Ch.7 — Masa SMP | Nakal Tapi Berpikir

1467 Kata
Hari ini aku datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Gak tahu kenapa. Pengen aja, sih. Aku duduk di kursiku dengan tenang dan damai. Tidak memikirkan apapun dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Orang-orang di kelasku terdengar hening. Tidak ribut seperti biasanya. Kalau jam kosong seperti ini, biasanya mereka loncat-loncat seperti cacing kepanasan. Karena penasaran, aku pun melihat apa yang sedang mereka lakukan. Mereka terlihat duduk berkerumun dan membentuk beberapa kelompok yang terbagi menjadi 4 bagian. Entah apa yang sedang mereka lakukan. Pelajaran saja belum mulai, tapi mereka sudah sibuk seperti itu. Lebih baik aku tidur sebentar sembari menunggu bel masuk berbunyi. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Bukan hal yang penting, sih. Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran Matematika dan Pak Rahmat yang akan menjadi pengajarnya. Pak Rahmat merupakan seorang Guru yang mengajar Matematika sekaligus wali kelasku. Dan sepertinya sudah menjadi tradisi jika Wali Kelas akan memberikan tugas dan PR lebih banyak dari guru lainnya. Seperti hari-hari lainnya, setiap pelajaran Pak Rahmat, aku pasti kena omel karena suatu hal. Entah karena terlalu berisik. Entah karena selalu tidur di kelas saat pelajarannya. Ataupun karena tidak mengerjakan PR. Karena sedikit penasaran, aku pun bertanya kepada Rendy yang berada tidak jauh di sampingku. "Bro, sekarang ada PR gak?" "Gak ada." "Serius lu?" "Gak ada. Serius gue." "Pak Rahmat 'kan biasanya ngasih PR." "Gak ada. Hari ini kosong." "Yaudah kalau gitu." Lega rasanya mengetahui kalau hari ini tidak ada PR. Selang beberapa menit kemudian, Bel Masuk pun berbunyi. Tidak lewat dari satu menit sejak Bel Masuk berbunyi, Pak Rahmat sudah masuk ke dalam kelas. Semua orang langsung membereskan kursinya ke tempat semula. Nah, 'kan, heboh lu pada? Lagian ngapain sih pake berkerumun kaya gitu? Ngacak-ngacak kelas aja! Ngomong-ngomong, Pak Rahmat gerak cepat sekali hari ini. Ada apa, ya? Pak Rahmat mulai duduk di kursinya. Merapikan beberapa buku yang ia bawa. Kemudian menatap kami dari sisi kiri ke sisi kanan dari balik kacamata tebalnya. "Kumpulkan PR-nya sekarang! Akan langsung Bapak periksa. Nanti Bapak bagi satu orang satu soal untuk dikerjakan di depan." "Ha?" Aku tersentak kaget. Mataku terbelalak lebar. Aku langsung menoleh cepat pada Si Rendy. "Eh, k*****t!! Kata lu nggak ada PR. Kok Pak Rahmat nanyain PR?! "Lha ... yang mana gue tahu. Setahu gue sih gak ada PR." "Terus lu udah ngerjain belum?" "Ya belumlah. Kan gue juga nggak tahu kalo ada PR." "Terus tadi lu sama teman-teman duduk berkerumun lagi ngapain?" "Nggak tahu juga, sih. Yang gue lihat, sih, mereka lagi ngerjain soal Matematika. Karena gue gabut, ya gue ikut-ikutan aja." "Lha Si k*****t! Itu PR-nya kali." "Ya mana gue tahu, Top." Duh gimana, nih? Roman-romannya bakal kena marah lagi ini mah. "Coba Ketua Kelas di sini kumpulkan PR teman-temannya terus bawa ke sini!" ucap Pak Rahmat semakin membuatku panik dan keringat dingin. Waduh! Disuruh kumpulin sekarang lagi. Jojo pun mulai berdiri dan menghampiri setiap kursi untuk mengumpulkan PR kami. Jonathan Kusuma adalah Ketua Kelas 3-A. Dia anak yang pendiam dan tidak suka keributan. Walaupun begitu, dia anak yang cukup terkenal di kalangan para guru karena selalu masuk lima besar murid paling berprestasi di SMP Citra. Jojo pun menghampiri kursiku. "Bukunya, Top?" "Duh! Lupa! Bukunya gak dibawa, Jo," jawabku sembari menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal. "Oh, ya udah kalau gitu." Jojo pun hendak melangkah ke meja Pak Rahmat. "Eh, bentar, Jo! Nih, bawa aja buku yang ini." Aku menyodorkan buku yang ada di dalam tasku. Gak tahu buku apa. Jojo mengernyit dahi. "Tadi katanya gak dibawa?" "Dari pada gak ngumpulin sama sekali, mending ngumpulin buku lain aja, deh." "Oh, ya udah kalau gitu." Dia pun mengambil bukuku kemudian melangkah ke depan. Meletakkan semua buku di meja Pak Rahmat. Pak Rahmat mulai memeriksanya satu per satu. Beberapa menit kemudian, Pak Rahmat menatap kami semua satu per satu. "Ini buku siapa, ya?" tanya Pak Rahmat sembari mengangkat sebuah buku. Yang mana buku itu adalah milikku. Aku hanya diam. Tidak mengaku dan membiarkan kesunyian menguasai ruangan kelas. Pak Rahmat terheran-heran. "Kok gak ada yang angkat tangan? Ini buku siapa?!" Sekali lagi semua orang hanya terdiam. Saling menoleh pada satu sama lain. "Buka aja, Pak! Di dalam pasti ada namanya," ucap Rania memberi usul. "Tidak ada namanya. Sudah saya periksa. Kalau ada namanya, saya gak akan nanya atuh," balas Pak Rahmat. Aku hanya tertawa cekikikan di belakang. Memang sengaja aku nggak kasih nama di setiap buku milikku. Malas soalnya. "Kalau enggak salah, itu punya Topa, Pak," celetuk Jojo. Ah, Si Jojo pake ngomong lagi! Jadi ketahuan, 'kan itu buku punyaku. "Topa? Yang mana anaknya?" Semua orang menatap ke arahku. "Hei, kamu! Maju ke depan!" titah Pak Rahmat dengan nada ditinggikan. Haish! Kena lagi. Kena lagi. Dengan langkah ragu, aku pun maju ke depan. Menghampiri Pak Rahmat yang sedang menatapku tajam. "Mana PR-nya?" "Di situ nggak ada, Pak?" "Tidak ada! Saya udah cari di setiap lembar. Enggak ada PR. Buku ini masih kosong melompong." Oh iya, selain malas menulis nama, aku juga malas mencatat materi. Aku lebih suka mengandalkan ingatanku. "Oh ... Salah buku kali, Pak." "Ya mana saya tahu! Kan kamu yang ngerjain PR! Kamu juga yang punya buku ini! Mana PR kamu? Cepat kumpulkan!" "Anu, Pak. Itu ... bukunya nggak kebawa." BRAK!! Pak Rahmat langsung menggebrak meja menggunakan buku milikku yang sedikit digulung. Kamprett! Kaget banget, sumpah! Aku tersentak kaget. Bahkan jantungku hampir copot saking terkejutnya. "Saya gak mau tahu! Pokoknya, PR dari saya harus dikumpulin hari ini! Saya kasih kamu waktu lima menit untuk ambil buku kamu! Cepat ambil sekarang!" What? Lima menit? Dikira jarak dari sekolah ke rumahku cuma lima langkah? Jauh, Pak. Jauh! Aku memutar otak. "Eh, kayaknya saya lupa kerjain deh, Pak." "Kamu ini! Tadi katanya ketinggalan. Sekarang gak ngerjain. Gimana, sih? Kenapa tidak dikerjakan?" "Lupa, Pak. Hehe..." "Jangan ketawa! Masih muda udah pikun. Jadi sekarang gimana?! Semua orang ngumpulin PR-nya, cuma kamu doang yang gak ngumpulin. Niat sekolah gak, sih? Udah dihukum kemarin gak ada jera-jeranya. Sering bolos sekolah! PR gak dikerjain! Di kelas kerjaannya cuma tidur! Kamu kira sekolah ini rumah kamu apa? Bisa tidur seenaknya! Di sini tempat belajar! " Waduh! Kenapa nih, Pak Rahmat? Marah-marahnya kaya kerasukan setan. "Tapi, Pak, rumah juga bukan tempat buat belajar. Rumah itu tempat buat istirahat. Kalau di rumah kita juga belajar, ngapain kita sekolah?" jawabku tak mau kalah. Ucapanku masuk akal, dong? BRAK!! Sekali lagi Pak Rahmat menggebrak meja. Kali ini dengan telapak tangannya. Suaranya lebih keras dan menggelegar. "Kamu ini dibilangin kok ngelawan! Berani kamu ngelawan saya?! Keluar sekarang! Lari di lapangan olahraga sepuluh keliling!" Sekali lagi aku hanya mendengus kesal. Menatap sinis pada Pak Rahmat sesaat sebelum beranjak keluar dari kelas tanpa disuruh lagi. Aku pun sudah malas berada di sini. Aku berhenti sejenak di depan pintu untuk mengamati keadaan di luar kelas. "Anak malas kayak gitu jangan ditiru ya, Anak-Anak. Kalau bisa jangan berteman sama dia. Nanti kalian sama kaya dia. Pemalas!" Suara Pak Rahmat masih terdengar dari luar kelas. Aku hanya menghela napas kasar sembari menggeleng lesu. Apakah tidak mengerjakan PR sampai separah itu masalahnya? Sampai-sampai Pak Rahmat mengatakan bahwa aku tidak pantas menjadi teman bagi siapapun. What?! Yang benar saja! Tapi, aku tidak mau ambil hati ataupun dijadikan beban pikiran. Aku gak mau kalah pintar, apalagi kalah mental. Dari pada aku menjalani hukuman dari Pak Rahmat, lebih baik aku pergi ke Kantin Sekolah untuk menemui Kak Riska. Aku mau membicarakan tentang Turnamen kemarin sama dia. Dengan langkah semangat, aku pun bergegas pergi menuju Kantin Sekolah. *** "Kamu dikeluarin dari kelas gara-gara apa, Topa?" tanya Kak Riska. Seperti biasa, tatapan matanya cantik banget. "Gak ngerjain PR, Kak," jawabku santai. "Terus kenapa kamu gak ngerjain PR?" "Lupa." "Ya ampun, Topa! Terus, kamu tuh di rumah ngapain aja? Masa PR aja sampai lupa?" "Kan rumah tempat istirahat, Kak, bukan tempat belajar. Tempat belajar itu di sekolah. Aneh, 'kan? Sekolah ngelarang kita tidur di kelas, sedangkan mereka dengan seenaknya nyuruh kita buat belajar di rumah. Apa itu nggak egois?" Kak Riska hanya menghela napas kasar seraya menggeleng lesu. "Topa... Topa." Dia tidak bisa lagi menjawab perkataanku. "Oh iya, Kak, ngomong-ngomong, kemarin aku menang Turnamen Beladiri, lho." "Wah?! Masa sih? Gimana gimana?" Kak Riska terlihat antusias. Dia terlihat sangat penasaran. Aku pun bercerita sampai jam pelajaran Pak Rahmat berakhir. Aku tidak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Aku juga tidak peduli seberapa marah dia padaku setelah kejadian ini. Pak Rahmat pasti marah karena aku tidak menuruti perintahnya. Tapi, apa peduliku? Respect-ku seakan hilang pada Pak Rahmat. Aku tidak akan pernah mendengarkan kata-katanya lagi ataupun mengerjakan tugas dari dia. Namun, itu bukan berarti aku bertindak seenaknya dan berprilaku tidak sopan padanya. Tidak! Aku tidak akan melakukan itu. Aku akan tetap menjadi seorang murid yang tahu batas dalam bersikap kepada guru. Tapi, satu hal yang harus dia tahu, jika Pak Rahmat berpikir bisa mengubah sikapku hanya dengan hukuman-hukuman yang dia berikan. Aku tegaskan sekali lagi, itu tidak akan pernah terjadi!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN