras

