BAB 8 - yes I do

2577 Kata
Juna sudah membulatkan tekad untuk menikahi Nadine apa pun risikonya. Laki-laki itu mengabaikan semua norma-norma yang berlaku di sekitarnya, hal ini benar-benar membuat Chandra, sahabatnya tidak habis mengerti. Dia benar-benar heran, kenapa Juna malah mengajak Nadine menikah? Chandra menentang pernikahan ini. "Kamu sadar nggak, sih dengan apa yang kamu lakukan?" tanya Chandra heran saat menemui sahabatnya di kamar hotel yang mereka pesan. "Aku seribu persen sadar dan aku waras, Ndra! Aku akan menikahi Nadine!" ujar Juna geram sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. "Tapi apa kamu lupa dengan statusmu yang sudah nggak single lagi? Kamu jangan egois, Jun! Gadis itu nggak tahu apa-apa!" bentak Chandra lantang sambil duduk di sebelah laki-laki itu. "Apa? Selama ini aku egois?” sela Juna cepat, “coba bilang ke aku, Ndra. Apa pernah aku egois selama seumur hidupku?” sindirnya keras, “waktu aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku, apa aku menolak? Nggak, ‘kan? Waktu Felicia minta nikah sama aku dengan caranya yang pura-pura bunuh diri, apa aku menghindar?" Chandra hanya bisa terdiam karena semua yang dikatakan oleh Juna, benar adanya. "Selama ini aku telah berkorban cukup banyak, Man. Dan kali ini aku menemukan seorang perempuan yang sangat aku cintai, aku selalu merasa bahagia bila bersamanya. Aku nggak mau kehilangan dia! Jadi aku harus mengikatnya dengan tali pernikahan ini, hanya ini satu-satunya jalan yang bisa aku lakukan agar dia menjadi milikku!" "Tapi, Jun ...." Juna menggeleng cepat sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan wajah sahabatnya itu. Chandra hanya bisa terdiam kembali sambil menatap ke arah sahabatnya ini dengan ekspresi wajahnya yang sedih. "Tidak ada kata tapi, Chandra! Kalau kamu ingin lihat aku bahagia, tolong biarkan aku menikah. Aku mencintai dia dan dia mencintai aku. Kami berdua saling mencintai satu sama lain." "Tapi paling nggak, mintalah ijin sama Felicia ...." Juna tertawa kecil dan tersenyum sinis, mendengar ucapan sahabatnya. "Apa kamu bisa menjamin, Felicia bakal mengijinkan aku untuk menikah lagi?” sahut Juna sinis, “setahuku dia itu perempuan yang paling egois yang ada di dunia ini. Dia pasti nggak akan mengijinkan aku dekat dengan perempuan mana pun, Ndra!" Laki-laki itu menghela nafas dalam. "Aku mohon, Ndra ... soal Felicia jangan kamu bahas dulu di sini. Biar itu jadi PR-ku. Suatu saat aku pasti akan menceritakan semuanya ke Nadine, aku pasti akan terus terang sama dia." "Lalu sampai kapan? Sampai kapan kamu akan terus terang sama gadis itu? Sampai dia tahu semuanya?” Chandra balik menyindir Juna. “Apa kamu nggak mikir itu? Bagaimana kalau nanti Nadine tahu dengan sendirinya tentang statusmu yang telah beristri, apa nggak semakin runyam? Apa kamu nggak kasihan sama dia?" Laki-laki itu berusaha untuk membuka pikiran Juna agar dia mau terus terang dan menceritakan ke Nadine soal status yang sebenarnya. Namun, lagi-lagi semua itu diabaikan oleh Juna. "Aku mohon, Man. Biarkan aku bahagia. Paling nggak biarkan aku merasakan sebuah pernikahan yang bahagia dengan istriku. Di mana kami berdua saling mencintai satu sama lain. Kamu bisa, 'kan?" pinta Juna penuh harap. Chandra jadi speechless dan tidak tahu harus berkata apalagi karena memang diakuinya kalau selama hampir dua tahun ini, Juna tidak pernah merasakan kebahagiaan sebuah pernikahan bersama Felicia. Rasanya tidak adil juga bagi laki-laki itu, kalau usahanya untuk merasakan manisnya maghligai sebuah pernikahan dihalangi oleh sahabatnya sendiri. Juna juga berhak untuk itu. *** Satu hari setelah tour keliling lima kota berakhir, tanpa pikir panjang lagi, Nadine akhirnya mau menerima lamaran Juna. Pernikahan mereka berlangsung secara sederhana di kota kelahiran gadis itu yang kebetulan tidak jauh dari kota Yogyakarta. Pernikahan mereka dilangsungkan secara khidmat di sebuah Masjid atau bisa dikatakan sebagai sebuah pernikahan siri dengan wali nikah salah satu paman Nadine dari pihak almarhum sang ayah. Nadine yang sedang dimabuk asmara, entah kenapa mau saja diajak Juna menikah secara siri. Pernikahan mereka dihadiri oleh Widya—ibu kandung Nadine yang telah lama menjadi single parent, karena sang ayah telah meninggal dunia—beserta seorang adik perempuan yang bernama Jasmine dan beberapa keluarga dekat. Melinda, sahabat Nadine dan beberapa teman musisi yang lain juga hadir di sana, sedangkan dari pihak Juna, hanya Chandra dan beberapa pekerja proyek Lombok yang menjadi saksinya. "Nad, kenapa orang tua Juna nggak hadir di sini? Apa mereka nggak merestui hubungan kalian berdua?" tanya Widya cemas, ketika putrinya tiba-tiba saja pulang ke rumah dan mengabarkan kalau dirinya akan segera menikah. "Orang tua Mas Juna itu ada di Jakarta, Bu. Nanti kalau kami ngadain resepsi di Jakarta, baru orang tua Mas Juna hadir, sekalian mencatatkan pernikahan kami ini di KUA. Sudah, Ibu nggak usah cemas, saat ini soalnya Mas Juna harus konsentrasi sama pekerjaannya yang di Lombok, jadi nggak ada waktu untuk ngurus." "Tapi apa nggak terlalu terburu-buru sih, Nad ...?" "Ibu nggak suka aku menikah? Cepat atau lambat aku pasti menikah, 'kan? Sudahlah Bu. Yang pasti aku sangat mencintai dia dan dia juga mencintai aku, itu sudah cukup! Doain aku ya, Bu. Restuilah anakmu ini, pleasee …." Nadine benar-benar sudah terbuai oleh rayuan Juna, semua nasihat ibu kandungnya hanya masuk ke telinga kiri dan keluar telinga kanan. Dia benar-benar tidak peduli, dirinya hanya ingin menikah dengan Juna. Yang penting sah, urusan yang lain belakangan saja. Tak lama kemudian setelah acara ijab kabul pernikahan Juna dan Nadine selesai dan setelah beramah tamah sebentar dengan keluarga Nadine. Malam harinya, mereka berdua segera terbang ke Lombok, sedangkan Melinda dan teman-temannya pulang ke Jakarta. Setibanya di Lombok, Juna membawa istri barunya ke sebuah resort yang disewa. Lokasi resort itu paling dekat dengan area pertambangan, tempat Juna harus bekerja. Nadine benar-benar merasa nyaman begitu memasuki resort yang memiliki dua lantai dengan konsep studio. Ornamennya sendiri banyak menggunakan kayu, sehingga tampak asri dan alami. Belum lagi pemandangan di sekitar resort juga terlihat sangat indah dan mempesona, suara dentuman ombak yang memecah karang, terdengar seperti harmoni not-not balok yang mengalunkan sebuah lagu yang merdu. Namun, saat itu hari sudah larut malam, pasangan pengantin baru ini benar-benar merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh plus kegiatan mereka selama beberapa hari ini. Malam itu yang seharusnya menjadi malam pertama buat mereka berdua, dihabiskan oleh keduanya dengan tidur pulas. Keesokan hari, Juna yang terbangun terlebih dulu, segera tersenyum saat melihat Nadine yang saat ini sudah menjadi istrinya yang sah. Perempuan itu masih tertidur pulas di sampingnya. Juna sangat bahagia, belum pernah dia merasakan kebahagiaan seperti ini seumur hidup. Selama ini hidupnya selalu didikte oleh orang lain, terutama keluarga besar. Baru kali ini, laki-laki itu memutuskan sendiri apa yang ingin dilakukannya, yaitu menikahi Nadine tanpa sepengetahuan keluarga besar Suryodjatmiko. Juna tidak ingin ambil pusing kalau nanti keluarga besarnya marah dan kecewa padanya. Pagi itu setelah selesai mandi, disibaknya sedikit tirai yang menutupi jendela kaca besar resort yang langsung tembus menghadap ke pantai. Suara dentuman ombak yang memecah kesunyian, menjadi sebuah lagu penghantar tidur yang menyejukan. Tak terasa sinar matahari mulai tembus ke dalam jendela dan menghujam tepat ke mata Nadine yang masih terpejam. Juna tersenyum kecil menatap paras cantik sang istri, dicobanya untuk menutupi wajah ayu itu yang terpapar sinar matahari dengan tubuhnya. Sedetik kemudian laki-laki itu membiarkan sinar matahari menyinari paras istrinya, dilakukannya hal tersebut berulang kali sambil berdiri menghadap ke Nadine, hingga akhirnya, perempuan itu pun tersadar dan dilihatnya sang suami sedang berdiri di hadapannya. "Selamat pagi ... kamu sudah bangun rupanya? Kenapa nggak bangunin aku?" tanyanya sambil menggeliat dan merentangkan kedua lengannya ke samping lalu mengusap-ngusap mata. "Pagi ... aku suka melihat wajahmu yang tertidur pulas, wajahmu tampak seperti seorang malaikat," sahut Juna sambil duduk di tepi ranjang yang terbuat dari kayu dengan empat pilar peyangga di ujung-ujungnya yang di balut dengan kain kelambu di setiap sisi. Laki-laki itu lalu mendekat ke Nadine. Gadis itu sendiri hanya tersenyum dipuji seperti itu. Namun, saat Juna hendak menciumnya, tiba-tiba dia menghindar. "Kamu sudah mandi rupanya? Kalau gitu aku mandi dulu, ah!" Nadine bergegas turun dari ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi, Juna hanya tertawa sambil berteriak. "Aku buatkan sarapan pagi, ya!" Laki-laki itu bergegas turun ke lantai bawah menuju ke dapur yang ada di resort tersebut, lalu mulai asyik membuat sarapan pagi untuk mereka berdua. Di dalam lemari pendingin dilihatnya ada beberapa sayuran seperti wortel, buncis, sawi hijau, tomat, timun, telur, minuman ringan, s**u cair, sementara di meja makan ada roti tawar, keju, mentega dan beberapa selai. Juna memutuskan untuk membuat sandwich. Digorengnya dua telur mata sapi, lalu diolesinya roti dengan mentega, dan disusunnya sandwich buatannya itu yang berisi lembaran keju, telur mata sapi dan tomat plus saus sambal sedikit sebagai penyedap, lalu dipotongnya roti tersebut hingga membentuk segitiga. Sambil menunggu kedatangan Nadine, Juna mulai menata meja makan untuk sarapan mereka berdua plus s**u cair dan dua gelas kosong. Tak lama berselang, Nadine turun ke lantai bawah dan ikut bergabung dengan sang suami di meja makan. "Sarapan paginya apa ini?" tanyanya sambil ikut duduk di sebelah Juna. "Yang ada cuma ini, jadi aku buat sandwich aja!" sahut Juna sambil menikmati roti sandwich-nya. "Kalau kamu mau masak sendiri, kamu bisa masak di dapur, kamu juga bisa belanja di supermarket nanti, untuk beli bahan-bahan makanan. Ini kartu ATM dan kartu kreditku, kamu bisa belanja apa saja sesuka hatimu!" lanjutnya sambil memberikan kartu ATM dan kartu kredit ke Nadine yang sudah disiapkan Juna di atas meja, tapi tiba-tiba muka perempuan itu jadi cemberut. "Lho ... kok cemberut kayak gitu? Ada apa?" Tanpa Nadine menjawab, sebenarnya Juna sudah tahu apa jawabannya. Perempuan itu pasti tidak mau ditinggal sendirian di resort. "Aku janji, aku akan pulang sore nanti!" lanjutnya sambil mendekatkan bibirnya di bibir Nadine. Perlahan laki-laki itu melumat bibir betinanya dengan lembut, Nadine pun membalas ciuman pejantannya dengan lembut dan perlahan. Sesaat kemudian keduanya terdiam sambil saling menatap penuh cinta. "Kamu nggak apa-apa ‘kan kalau aku tinggal kerja? Aku usahakan pulang cepat!" Nadine hanya mengangguk, mencoba untuk mengerti pekerjaan sang suami yang menuntut keberadaannya di sana. Tak lama kemudian Juna melesat pergi ke area pertambangan, sementara dia mulai menikmati sarapan pagi buatan sang suami. Setelah Juna pergi, pelayan room service pun datang, mereka rupanya menawarkan menu makanan yang bisa dipesan untuk makan siang nanti. "Untuk makan siang nanti nggak usah deh, karena aku mau pergi. Ini saja aku mau pesan ikan bakar saja untuk makan malam, bisa?" tanya Nadine sambil menyesap air putih perlahan. "Tentu saja bisa, Bu! Ikannya mau ikan apa? Kakap, nila, patin, gurame?" tanya pelayan room service. "Aku mau kakap saja, dua, ya! Tapi aku mau yang setengah matang, nanti aku grill sendiri di sana di dekat kolam renang itu. Ada tempat untuk menggrill, 'kan?" ucap Nadine sambil menunjuk ke arah kolam renang yang terdapat di depan resort. "Ada, Bu! Nanti kami bawakan tempat grill ke sini, lalu apa mau sekalian di-setting mejanya untuk candle light dinner, Bu?" "Ooh iya, bener! Sekalian juga ya, aku minta tolong di-setting ‘kan meja untuk dinner. Boleh candle light dinner. Dua kursi saja, aku mau dinner sama suamiku nanti malam!" Pelayan room service itu pun mengangguk mengiakan pesanan Nadine. "Sekalian sama nasi, trus sama menu yang lain, macem ca kangkung, tempe, tahu goreng, lalu lalapan juga. Trus minuman juga, jangan lupa. Aku minta air putih dan orange juice saja!" "Baik, Bu! Semuanya sudah kami catat, bagaimana kalau plecing kangkung saja sebagai ganti ca kangkung?" "Plecing kangkung ...?" Nadine jadi penasaran. "Iya, Bu. Sama seperti ca kangkung, hanya saja lebih sehat karena cara pengolahannya dengan direbus, enak juga kok." "Ya, boleh juga ... plecing kangkung!" "Lalu mau dikirim jam berapa, Bu?" "Jam enam atau setengah tujuh saja. Tapi kalau mejanya tolong di-setting agak sorean!" Pelayan room service itu mengangguk lagi. "Baik, Bu. Ada lagi yang lain?" tanya pelayan room service lagi setelah selesai menulis semua pesanan Nadine di tablet yang dibawa sedari tadi. Nadine menggeleng cepat seraya berkata, "Sudah cukup, cuma minta tolong aja, tolong bilang ke resepsionis depan untuk nyiapin mobil buatku, aku mau pergi jalan-jalan pagi ini. Makasih, ya!" Pagi ini, Nadine sudah berniat mau jalan-jalan di Kota Sekotong, sebuah kota kabupaten, tempat area pertambangan emas milik perusahaan Juna berada yang bisa ditempuh dalam kurun waktu dua jam dari Kota Mataram. Setelah selesai berdandan, Nadine segera melesat pergi ke pusat kota bareng mobil yang dipesannya. Dari supir, dia mendapat informasi kalau ada sebuah Mall yang terletak di pusat kota, Nadine bisa membeli semua kebutuhan di sana. Benar saja, begitu sampai di Mall tersebut, dia bisa membeli semua kebutuhan dapur di supermarket. Setelah lelah berbelanja, Nadine lalu mencoba menikmati kuliner yang dijual yaitu ayam taliwang yang cukup familier di telinga. Saat sedang menikmati menu makan siang, tiba-tiba ponsel yang ada di dalam tas menjerit, ternyata Juna yang menelepon. "Kamu lagi di mana?" Suara Juna terdengar di ujung sana. "Aku lagi ada di pusat kota, di sebuah Mall, tapi aku nggak tahu nama Mall-nya apa, aku lagi makan, Sayang. Kamu sudah makan?" sahutnya manja. "Aku sudah makan, aku cuma mau ngasih tahu kalau sekarang aku harus ke Kota Mataram, jadi mungkin agak malam pulangnya, kamu nggak apa-apa, ‘kan?" Sesaat Nadine terdiam, dia jadi kesal, karena mereka baru saja menikah, tapi Juna sudah sangat sibuk dengan pekerjaannya. "Kok diam aja? Kamu marah, ya? Aku minta maaf, Sayang. Ada yang harus aku urus di Mataram. Aku janji, begitu selesai, aku akan langsung pulang ke istriku, jangan marah ya, Sayang." Mau tidak mau, Nadine harus bisa menerima kesibukkan Juna. "Iya, nggak apa-apa, aku nggak marah, aku tunggu nanti malam." "Okay, aku pergi dulu, ya, I love u!" "I love u too, Sayang. Hati-hati di jalan, ya! Aku tunggu nanti malam, bye!" Nadine jadi kesal, karena acara dinner malam nanti mungkin bisa dikatakan bakalan gagal karena Juna baru pulang nanti malam. Itu artinya semua rencana dinner yang sudah disusun untuk nanti malam, rasanya percuma saja. "It's okay! Dari pada marah nggak jelas, mending aku dinner sendiri aja ntar malam, ya itung-itung menghibur diri ... every little thing gonna be alright ... don't worry ... be happy ..." batinnya sambil menghabiskan pesanannya dan bersenandung menyanyikan lagu Three Litlle Birds-nya Bob Marley. Tak lama kemudian Nadine sudah beralih pulang ke resort. Namun, di tengah jalan, dilihatnya ada sebuah toko kaset. Nadine lalu mampir sebentar untuk membeli CD, entah kenapa dia jadi ingin dengerin lagu-lagu hits genre reggae. Dari toko kaset, perempuan itu beralih ke toko pakaian, dia ingin membeli sebuah dasi untuk Juna, lalu membeli gaun untuk dirinya sendiri. Setelah puas berbelanja, Nadine segera pulang ke resort, saat itu baru jam setengah empat sore, cuaca cukup cerah, suasana di kolam renang juga cukup teduh. Airnya yang tenang dan dingin seolah-olah mengajaknya untuk berenang. Setelah menaruh semua barang-barang belanjaan di tempatnya masing-masing, Nadine segera menceburkan diri ke dalam kolam renang. Ketika sedang asyik berenang beberapa putaran, para pelayan room service mulai berdatangan untuk men-setting meja dinner mereka di dekat kolam renang. Setelah pelayan room service selesai men-setting meja tersebut dan berlalu meninggalkannya, Nadine bergegas naik ke atas dari kolam renang, lalu dikenakannya kimono handuk yang sedari tadi teronggok di kursi malas. Perempuan itu lalu merebahkan diri di kursi malas sambil mendengarkan lagu-lagu di MP3 melalui headset. Lagu-lagu di MP3 itu cukup membuat dia lupa akan rasa kesalnya. Nadine lalu bernyanyi dan menggoyang-goyangkan kaki dengan matanya yang terpejam. Namun, tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang saat ini sedang berdiri di depannya dan memperhatikan dia. Nadine merasa cemas karena di resort ini hanya dia sendirian, sedangkan pelayan room service sudah pergi sedari tadi. Lalu siapa orang ini yang memperhatikannya terus? Silau semburat sunset yang turun sore itu, membuatnya tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas. Hanya bayangan siluetnya saja yang tergambar di depannya, Nadine jadi semakin cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN