Dengan wajah tertunduk lesu, Kak Riska bertanya lagi dengan nada lirih. "Emang gak bisa nganterin Kakak dulu, ya?" Pertanyaan itu kembali terlontar dari bibirnya setelah beberapa kali aku mengatakan jawaban yang sama berulang kali. "Maaf, Kak. Tapi, aku beneran gak bisa," jawabku tidak bisa memenuhi permintaannya. "Habis ini aku mau langsung ke Aula Olahraga dulu soalnya. Jadi, gak bisa pulang dulu. Paling nanti habis dari sana aku baru pulang," lanjutku menjelaskan. Kak Riska mulai mengangkat kepalanya. Menoleh ke arahku dengan sorot mata kecewa. Aku bisa melihatnya. Dia terus menatapku dengan tatapan lesunya. Lalu tersenyum tipis padaku. Senyuman yang jelas tidak menggambarkan rasa senang, melainkan kekecewaan. Aku sedikit dilema. Rasa kasihan dan rasa tidak peduli muncul bers

