"Masih dingin?" "Tidak terlalu, terima kasih, Rey." Naya melepas jaket milik Rey yang melekat di tubuhnya. Sedikit memberi kehangatan di saat hujan turun usai dia kembali pulang dari pemakaman sang kakak. Tidak ada yang istimewa di sana. Itu memang tempat kakaknya dikebumikan. Ada nama Arsen juga. Hanya saja, dia tetap tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya dengan apa yang tadi dia lihat. Kenapa kuburan kakaknya masih berupa gundukan tanah? "Naya, ada apa?" Sentuhan lembut di tangannya membuat Naya tersadar, Rey sudah turun dan membukakan pintu mobil untuknya. Hujan masih mengguyur dan lelaki itu tampak sedikit basah. "Tidak apa-apa. Maaf, aku melamun." Naya tersenyum menggeleng dan keluar dari mobil. Berjalan masuk ke dalam rumah lewat pintu samping yang menghubungkannya dengan g

