Sang Penggoda

1153 Kata
Mata Naya terbuka, pandangannya langsung dihadapkan pada langit-langit kamar. Naya terbangun seorang diri di sana. Tidak ada siapa pun selain dia. Laki-laki itu juga tidak ada. Namun Naya sedikit bersyukur karena tidak ada Jonathan di sisinya. Tubuhnya terasa sangat pegal, karena harus melayani laki-laki itu. Bercak kemerahan, bahkan kini tampak menghiasi hampir seluruh tubuhnya. Naya berusaha duduk di ranjang. Dia mendesah sembari mengusap kepalanya yang berdenyut sakit. Sampai beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang membawanya sarapan. Tampak tatapan matanya menyorot Naya tajam. Dia meletakkan nampan yang berisi sarapan untuknya, di atas meja, tak jauh dari posisi Naya tertidur saat ini. Pelayan itu, seolah enggan melayaninya. Dia bahkan tampak buru-buru keluar setelah menyimpan sarapan. Sayangnya, tak hanya satu atau dua pelayan yang bersikap seperti itu padanya. Mungkin, semua pelayan bersikap seperti itu. Naya sadar kalau sejak kedatangannya, semua pelayan di sini seperti tidak mau menerimanya. Jika bukan karena perintah Jonathan, mereka mungkin tidak akan sudi melayaninya. Jelas saja, mereka pasti menganggap Naya seorang jalang. Simpanan. Penggoda ayah dan anak sekaligus. Namun, Naya tidak menghiraukannya. Terserah apa kata mereka. Dia sama sekali tidak peduli. Menyangkal pun, rasanya sama saja karena Naya memang murahan dan yang jelas, Jonathan lah yang menggodanya. Laki-laki itu yang menahan Naya untuk dijadikan pemuas nafsu. Naya harus memiliki kekuatan untuk makan, agar suatu hari nanti dia bisa keluar dari sini. Dengan perasaan tak menentu, Naya berdiri dan berjalan mendekati meja di mana makanan diletakkan di sana. Duduk dan mulai memakan makanan tersebut, tanpa peduli jika dia masih belum mengenakan pakaian. Sayangnya, saat Naya sedang asyik makan, tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan keras. Seseorang mendobraknya kencang hingga membuat perhatian Naya teralihkan. Takut, jika Jonathan lah yang ada di ambang pintu, tapi ternyata bukan, yang ada di sana adalah seorang wanita. Wanita yang Naya tahu merupakan mantan tunangan Jonathan, yang diputuskan secara sepihak. Dia adalah Sherly. "Di mana Nathan?" tanyanya dengan nada dingin. Tak ada raut wajah bersahabat dalam matanya. Ada sorot kebencian yang begitu ketara di sana. Dia sangat muak melihat kehadiran Naya di sana. Sherly jelas tahu siapa wanita ini, dialah wanita yang merebut Jonathan darinya. Wanita tidak tahu diri yang menggoda tunangannya dengan tubuh hinanya itu. "KAU BISU? AKU BERTANYA DI MANA NATHAN!" Naya memalingkan wajahnya ke samping, dia mengeratkan genggamannya pada selimut yang kini membungkus tubuhnya. Menggeleng pelan. "Saya tidak tahu." "Sialan! Dasar jalang murahan! Kau menyembunyikannya, kan? Kau memonopoli Nathan untukmu sendiri? Kau yang menghasut dia supaya meninggalkanku? Benarkan! Pernikahanku batal gara-gara kehadiranmu!" Sherly berteriak marah pada Naya. Emosi yang tadi dia tahan, akhirnya meletus juga. Amarahnya naik karena Naya dengan tatapan datarnya menjawab begitu santai. Jelas saja, hal tersebut memantik rasa cemburu ketika tunangannya, lebih memilih seorang jalang dibanding dia. Semua gara-gara Naya. Naya tidak menjawab, dia menghentikan acara makannya. Berdiri dan hendak berjalan ke arah kamar mandi, dengan selimut yang melilit tubuhnya. Namun, sebelum Naya sempat berjalan, Sherly tiba-tiba menarik selimutnya hingga terlepas dan membuat Naya terjatuh tanpa busana. Tak sampai sana, tangan Sherly langsung menyiram Naya dengan minuman yang ada di sana. "Cih, jalang sombong. Kaupikir, kau lebih hebat dariku, huh?" tanya Sherly sembari menjambak sejumput rambut hitam milik Naya, membuat wanita itu mau tak mau harus mendongak ke arahnya. Rasa sakit sangat terasa, seolah rambutnya dicabut paksa dari kepala. Sherly menatap benci ke arah Naya. Dadanya bergemuruh hebat saat melihat tubuh jalang itu, penuh dengan bercak kemerahan. Sudah sangat menjelaskan, jika semuanya adalah ulah dari Jonathan. Bahkan Jonathan sudah menidurinya. Benar-benar keterlaluan! Tubuh dan wajah inilah, yang memikat calon suaminya. Membuat Sherly merasa ingin merusaknya. Tangannya langsung mencengkeram kuat rahang Naya. Membiarkan kuku-kuku tajamnya, menembus dan melukai kulit wajah Naya. Hingga Naya harus meringis kesakitan. Perih. "Ssshh, sa-sakkit. Hen-hentikan." Naya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Sherly di wajahnya. Kuku-kuku itu, bagai menancap di kulitnya, mengiris dan membuat darah keluar dari sana. Jika Jonathan tahu, laki-laki itu pasti akan menghukumnya. Dia jelas tidak memperbolehkan tubuhnya lecet sedikit pun. "Ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang kurasakan. Kau tahu? Hatiku lebih sakit saat tahu jika Nathan lebih memilih wanita kotor sepertimu. Sekarang, cepat katakan di mana Nathan? KAU SEMBUNYIKAN DIA DI MANA? Huh!" ucap Sherly penuh emosi, tanpa peduli bagaimana kondisi Naya yang tidak bisa melakukan apa-apa. "Apa yang kaulakukan di kamarku, Sherly!" Sebuah suara berat dan penuh intimidasi terdengar. Mengalihkan perhatian Sherly yang tengah berusaha menjambak dan melukai wajah Naya. Dia melepaskan Naya begitu saja dan langsung berjalan mendekati Nathan dengan langkah tegasnya. "Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ungkapnya tanpa basa-basi. Tidak lagi peduli, jika barusan dia telah menyiksa Naya. Akan tetapi, bukannya mengiyakan ajakan Sherly, Jonathan hanya melirik wanita itu sekilas dan menepis Sherly kasar. Langkahnya berjalan ke arah Naya yang terduduk dalam posisi begitu menyedihkan. Rambut panjangnya, menutupi wajah wanita itu. Tertunduk tanpa berniat sedikit pun untuk mengangkatnya. "Angkat wajahmu. Lihat aku!" perintah Jonathan. Sayangnya, Naya tetap menunduk, membuat Jonathan merasa kesal, hingga dia menarik dagu Naya dengan kasar. Seketika, wajah Naya yang berdarah, terlihat jelas di mata Jonathan. Membuatnya sedikit terkejut sampai suara desisan terdengar dari bibirnya. Giginya saling bergemeletuk. Menandakan, dia marah melihat kondisi Naya. "Siapa yang melakukan ini? KATAKAN!" Jonathan berteriak tepat di depan wajah Naya. Membuat wanita itu cukup terkejut, namun tak ada air mata sedikit pun yang mengalir di wajahnya. Apa laki-laki itu bodoh? Bukankah semuanya sudah jelas? Untuk apa Naya perlu menjelaskan lagi? Naya memilih untuk memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Jonathan dari pada menjawab pertanyaan laki-laki itu. "Aku, aku yang melakukannya, Nathan. Kenapa? Kau mau marah? Aku sengaja merusak wajah jalang itu, agar kau tidak menyukainya lagi," ucap Sherly, yang sedari tadi diam melihat keduanya. Matanya tampak memancarkan emosi. Sangat tidak suka, ketika perhatian laki-laki itu tertuju pada seorang jalang murahan. "Wanita sialan!" Dengan kekesalan memuncak, Jonathan menghampiri Sherly dan langsung menjambak keras rambut cantik wanita itu. Tak peduli, jika Sherly adalah wanita. Baginya, menyentuhnya miliknya sama saja dengan mencari masalah. Tentu saja, tindakan Jonathan membuat Sherly meringis sakit. Dia berusaha melepaskan diri. Hingga kemudian, tangan laki-laki itu malah berpindah mencengkeram rahang Sherly begitu kuat. "Aku sudah memperingatimu, jangan mengangguku lagi. Urusan kita, sudah selesai. Bukan hakmu, memutuskan aku akan tidur dengan siapa. Kau telah mengganggu milikku, jadi kau harus menerima akibatnya." Tanpa membiarkan Sherly sempat membantah atau bersuara, Jonathan segera menarik paksa wanita itu dari luar kamarnya. Membawanya ke suatu tempat yang Naya sama sekali tidak tahu. Dia hanya menatap keduanya dengan tatapan tak peduli. Bahkan jika Jonathan melakukan sesuatu pada wanita itu. Naya lebih memilih beranjak dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Memutar keran air hingga kini mengguyur tubuhnya. Dia terduduk dan menikmati air dingin itu sambil memejamkan mata. Membasahi tubuh telanjangnya dan membasuh darah yang mengalir di wajahnya. Perih. Air itu membuat lukanya menjadi perih, namun tentunya tak sebanding dengan hatinya kini sangat sakit, lebih dari apa pun dan tidak tahu, di mana letak tepatnya. Tak teraba, tak tersentuh dan tak kasat mata. Luka fisik memang bisa diobati dan bisa saja hilang, tapi tidak dengan psikis. Apakah ada harapan, jika suatu saat penderitaannya akan berakhir?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN