Ch.4 — Masa SMP | Nakal III

1271 Kata
"Kita mau ngapain sih, Pak? Kok ke tengah lapang?" tanyaku pada Pak Rahmat yang berjalan di depanku. Tubuh Pak Rahmat yang gempal membuat langkahnya juga pendek. Kami berjalan sangat pelan. "Udah kamu diam! Jangan banyak tanya!" semburnya tiba—tiba. Buset! Serem banget. "Gak tahu malu! Mau jadi apa kamu! Bukannya sekolah yang bener malah kabur!" bentak Pak Rahmat. "Siapa yang kabur, Pak? Orang cuma manjat pagar doang," balasku beralasan. Mataku melebar seketika. Aku teringat sesuatu. Anjir! Tas gue masih di sana? Gimana ngambilnya? Pak Rahmat berhenti. Ia menoleh padaku dengan tatapan tajam. "Kamu masih berani ngomong?" lontarnya dengan nada datar. Aku mengernyit dahi. Lah ... Kan ini mulut aku. Kenapa juga aku gak berani ngomong? "Saya 'kan cuma ngelurusin, Pak. Bukan ngelawan itu mah." Gak ada yang perlu dilurusin sih. Aku emang berniat kabur tadi. Alasan aja. Cari aman. "Saya kaya pernah lihat muka kamu. Kelas berapa kamu?" tanya Pak Rahmat sembari memicing matanya menatapku. Lah ... Dia lupa, dong. Beneran pikun nih Pak Rahmat. "Kelas tiga, Pak," jawabku. "Tiga apa?" "Tiga doang, Pak. Gak lebih." "Maksud saya, 3-A, 3-B, A-C apa di mana?!" tanya Pak Rahmat sedikit ngegas. "Oh ... 3A, Pak." Aku pun sampai di tengah lapangan sekolah. Lapangan upacara tepatnya. SMP Citra termasuk sekolah elit, jadi fasilitasnya cukup lengkap. Lapangan untuk upacara dan lapangan olahraga itu beda. "Kamu tunggu di sini!" titah Pak Rahmat tegas. "Mau ngapain, Pak?" tanyaku penasaran. "Jangan banyak nanya! Tunggu aja!" Marah-marah mulu nih orang tua. "Tapi, 'kan panas, Pak." Bayangin aja, ini udah masuk jam siang. Matahari lagi terik-teriknya. Bisa gosong aku kalau kelamaan diam di sini. "Ini hukuman buat kamu." Setelah mengatakan itu, Pak Rahmat pergi dari hadapanku. Aku terus memandangi kepergiannya. Dia masuk ke Ruang Guru. Aku mengedarkan pandangan. Melirik kanan kiri. Gak ada siapa-siapa. Sepi. Semua orang sedang belajar di kelas. "Pak Rahmat ngapain nyuruh gue ke sini, sih? Gak jelas banget. Neduh dulu boleh kali ya." Aku kembali melihat ke arah Ruang Guru. Tidak ada tanda-tanda Pak Rahmat akan keluar. Sepertinya aman kalau neduh sebentar. Aku pun melangkah ke pinggir lapangan. Duduk di bagian yang tidak tersinari matahari. Gila aja kalau harus terus berjemur di sini. Bisa gosong aku nanti. "CEK! CEK! EKHEM! PERHATIAN UNTUK SELURUH KELAS." Suara menggema terdengar di setiap speaker yang ada di setiap pojok sekolah. "Kaya suara Pak Rahmat tuh. Ada pemberitahuan apa, ya?" Aku mencoba mendengarkan lebih jelas. "SAYA GAK MAU NAMA BAIK SEKOLAH INI TERCORENG KARENA SISWA NAKAL! JADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS DAN MEMBERIKAN HUKUMAN BERAT BAGI SIAPA SAJA YANG MENCOBA MELANGGAR DAN BERBUAT SEENAKNYA." "Tumben banget ada pengumuman kaya gitu. Biasanya enggak," gumamku. "SEBAGAI CONTOH, KALIAN BISA LIHAT DI TENGAH LAPANG UPACARA, ADA SATU SISWA YANG MENCOBA KABUR DARI SEKOLAH." Aku tersentak kaget. Mataku melebar seketika. Itu maksudnya aku? "JIKA KALIAN MELANGGAR, KALIAN AKAN MENDAPAT HUKUMAN BERAT. BUKAN SEJAM ATAU DUA JAM, TAPI SEHARIAN! DAN JIKA PELANGGARANNYA TERUS BERULANG, PIHAK SEKOLAH AKAN MEMANGGIL ORANG TUA KALIAN!" Anjir! Manggil orang tua? Wah, Pak Rahmat gak asik banget orangnya. Nakal wajar dong, Pak. "HANYA ITU DARI SAYA. SEKIAN TERIMA KASIH." Aku menelan ludahku. Mataku menatap setiap pintu kelas yang mengelilingi lapangan upacara dengan perasaan gelisah. Roman—romannya aku bakal jadi bahan tertawaan, nih. Semoga aja mereka gak keluar buat nontonin aku. Tiba-tiba, semua pintu kelas serentak terbuka. Semua siswa dari setiap kelas berhamburan keluar dan berdiri di balkon depan kelas. Semuanya! Parah sih, ini. Sumpah! Bisa mandi keringat dingin aku kalau begini. Mereka semua melihat ke arahku. Ratusan pasang mata tertuju padaku. Aku membalas tatapan mereka satu per satu. Mereka terlalu banyak. Aku tidak bisa menang jika beradu mata dengan mereka. "Woi! Lu ngapain di situ? Hahaha ... Ke tengah dong!" teriak seseorang dari balkon lantai tiga. Aku mencari orangnya. Berani banget dia ngomong kaya gitu! "Anak kelas tiga bukannya jadi contoh! Malah malu-maluin. Huu ..." Suara yang sama terdengar lagi. Siapa sih orangnya? Bikin malu saja! Aku memutar badan dengan pandangan menatap setiap orang. Aku masih mencari siapa pemilik suara tadi. "Lu cari apaan, t***l? Gue di sini!" teriak orang itu lagi. Pandanganku berhenti pada seorang anak yang berdiri di antara kerumunan siswa di balkon lantai tiga. Tepat di depan kelas 3-D. Anak songong yang selalu cari gara-gara denganku. Azel namanya. "Berisik lu! Turun ke sini kalo berani lu!" teriakku menantang anak itu. "Ngapain gue harus turun ke situ. Gue kan gak di hukum kaya elu! Senior b****k yang gak bisa ngasih contoh bener. Hahaha ...." Ucapannya benar-benar bikin geram sih! Bikin darah naik aja tuh orang! Aku gak bisa terus membalas ucapannya. Dia di atas sana bersama ratusan orang dan aku di bawah seorang diri. Aku bakal kalah kalau terus ngeladenin dia. Yang ada aku tambah malu. "Yang kaya gitu jangan dicontoh ya adek-adek." Terdengar lagi suara seseorang. Kali ini suara perempuan yang terdengar tidak asing. Masih dari lantai tiga. Mataku melebar saat mengetahui siapa yang bicara. "Cewek itu?" Ternyata dia cewek yang waktu itu nampar aku. Kalau gak salah namanya Putri. "Di sekolah kita masih banyak kok senior yang bisa dijadiin panutan. Masa anak SMP udah senakal itu. Kalian gak boleh kaya gitu ya," ucapnya yang ditujukan pada adik kelas yang berada di balkon lantai dua dan lantai satu. Aku hanya mendengus kesal. Menatapnya dengan tajam. Awas lu! Dendamku sama perempuan itu semakin besar. Aku memindahkan pandanganku pada anak bernama Azel. Lain kali gue abisin lu! Anak bernama lengkap Azazel Pratama, biasa dipanggil Azel oleh teman-temannya adalah musuh utamaku di SMP Citra. Dari kelas satu sampai kelas tiga kami selalu terlibat dalam percekcokan. Dan beberapa kali sempat berkelahi. Hasilnya selalu seri. Ngomong-ngomong, dia senior di eskul Kick Boxing. Kemampuan bela dirinya lumayan keren. Tapi, aku gak takut sama dia. *** "Elu sih pake acara kabur segala. Malu, 'kan lu?" kata Irvan menasehati. Kami bertiga sudah berada di tempat tongkrongan. "Kan udah gue bilang nanggung, sebentar lagi pulang. Masih nekat aja kabur. Lewat pagar belakang pula. Lu mah ada-ada aja, Top." Reza menimpali. "Berisik lu pada! Pak Rahmat gak asik banget orangnya. Masa ngasih hukuman kaya begitu! Itu mah sama aja ngehancurin mental. Untung mental gue kuat." "Iya bener sih. Menurut gue lebih baik dihukum berat sekalian dari pada dipermaluin kaya gitu. Harga diri bro harga diri!" ujar Irvan. "Ya mungkin tuh orang tua mau ngedidik lu biar jera, Top. Biar berubah jadi baik mungkin." Reza melanjutkan. Aku mengernyit dahi mendengarnya. "Ha? Ngelawak lu? Mana ada ngedidik kaya gitu, Anjir! Aneh-aneh aja elu mah. Bukannya jera, gue malah makin pingin ngelunjak." "Mending jangan deh. Jangan cari masalah sama Pak Rahmat. Dia 'kan bentar lagi mau pensiun tuh. Kayanya dia manfaatin sisa waktunya buat ngehukum anak-anak bandel kaya lu," ucap Irvan. "Dih! Lu juga termasuk kali!" balasku. "Hehe ... Tapi, gue gak separah elu, Top." "Pokoknya gue gak terima dipermaluin kaya gitu. Gue gak akan berubah sampai kapanpun! Gue akan tetap pertahanin sifat gue ini. Hahaha ..." "Kacau sih lu. Bebal amat!" celetuk Reza. "Bodo amat! Sekarang gue bakal lebih sering bolos! Lebih sering ngerokok di sekolah. Hahaha ... Asik kayanya." Aku membulatkan tekad untuk tetap nakal. "Jangan ajak-ajak gue, Anjir! Gue cukup segini aja nakalnya. Takut dipanggil orang tua gue. Paling parah kalau gue sampai dikeluarin, sih." Irvan tidak mau masuk terlalu jauh dalam kenakalan. "Cemen lu! Masa muda gini harus lu manfaatin, Cuy! Kan ada kata—katanya tuh, 'Nakal boleh asal jangan b**o'," ucapku sok pinter. "Emang lu pinter?" celetuk Reza. "Ya enggak juga sih." "Berarti elu mah nakal iya b**o juga iya. Hahaha ..." Anjir! Berani banget si Irvan ngejek aku. "Kamprett lu!" Langsung ku jitak kepala Irvan cukup keras saking kesalnya. "Pokoknya lihat aja! Gak ada seorang pun yang bisa ngerubah sifat gue ini!" tegasku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN