"Lo benar-benar kacau, Lea."
Lea memutuskan untuk keluar dari kamar mandi karena jam pelajaran akan segera dimulai. Ia memasukkan obat penenang tersebut ke dalam kantung roknya kemudian berjalan menuju kelas.
Suasana koridor sudah mulai sepi, mungkin karena beberapa menit lagi jam pelajaran akan dimulai. Lea memasuki kelasnya dan kembali mendapatkan tatapan aneh dari teman-temannya. Dirinya segera duduk di bangkunya tanpa mempedulikan teman-temannya.
Tiba-tiba saja, Almi pindah dan duduk di samping Lea yang membuat gadis itu menatap risih ke arahnya.
"Lo dari mana tadi?" tanya Almi dan Lea menjawabnya dengan ketus. "Bukan urusan lo."
Almi hanya tersenyum, menatap manik mata sahabat kecilnya yang sekarang benar-benar berubah. Almi tahu dirinya salah, karena di masa lalu, dirinya juga ikut menyalahkan Lea dan menuduh Lea sebagai pembunuh.
"Kalau lo mau cerita, gue siap dengerin semua keluh kesah lo," ucap Almi sembari menepuk pundak Lea kemudian kembali ke tempat duduknya.
Lea tidak menggubris ucapan Almi, menurutnya itu semua hanya omong kosong.
Jam pelajaran berlanjut, terasa memuakkan bagi Lea. Dirinya sedari tadi hanya berpura-pura mendengarkan padahal tidak ada satu pun pelajaran yang masuk ke dalam otaknya. Saat jam istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar dari kelas kecuali Lea, Salsa, Azri, dan Niana.
Salsa dan kedua temannya kini menghampiri meja Lea yang membuat Lea menaikkan sebelah alisnya. "Mau apa, lo?" tanya Lea sinis.
"Santai aja, gue cuma mau bilang, jangan dekatin Zidan! Karena dia pacar gue," jawab Salsa yang membuat Lea tertawa remeh.
"Gue nggak doyan sama Zidan. Tenang aja," balas Lea kemudian pergi meninggalkan ketiga perempuan itu.
Lea memutuskan untuk pergi ke kantin. Jujur, ini adalah kali pertamanya ia menginjakkan kaki di kantin. Entah kenapa, di mana ada Lea, di situ pasti ada tatapan-tatapan aneh dari orang-orang.
Lea memilih untuk duduk di meja yang berada di pojok. Bertepatan dengan itu, Zidan, Irsyad, Beno, Romeo dan juga Januar menghampiri meja itu.
"Sendiri?" tanya Zidan namun Lea tidak menjawabnya.
Lea segera berdiri dan hendak pergi dari tempat itu namun Zidan menahan tangannya.
"Duduk!" perintahnya.
"Nggak usah pegang-pegang! Nanti pacar lo marah," ujar Lea dan Zidan mengernyitkan dahinya bingung.
"Siapa pacar gue?" tanya Zidan.
Lea menjawab singkat. "Salsa."
"Nggak usah dengerin omongan dia! Lo dari tadi pagi belum makan, kan? Sekarang lo duduk, terus makan!" seru Zidan dan Lea hanya menatap malas ke arah Zidan.
"Gue mau ke kelas. Nggak lapar," ujar Lea namun Zidan tetap melarangnya pergi ke kelas.
"Lo belum makan, Lea."
Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya Lea duduk bersama dengan Zidan dan keempat teman , salah satunya adalah Irsyad. Lea duduk di samping Zidan dan berhadapan dengan Irsyad yang kini sedang menatapnya.
"Nggak usah ngeliatin adik gue kaya gitu! Makan aja makanan lo!" sindir Zidan dan Irsyad segera fokus pada makanannya.
Lea sedari tadi hanya diam menikmati makanannya tanpa mempedulikan orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Gue duluan," pamitnya setelah makanannya habis.
Saat Lea berdiri, tiba-tiba sebotol obat penenang yang ia taruh di saku roknya terjatuh tepat di ujung sepatu Zidan. Pria itu segera mengambil botol obat tersebut namun segera direbut oleh Lea.
"Itu apaan?" selidik Zidan dan Lea hanya menggeleng kikuk. "Bukan apa-apa."
Zidan menatap Lea dengan tatapan mengintimidasi. Lea yang menyadari hal itu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kantin.
Saat Lea memasuki kelas, bel tanda berakhirnya waktu istirahat sudah berbunyi. Lea segera duduk di bangkunya dan menaruh obat tersebut di kolong mejanya.
*****
Bel tanda pulang sudah berbunyi, semua murid keluar dari kelas kecuali Lea. Ia menunggu sampai kelasnya sepi, kemudian mengambil obat penenang tersebut dan segera berlari keluar kelas.
Lea yang lupa menaruh obat tersebut di dalam tasnya, berhenti sejenak dan membuka tasnya. Namun, saat ingin menaruh dirinya ditabrak oleh seseorang yang tidak ia kenal sampai botol obat itu jatuh dan menggelinding, kemudian berhenti tepat di depan ujung sepatu Alfa. Pria itu segera mengambil botol obat tersebut, membacanya kemudian menghampiri diri Lea yang sekarang hanya bisa diam.
"Punya lo?" tanya Alfa dengan nada dingin.
"Bukan," jawab Lea sepenuhnya berbohong.
"Lo gunain obat penenang?" tanya Alfa lagi dengan nada yang mengintimidasi.
"Itu ... bukan punya gue," jawab Lea yang dibalas dengan suara tawa oleh Alfa.
"Lo kira gue bocah yang bisa lo tipu?" tanya Alfa, nada pria itu benar-benar menakutkan.
Alfa segera menarik lengan Lea dan membawa gadis itu menuju parkiran kemudian menyuruh gadis itu naik di jok belakang motornya. Sementara Lea hanya menurut, ia menaiki motor Alfa kemudian membiarkan Alfa membawa dirinya pergi karena dia sendiri sangat malas berada di rumah.
Ternyata Alfa membawa Lea ke rumahnya. Lea langsung terkejut saat Alfa membukakan pintu dan mempersilahkan Lea masuk.
Rumah Alfa sangat sepi karena kedua orang tuanya sudah meninggal dunia. Alfa menyuruh Lea untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamunya kemudian menyuruh Lea menunggunya karena dirinya ingin mengganti pakaian. Setelah Alfa selesai mengganti pakaian, Alfa mengajak Lea ke taman belakang rumahnya.
Lea hanya diam dan menurut. Ia sudah tau jika Alfa pasti akan menanyakan tentang obat penenang itu. Alfa menyuruh Lea duduk di bangku taman tersebut kemudian mulai membuka obrolan.
"Sejak kapan lo gunain itu?" tanya Alfa masih dengan nada dingin.
"Itu bukan punya gue," jawab Lea dan Alfa hanya tertawa, merasa dipermainkan.
"Sejak kapan lo gunain itu?" tanya Alfa lagi dengan nada yang mengintimidasi.
Lea hanya diam dan menunduk. Jika Lea dapat menjadi obat bius untuk banyak orang, maka Alfa selalu bisa menjadi obat bius untuk Lea.
"Sejak kapan, Lea?"
Sial, Lea sudah lemah jika Alfa memanggil namanya seperti itu.
"Dua minggu yang lalu," jawab Lea sembari menunduk.
"Kenapa lo pakai obat itu?" tanya Alfa lagi namun nadanya tidak sedingin di awal.
"Gue ...." Lea berfikir sejenak, bingung dengan apa yang harus ia jawab. "Gue ngalamin depresi ringan beberapa waktu lalu," lanjutnya dan Alfa hanya mengangguk.
"Lo tahu kan gue selalu ada kapanpun lo butuh?" tanya Alfa dengan nada lembut.
Alfa merangkul pundak Lea, menaruh kepala Lea di atas pundaknya dan mengusap lembut rambut Lea. Dirinya mengeluarkan obat penenang itu dari kantung celananya kemudian menunjukannya kepada Lea.
"Lo tau? Obat ini bisa bikin lo rusak," ujar Alfa sembari memutar-mutar botol obat tersebut.
"Lo nggak perlu obat penenang, Le. Gue akan jadi obat penenang buat lo, kapanpun lo butuh."
Alfa benar, Lea tidak butuh obat penenang. Karena obat penenang yang paling ampuh baginya hanya Alfa.