"Tolong biarkan Raline pergi. Aku tidak suka melihatnya di sini!" ucap Naya tiba-tiba saat dia masuk ke dalam ruang kerja Arsen dan melihat kakaknya tengah sibuk dengan beberapa dokumen. Ucapannya jelas mengalihkan perhatian laki-laki yang sama sekali hampir tidak pernah melepaskan topengnya. "Ada apa lagi, Naya?" "Aku ingin Raline pergi," ulangnya sekali lagi, sembari berjalan mendekati Arsen. Duduk di sofa yang tak jauh dari meja. Matanya bisa melihat Arsen menghembuskan napas kasar, sebelum bangun dari duduknya dan berjalan menghampirinya. "Kenapa kau berkata seperti itu? Kita sudah membahas ini." Arsen menatap serius ke arah adiknya. Tangannya mengelus rambut Naya dengan lembut. Meski ada tatapan tidak suka dalam sorot matanya dan Naya menyadari hal tersebut. Dia menepis tangan kaka

