1.First Day of School

1043 Kata
Senin. Satu kata yang terdiri dari lima huruf. Hari yang sangat dibenci oleh semua pelajar, termasuk oleh gadis cantik berkulit putih bernama Aletta Azalea, atau akrab disapa Lea. Dirinya kini masih berbaring di tempat tidur padahal jarum jam sudah menuju ke angka enam lewat lima belas menit. "Lea, bangun! Kamu nggak sekolah?" teriak seorang wanita paruh baya bernama Selma yang kini sedang mengetuk pintu kamar Lea. Sementara sang empu yang dibangunkan hanya berdehem sesaat kemudian kembali tertidur.   Jam kini sudah menunjukkan pukul enam lewat empat puluh lima menit. Beberapa saat kemudian Lea terbangun dari tidurnya dan langsung terkejut melihat angka yang ditunjukkan oleh jarum jam.   "Mampus! Telat, gue!" Lea menepuk jidatnya kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu mandi dengan terburu-buru. Bagaimana bisa di hari pertamanya masuk sekolah ia malah bangun kesiangan?   Tak lama kemudian dirinya sudah siap dengan seragam sekolah serta sepatu yang sudah ia kenakan. Gadis itu segera keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah.   "Anak nakal kayak kamu itu, nggak pantas sekolah!" Fasha, pria paruh baya yang merupakan papanya Lea berucap sinis ke arahnya.   Lea membalikkan badannya. Menatap tajam manik mata papanya dan detik berikutnya menyiram kemeja kerja papanya itu dengan s**u yang berada di meja makan.   "Jangan kurang ajar ya, Aletta!" ucap Fasha, murka. Sementara Lea hanya menatap sinis ke arah papanya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke sekolah.   Dewi Fortuna memang sedang tidak berpihak kepadanya. Sedari tadi tidak ada angkutan umum yang lewat sementara jam sudah menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit. Padahal, ia bisa saja diantar oleh supirnya untuk berangkat ke sekolah. Namun, Lea tidak pernah sudi menaiki mobil papanya itu.   Karena tidak ada pilihan lain. Lea berjalan ke arah pangkalan ojek dan berangkat ke sekolah dengan menaiki ojek. "SMA Fortuna! Yang ngebut, Bang!" ujar Lea sembari menepuk pundak sang pengemudi.   Sedari tadi Lea tidak henti-hentinya mengoceh dan menyuruh sang pengendara untuk mengebut supaya sampai di sekolah lebih cepat. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Dirinya baru sampai di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup.   "Pak, bukain dong pintunya!" teriak Lea sambil menggoyang-goyangkan gerbang sekolahnya sehingga menimbulkan suara yang berisik.   "Waduh ... nggak bisa, Neng. Kalau telat ya nggak boleh masuk," jawab sang satpam.   "Yah, Pak. Masa hari pertama saya masuk sekolah saya gak dibolehin masuk? Lagian KBM juga belum dimulai." Lea berusaha bernegosiasi.   "Yaudah deh," ucap sang satpam yang membuat Lea tersenyum penuh kemenangan.   Lea segera masuk ke dalam sekolahnya dan berlari untuk mencari kelasnya. Kelas sepuluh IPS enam, kelas yang berada di lantai dua pojok. Dengan tenaga yang tersisah. Lea segera berlari menuju kelasnya dan sampai di depan pintu dengan nafas yang tersengal-sengal.   "Maaf, Bu. Saya telat," ucapnya yang kini menjadi pusat perhatian.   "Baru hari pertama saja sudah terlambat kamu. Silahkan masuk," ucap Bu Nani sang guru yang merupakan wali kelas sepuluh IPS enam.    Lea segera memasuki ruang kelasnya. Berbagai macam tatapan dilontarkan oleh teman sekelasnya kepada Lea. Entahlah, Lea tidak mau memikirkannya. Ia memilih untuk duduk di bangku pojok paling belakang sendirian karena hanya bangku itu yang tersisa.   "Kamu yang baru datang. Perkenalkan nama kamu!" seru Bu Nani dan Lea pun segera maju ke depan untuk memperkenalkan dirinya.   "Nama saya Aletta Azalea, biasa dipanggil Lea." Lea berbicara dengan ekspresi wajah yang datar.   "Hobi kamu apa?" tanya Bu Nani yang membuat Lea berpikir sejenak.   "Nggak tau, Bu," jawab Lea santai yang membuat Bu Nani geleng-geleng kepala.   "Sudah, duduk kamu!" Lea pun segera menuju ke tempat duduknya.   *****   Jam istirahat mungkin jam yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang. Akan tetapi itu tidak berlaku untuk Lea. Ia sangat membenci jam istirahat. Menurutnya, jam istirahat hanyalah jam penghambat pulang.    Dirinya memilih untuk memasang earphone di telinganya dan menyetel lagu dengan keras kemudian menelungkupkan badannya di atas meja dan tertidur. Banyak orang yang memperhatikan tingkah Lea. Cara dirinya berpakaian dan warna rambutnya yang sangat merah.   Tiba-tiba saja sebuah gumpalan kertas terjatuh tepat di atas kepalanya yang membuat dirinya terbangun dengan kepala yang cukup pusing.   "Siapa yang ngelempar?" tanya Lea dengan nada kesal.   Saat seseorang sedang menuju kepulasan untuk tertidur dan diganggu oleh orang lain itu bisa membuat kepala pusing dan juga selalu ingin marah.   Teman-teman di kelasnya tidak ada yang menjawab pertanyaan Lea membuat dirinya jadi naik darah. "Lo semua tuli atau nggak punya kuping?" tanyanya dengan suara yang lantang.   "Gue tanya siapa yang ngelempar kertas ini?"   Lagi, tidak ada yang bersuara membuat Lea rasanya ingin meninju semua orang yang berada di ruangan tersebut detik itu juga.   "Drama banget sih hidup lo! Tinggal buang aja kali, nggak usah teriak-teriak kayak di hutan," ucap perempuan berambut coklat sebahu. Katrina Salsabilla yang memiliki nama panggilan Salsa.   Lea yang tidak terima segera menghampiri gadis itu dan menarik rambut perempuan itu dengan sangat kencang hingga membuat Salsa meringis kesakitan.   "Sekali lagi lo nyolot sama gue, bukan cuma rambut lo yang gue tarik, tapi tangan lo juga bisa gue tarik sampai patah!" ucap Lea dengan nada peringatan yang membuat Salsa bergedik ngeri sembari menahan sakit di kepalanya.   Semua yang berada di kelas hanya bisa diam memperhatikan perkelahian itu. Banyak yang kagum dengan Lea yang cukup berani mencari masalah di hari pertama masuk sekolah. Tanpa diduga, Salsa menarik rambut Lea juga hingga terjadilah jambak-menjambak antar Lea dan juga Salsa yang disaksikan oleh teman-teman sekelasnya.   Seorang pria dengan almamater OSIS berusaha untuk melerai perkelahian tersebut.   "Udah, Woy!" teriaknya yang membuat kedua gadis tersebut berhenti dengan rambut yang berantakan.   "Kalian berdua ikut gue ke ruang OSIS!" ucap pria itu, kemudian pergi terlebih dahulu meninggalkan kelas.   Salsa berjalan sembari menabrak bahu Lea yang membuat Lea ingin meninju wanita itu detik ini juga.   Dengan malas Lea mengikuti sang OSIS untuk menuju ke ruang OSIS.   "Jadi apa yang bikin kalian berdua bertengkar di hari pertama masuk sekolah?" tanya sang OSIS dengan name tag bertuliskan "Alfa Bagaskara".   Kedua gadis yang diajukan pertanyaan itu hanya diam. Baik Lea maupun Salsa tidak ada yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Alfa.   "Ini pertama kalinya gue menangani kasus murid berantem di hari pertama masuk sekolah," ucap Alfa.   "Kalian mau saling minta maaf, atau mau dihukum?"   "Hukum," jawab Lea yang membuat Salsa menatap kaget ke arahnya.   "Kenapa milih dihukum?" tanya Alfa bingung.   "Gue nggak sudi minta maaf sama cewek sok jagoan yang nggak ada nyali kaya dia," jawab Lea.   "Ngaca dong, lo! Yang nggak ada nyali lo apa gue?" tanya Salsa dengan nada menantang.   "Yang merintih kesakitan pas gue jambak siapa?" tanya Lea tak kalah menantang.   "Kalian berdua kalau masih ribut terus gue bawa ke BK!" ancam Alfa yang membuat kedua gadis itu saling diam.   "Oke, hukumannya, kalian harus saling minta maaf," ucap Alfa yang membuat Lea mengumpat di tempatnya.   "Gila!" umpat Lea. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN