Naya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Menatap lelaki yang kini masih tertidur pulas. Tubuhnya bergerak mendekat dengan tangan yang kini menjulur, menyentuh rahang kokoh itu. Ada tatapan sedih sekaligus bingung yang terlihat. Sebelum dia mendaratkan kecupan ringan di sana. Memeluk tubuh lelaki itu dengan erat. Mengusik ketenangan Rey hingga matanya harus terbuka. "Naya," lirihnya serak. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya. Dia menahan leher wanita itu dan membawa Naya ke atas tubuhnya. Menyambar bibir yang tadi sempat terlepas. "Aku mencintaimu, Sayang." "Hmm, aku juga, Rey." Naya terpaku pada iris mata cokelat itu. Dia menelan ludahnya gugup, sebelum menyingkir dari sana. Rasa lapar dalam perutnya sungguh sangat mengganggu, ditambah perasaan tidak nyaman karena keringat

