"Eh? Aku mimisan?" Aku pun mencoba menyeka area di bawah hidung dengan punggung tanganku dan rupanya benar, cairan merah kental mencoret kulit tanganku. Bagaimana hidungku bisa mimisan seperti ini? Aneh sekali. Harusnya 'kan yang keluar ingus? Kenapa malah darah? Apa ini karena darahku yang terlalu mendidih tadi? "Sebentar, ya." Walikelas merogoh tasnya dan mengeluarkan selembar tisu. "Kakak bantu bersihin, ya," ucap Kak Mita seraya menyentuh pipi sebelah kananku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya mulai mengusap area dibawah lubang hidungku dengan lembut. Seluruh tubuhku bergetar hebat. Darah kembali mendesir dan mengalir ke puncak kepalaku. Jika begini, bisa-bisa aku mimisan lagi. Bahkan, darahnya bukan mengucur lagi, tapi langsung muncrat. Aku segera meraih tisu yang s

