Ch.2 — Masa SMP | Nakal

1364 Kata
Hari sudah sore dan sekolah sudah bubar. Aku dan kedua temanku, Irvan dan Reza sedang berdiam di parkiran sekolah. Duduk di atas motor kami masing-masing dengan maksud menuruti keinginan aneh Reza. Katanya dia ingin berkenalan dengan murid baru kelas satu yang cantik kaya bidadari. Itu katanya. Lebay memang. Sekitar jam 4 sore, orang yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Pantatku sudah panas rasanya. Aku melihat Irvan sudah menguap berkali-kali. Kasihan dia. Baterai matanya sudah lemah. Sebenarnya siapa yang sedang kita tunggu ini? Astaga! Membosankan sekali. Aku menoleh ke arah Reza yang masih terlihat segar. Dia masih semangat menunggu murid baru itu. "Eh, Za! Mana ceweknya, Anjir! Kok lama banget?" tanyaku kesal. Aku sudah tidak tahan lagi jika harus menunggu. Reza menoleh. "Sabar, Top! Paling bentar lagi dia muncu," alasannya. "Bentar lagi—bentar lagi pala lu! Dari tadi ditungguin gak muncul-muncul! Kita nungguin orang bukan sih?" "Ya orang lah! Masa setan!" jawab Reza santai. "Kok gak keliatan dari tadi?" "Ya sabar! Kan namanya juga nunggu. Gak sabaran banget elah." "Gue nungguin elu, Anjir! Pulang yok! Besok aja nyari ceweknya," ajakku. "Ide bagus. Yok pulang yok!" Irvan tiba-tiba menyahut saat aku bilang pulang. Reza menatap sini pada Irvan. "Etdah. Nyambung aja nih anak." "Ngantuk gua, Za. Pulang yok!" kata Irvan. "Iya nih. Gua juga laper banget. Perut gue keroncongan dari tadi." Aku melanjutkan. "Kagak-kagak! Masa lu berdua mau ninggalin gue! Gak solid banget!" larang Reza. Dia gak mau ditinggalin. "Elu yang gak solid, k*****t!" bentakku. "Kita berdua mau pulang. Elu sendiri mau tetep di sini. Aneh banget lu." "Yaelah ... Tunggu sebentar lagi napa, Top. Masa lu gak kasian sama gue." "Kagak! Gue kagak kasian. Udah ah! Gue mau balik!" Keputusanku udah bulat. Mau pulang sekarang! "Gue juga deh. Gue ngantuk banget nih," Reza juga ikut pulang. "Anjir! Jadi, gue ditinggal nih?" Reza memasang wajah melasnya. Jijik lihatnya juga. "Kalo gak mau ditinggal ya ayo pulang, Cuy! Ribet amat!" ucapku. "Gue pengen kenalan dulu woi!" Reza tetap bersikeras ingin menunggu. " "Sama siapa, Anjir? Setan? Udah pulang aja, yok!" ajakku sekali lagi. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Ramai. Dan juga lumayan berisik. Kerumunan orang-orang mulai terlihat. "Itu bukan, Za?" tanyaku sembari memandangi kedatangan mereka. "Iya, kayanya," jawab Reza ragu. Aku mengernyitkan kening. "Kok kayanya? Yang bener, Anjir! Yang mana yang mau lu ajak kenalan?" "Bentar gue cari dulu. Rada pusing nyarinya." "Cepetan! Kalo lama gue tinggal nih!" ancamku. "Nah ada, Top. Tuh-tuh!" Reza menunjuk ke arah kerumunan itu. Tapi, aku tidak tahu siapa yang dia maksud. "Yaudah samperin sono! Katanya mau kenalan!" Lebih cepat selesai lebih bagus. Reza pun turun dari motornya dan berjalan ke arah kerumunan orang yang sedang berjalan menuju Gerbang Sekolah. Dugaanku mereka semua anggota Extrakulikuler Kesenian. Sepertinya ada perekrutan anggota baru. Pasti mereka baru selesai kumpul-kumpul. Merepotkan. Jam segini baru pulang? Mereka sekolah atau nunggu kucing bertelur? Lama banget! Aku melihat Reza menghentikan satu orang di sana. Perempuan. Cantik dan berkulit putih. Tapi, biasa aja sih menurutku. Gak ada yang istimewa. Dari tempatku duduk, aku bisa mendengar suara Reza sedang mengobrol dengan perempuan itu. "Baru pulang ya, Dek?" tanyanya basa-basi. Roman-romannya bakal lama nih. "I—Iya, Kak. Hehe ...." "Oh gitu. Abis ngapain emang? Kok telat?" "Oh itu ... Abis ngadain perkumpulan anggota eskul kesenian, Kak" "Oh gitu. Boleh kenalan gak?" "Boleh." Reza terlihat menyodorkan tangannya. "Aku Reza. Panggil aja Kak Reza. Nama kamu siapa?" "Aku Nurul, Kak." Dia meraih tangan Reza. "Nurul ya. Nurul pulang sama siapa?" "WOI CEPET WOI! UDAH SORE NIH!" teriakku pada Reza. Kalau begini terus, kapan aku pulangnya. Reza melirik sinis ke arahku. "Sabar, k*****t!" balasnya. "Eh, maaf, itu temen aku, orangnya emang suka gak jelas gitu sih." "Dih!" Benar-benar teman tidak tahu diri. "Oh. Hehe .... Tadi kakak nanya apa?" "Mm ... Nurul pulang sama siapa?" "Sendirian, Kak." "Bawa motor sendiri?" "Enggak. Aku naik angkot, Kak." "Oh gitu." Reza terdiam. Dia mulai terlihat grogi. Nah, rasain lu, kehabisan topik, 'kan? Canggung-canggung dah lu. "Mm ... Kak Reza, maaf ya aku pulang duluan. Lagi buru-buru soalnya. Aku takut ketinggalan angkot. Kalo kemaleman bisa dimarahin ibu." "Ka—Kalo gitu, bareng sama aku aja. Gimana? Rumah kamu di mana?" Boleh juga si Reza. Langsung sikat! "Lumayan jauh sih, Kak. Emang gak apa-apa?" "Gak apa-apa. Santai aja. Dari pada kamu pulang telat, kan jadi berabe nantinya. Mau, 'kan?" "Beneran boleh, Kak?" "Iya udah. Ayo bareng aja. Akhirnya mangsa pun termakan umpannya. Buaya darat berhasil menggaet targetnya. Reza pun pulang bersama perempuan bernama Nurul itu. *** Sehabis mandi, aku pun rebahan di kasur sembari memainkan HP-ku. Tiba-tiba Irvan menelpon. "Oii? Apa, Cuy?" "Nongkrong, yok?" "Di mana?" "Tempat biasa." "Gass!" "Sip. Gue tunggu." "Eh. Si k*****t ajak sekalian!" "Dia udah di sini. Nih orangnya." "Misi sukses, Bos!" seru Reza dari sana. "Misi sukses pala lu. Udah dulu. Gue mau otewe." *** Aku pun sampai di tempat nongkrong. Kedai kopi tempat biasa kami kumpul. Reza dan Irvan sedang menghadap meja dengan dua gelas kopi di atasnya. "Cuma dua gelas nih? Punya gue mana?" "Lu emang suka kopi, Top? Kan kagak? Pesen aja sendiri. Takut salah kalo gue yang pesenin," kata Irvan. Aku pun memesan satu gelas soda s**u pada pelayan. Kemudian duduk menghadap mereka. "Hah ... Dingin banget, Anjir!" ucapku sembari melingkarkan tangan ke tubuhku. "Perasaan kagak hujan," celetuk Irvan. "Bukan. Gua abis mandi tadi. Kena angin malem langsung menggigil." "Lebay lu ah," ejek Irvan yang sedang fokus memainkan HP-nya sambil senyum-senyum gak jelas. Minuman yang aku pesan sudah selesai di buat. Aku menyeruputnya lewat sedotan. "Ah ...." Segar sekali. "Eh, muka lu ada yang sakit gak, Top?" tanya Irvan tiba-tiba. "Kagak. Kenapa muka gue harus sakit?" "Bukannya tadi siang lu berantem sama si ... Mm ... Siapa yang tadi tuh?" "Oh Si Itu?" Aku juga lupa namanya siapa. Tapi bodo amatlah. "Enggak. Muka gue aman aja." "Gak kena pukul?" "Kena. Cuman pelan. Pukulannya kaya banci." "Serius lu? Hahaha ...." Irvan tertawa terbahak-bahak. "Iya. Serius gue. Dia cuma banyak ngomong. Berantem kagak bisa." "Hahaha ... Banyak gaya doang ternyata." "Biasalah. Banyak orang kaya gitu mah. Makanya gue bilang kemaren jangan ngeladenin dia. Percuma. Kagak ada apa-apanya." "Eh besok bolos sekolah yok?" ajak Irvan. Aku mengernyit dahi. "Demen amat lu bolos? Mau kemana?" lontarku. "Jalan-jalan kita. Sunmori-sunmori." "Sunmori-sunmori pala lu! Gak ah! Sayang bensin gue." Aku menolak ajakan Irvan karena sedang kritis keuangan. "Gampang masalah itu mah," katanya sok-sokan. "Elu beliin?" "Kagak lah," jawabnya enteng. "Dih! Terus?" "Elu sama gue. Boncengan kita." "Yaudah. Besok pagi gue bareng sama elu. Jemput aja." "Beres." "Eh ada rokok gak? Gue minta dong. Pahit nih!" ucapku. *** Beberapa Hari Kemudian Saat jam istirahat tiba. Aku dan kedua temanku sedang berkumpul di Kantin Sekolah. "Elu serius mau ngerokok di belakang sekolah, Top?" tanya Irvan. "Iya. Lu mau ikut kagak, Van?" "Kalo ketahuan gimana?" "Ck." Aku berdecak lidah. "Yaudah kalo lu takut gak usah ikut." Aku pun pergi ke belakang sekolah sendiri dengan beberapa batang rokok di saku celanaku. Ku nyalakan satu rokok lalu kuhisap perlahan. Aku hembuskan asap rokoknya. "Hah ... Enak banget." Saat sedang asyik-asyiknya. Menikmati inci demi inci batang rokokku. Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat. Perasaanku udah gak enak, sih. Asli. "HEI! NGAPAIN KAMU?!" teriak seseorang tiba-tiba dari arah belakang. Aku terkejut setengah mati. Aku langsung menoleh ke belakang. Anjir, ketahuan dong! "E—Eh, Pak Rizki ...." Aku tersenyum kikuk padanya. Pak Rizki adalah Guru BP di SMP Citra. Dia tidak galak, cuma tegas saja. Tapi semua siswa takut sama dia. Kenapa? Kalau ngasih hukuman gak tanggung-tanggung, woi! "Topa, kamu ngerokok lagi?" tanyanya. Sudah tahu kok nanya. Aneh! "Enggak kok, Pak. Saya lagi ngadem di sini. Di kelas panas banget." "Alasan yang gak masuk akal seperti biasanya. Ayo ikut saya ke ruang BP," ucapnya. "Sekarang, Pak?" tanyaku. "Jangan becanda!" Pak Rizki memasang tatapan malas. "Lah ... Siapa yang becanda? Saya nanya, Pak." "Ya iya sekarang. Pake nanya lagi." "Dih. Pak Rizki marah-marah mulu. Cepet tua lho nanti, Pak." "Bukan urusan kamu. Cepet ke sini!" "Bentar, Pak. Rokoknya belum habis." Aku kembali menghisap rokokku, di depan Pak Rizki. Sebenarnya, ini bukan kali pertama sih. Kejadian seperti ini sudah sering. Pak Rizki pun sudah tidak kaget kalau itu aku. "HEH! MASIH SEMPET-SEMPETNYA KAMU NGEROKOK, YA!" "Hahaha ...." Aku hanya ketawa cekikikan sembari berjalan menghampirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN