BAB 16 - jeritan malam

2194 Kata
Setelah selesai menikmati makan siang di area terbuka hijau dengan pemandangan tepi laut yang berwarna biru diwarnai pasir pantainya yang putih bersih. Juna, Nadine dan ketiga sahabatnya bergegas menyewa ojek motor untuk menuju ke resort milik keluarga Juna. Di Pulau Moyo memang tidak menyediakan mobil atau jalan raya, jalanannya masih murni alami dari tanah, tidak ada aspal atau paving blok batu yang menghiasi area tersebut. Pulau yang masuk dalam Kecamatan Labuhan Badas ini, memiliki enam desa, yakni Labuhan Aji, Brang Rea, Sibatok, Brang Kua, Sitema, dan Patedong. Di sana hanya ada jalan seadanya, berbatu, dan berkelok-kelok. Begitu sampai di sana Nadine dan ketiga sahabatnya di suguhi sebuah pemandangan yang tidak kalah menakjubkan seperti di kamar tenda resort yang mereka tinggali saat ini. Rupanya Juna membuat resort-nya sedikit berbeda dan mirip seperti yang ada di Maldiv. Selain beberapa resort yang berada di dalam hutan lindung yang terlihat berjejer di antara pepohonan, team properti milik keluarga Juna juga membuat kamar resort di atas air dengan pemandangan laut biru yang terhampar di sekitarnya. "Apa semua kamar resort yang ada di sini sudah terisi furniture, Sayang?" Nadine mulai membuka percakapan di antara mereka berlima sambil terus menatap lurus ke depan dan menyapu pemandangan sekitar. Juna menggeleng pelan seraya berkata, "Belum, masih kosong, karena masih banyak yang harus direvisi!" "Pak Juna!" Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang yang cukup lantang yang terdengar dari arah belakang, mereka pun menoleh ke arah suara tersebut. Pria bertubuh gempal itu berlari-lari menuju ke arah mereka dengan napasnya yang tersengal-sengal. Semburat warna merah tampak menghias di wajahnya yang chubby. "Pak Bayu, apa kabar?" Juna segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangan orang yang dipanggil dengan nama Pak Bayu. Orang itu tampak sangat bersemangat menerima kehadiran pimpinannya. "Baik! Baik, Pak! Semuanya dalam kendali yang baik!" "Bagus! Oh iya, kenalkan ini istriku, Nadine dan mereka bertiga sahabatnya. Ini Trisha, Melinda dan itu Rommy,” ucap Juna sambil menunjuk Nadine dan ketiga sahabatnya. “Nad, kenalkan ini Pak Bayu, dia pengawas atau mandor yang bertugas mengawasi semua proyek di sini!" Secara bergantian Bayu mulai menjabat tangan Nadine dan ketiga sahabatnya dengan senyumnya yang ramah, pipinya yang chubby tampak ranum memerah begitu melihat ketiga bidadari cantik yang ada di depannya. "Selamat datang di Pulau Moyo! Surga yang tersembunyi," ujar Pak Bayu sambil mengembangkan kedua tangannya ke samping, mereka berenam lalu tertawa bersama-sama. "Apa Armand juga ada?" Bayu segera mengangguk dengan cepat. "Pak Armand sedang memberikan pengarahan ke tukang yang membuat kolam renang, Pak!" "Oke, di mana? Aku mau ketemu sama dia." Bayu segera mengajak mereka berlima ke area kolam renang. Setibanya di sana, Nadine dan ketiga sahabatnya melihat sebuah lubang besar yang tampak menganga di bawah dengan bentuk tidak beraturan. Beberapa karyawan tampak sedang melakukan pengecoran pondasi di sana, sementara di depan mereka terhampar lautan luas yang membiru. "Pak Armand!" teriak Bayu lantang. Laki-laki yang dipanggil dengan nama Armand itu pun mendongak dan melihat ke atas sambil menutupi dahinya yang lebar dengan sebuah map agar penglihatannya tidak begitu silau, sementara Juna yang berada di atas melambaikan tangan ke arah Armand. "Juna! Akhirnya kamu datang juga!" Armand bergegas naik ke atas melalui sebuah tangga kecil yang memang sengaja dibuat sebagai akses jalan mereka, lalu bergegas menemui laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya dengan senyum manis yang mengembang. "Hai, apa kabar? Kapan datang?" "Baru saja dan aku langsung ke sini! Oh ya, kenalkan ini istriku, Nadine dan ini ketiga sahabatnya, Trisha, Melinda dan Rommy!" sahut Juna sambil menunjuk ke arah mereka berempat. Sesaat Armand terdiam sambil memperhatikan Nadine dan teringat pada ucapan laki-laki itu beberapa hari yang lalu yang mengabarkan rencana kedatangannya ke Pulau Moyo. "Weekend ini aku mau ke Pulau Moyo, kamu masih di sana, ‘kan? Aku datang bareng istriku, maksudku istri keduaku, kamu sudah dengar kabarnya dari Chandra, ‘kan?" ujar Juna melalui ponsel. "Iya, Chandra sudah cerita semuanya tentang istri mudamu itu. Aku jadi penasaran seperti apa sih perempuan yang bisa membuat kamu bertekuk lutut seperti ini?" "Nanti kamu bisa lihat sendiri, tapi satu yang pasti yang aku minta sama kamu, nggak usah nyinggung soal Felicia karena dia belum tahu tentang hal ini, aku harap kamu bisa mengerti!" "Iya, aku tahu. Aku akan jaga rahasiamu, Man! Rahasiamu aman bersamaku!" Armand yang sudah lama kerja bareng Juna, bahkan sebelum laki-laki itu menikah dengan Felicia, kini jadi tahu kenapa pria itu ngotot ingin menikahi Nadine. Selain parasnya yang cantik dengan body-nya yang mampu membuat semua laki-laki berdecak kagum padanya, Nadine juga termasuk perempuan yang ramah dan tulus, tidak seperti Felicia yang sedikit culas dan judes. "Hai, kenalkan aku Armand!" Armand si pria blasteran Jerman dengan kacamata kotak yang bertengger di hidungnya yang mancung, menutupi kedua bola matanya yang teduh itu kemudian memperkenalkan diri ke Nadine dan ketiga sahabatnya, sementara Melinda mulai memperhatikan semua gerak-gerik Armand yang sedikit mencuri perhatiannya, karena wajah Armand yang sedikit bule, membuat gadis itu jadi ingin lebih kenal jauh dengan pria ini. "Armand ini otaknya proyek ini, Nad! Dia arsiteknya, tapi sebenarnya masih ada beberapa orang lagi yang lain di timnya, cuma dia ini kepala proyeknya!" "Ah kamu bisa aja, Bro!" Armand tampak malu saat Juna memberitahukan posisinya. Nadine dan ketiga sahabatnya hanya mengangguk sambil melebarkan senyum yang manis di wajah mereka, terutama Melinda yang terus menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah tanpa berkedip. "Oh ya, kalau kalian mau main di pantai dulu, silahkan! Aku ada perlu sama Armand," ujar Juna sambil menunjuk ke arah tepi pantai yang ada di depan mereka, kemudian mengajak Armand ke suatu tempat untuk ngobrol soal proyek tersebut, sementara Nadine dan ketiga sahabatnya bergegas beralih menuju ke tepi pantai dan bermain-main air di sana. "Nad! Kenalin aku lebih deket dengan Armand dong!" pinta Melinda saat mereka sedang berjalan-jalan di tepi pantai sambil menikmati hantaman ombak kecil di kaki, saat itu Trisha sedang berbaring di pinggir pantai bareng Rommy dan membiarkan air laut menerjang tubuh mereka, rasanya bebas, sunyi dan waktu terasa begitu lambat. "Kamu suka, ya? Lalu bagaimana sama Erick?" goda Nadine sambil merangkul bahu Melinda yang berjalan di sampingnya. "Lho, yang mana aja boleh, ‘kan? Aku ‘kan belum serius sama siapa aja," sahut Melinda manja sambil menggelanyut di lengan Nadine. "Iya, iya ... entar aku bilang sama Mas Juna untuk mendekatkan kalian berdua biar lengket kayak perangko!" Melinda pun menyeringai lebar, gadis itu sangat senang mendengar hal itu. "Makasih ya, Nad ...." Setelah puas bermain-main air, Nadine dan ketiga sahabatnya pulang terlebih dulu ke resort Alamwana. Sebelum sunset tiba Nadine ingin merasakan pijat spa di tepi pantai yang diceritakan Juna tadi, kebetulan setelah makan siang, dia sudah memesan untuk mereka bertiga, sedangkan Juna masih bertahan di resortnya sendiri. Dengan nuansa pantai keemasan dan laut biru kehijauan yang tembus pandang, Nadine, Trisha dan Melinda mulai memanjakan diri untuk merasakan sensasi pijatan spa di Jungle Beach Spa yang menawarkan suguhan dari lulur tubuh Kalimantan hingga pemandian s**u Indonesia. Nadine dan ketiga sahabatnya tidak ingin menghabiskan waktu pijat mereka di dalam ruangan seperti yang biasa mereka lakukan di salon-salon kecantikan. Karena nuansa yang mereka dapatkan kali ini benar-benar berbeda, di mana mereka bisa menikmati pijatan di tengah area pijat terbuka yang cantik, di bawah pepohonan yang hijau dengan buah ara dan pohon asam liar mengitari mereka, terlindung oleh dinding batu taktil. Sungguh sangat alami dan asri. Perfect! Sementara itu Rommy sendiri sedang menikmati pijatan spa di dalam sebuah ruangan yang juga disediakan khusus untuk laki-laki. Setelah selesai menikmati pijatan di seluruh tubuh, Nadine dan ketiga sabahatnya lalu berendam di kolam s**u yang juga terletak di area terbuka dengan taburan kelopak bunga mawar merah di dalam kolam. Benar-benar serasa berendam di kolam para ratu pada jaman dulu. Amazing! Selesai mandi, Nadine meminta tambahan paket yang disediakan yaitu ratus miss V, perempuan itu merasa perlu melakukan hal itu untuk persiapan bulan madunya nanti malam bareng sang Arjuna, sementara Trisha dan Melinda beralih ke kamar tenda resort mereka untuk mandi dan ganti baju. *** Malam hari, Malam itu, Rommy berniat untuk mengintip lagi kegiatan ranjang Juna dan Nadine yang biasanya dilakukan pada malam menjelang pagi hari, saat itu jam di tangannya sudah menunjukkan pukul satu pagi. Dilihatnya Trisha dan Melinda sudah tertidur pulas di ranjang, Rommy segera bangun dari kasur extra bed yang terhampar di lantai kayu. Perlahan laki-laki itu berjalan berjingkat keluar dari kamar tenda resort. Ketika sampai di luar di area terbuka, dinginnya angin malam mulai terasa mulai menusuk kulit. Bergegas dikenakan jaket yang tebal dan topi rajut yang panjang hingga menutupi telinga. Rommy memang sudah mempersiapkan semua dengan membeli perlengkapan itu ketika masih tinggal di kota Sekotong, tempat tinggal Nadine. Laki-laki itu lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan di sekitarnya sambil melipat tangan di depan d**a, lalu memasukkannya ke dalam ketiak demi mencari kehangatan di sana. Udara malam itu benar-benar sangat dingin. Dia ingin memastikan apa suasana malam itu benar-benar sepi atau masih ada segelintir orang yang berlalu-lalang. Perlahan dia berjalan menuju ke kamar tenda resort Nadine yang terletak tidak jauh dari kamar tenda resortnya sendiri sambil terus mengawasi keadaan sekeliling, untuk memastikan semuanya aman, sehingga dia bisa puas melihat adegan ranjang pasangan pengantin baru itu. Ketika semuanya dipastikan aman, perlahan Rommy mendekat ke arah jendela kamar tenda resort Nadine untuk mencari celah yang bisa dilihatnya dengan mudah. Rupanya tirai jendela kamar resort yang terlihat agak transparan, memudahkan laki-laki itu untuk mengakses penglihatannya secara langsung. Saat itu dilihatnya mereka berdua sudah melakukan setengah permainan. "Wah, telat, nih!" gumam Rommy lirih. Laki-laki itu jadi gelisah, entah kenapa dia jadi ingin berada di posisi Juna. Selama ini, Rommy memang belum pernah bercinta dengan seorang perempuan, semua video bokep yang pernah ditontonnya tidak menggetarkan hatinya untuk menyalurkan hasratnya dengan lawan jenis. Namun, begitu melihat perlakuan Nadine ke Juna secara langsung, Rommy jadi ingin menggantikan posisi Juna, demi mendapatkan kenikmatan itu dari perempuan tersebut. Lutut Rommy jadi lemas, kejantanannya mulai bereaksi. Namun, dia tidak ingin bergeser dari tempatnya berdiri. Laki-laki itu ingin melihat semua gaya bercinta mereka hingga akhir. Rommy masih terus mencoba bertahan untuk melihat semua adegan tersebut. Entah mengapa, kali ini dia merasa cemburu dengan Juna. Ingin rasanya dia yang berada di atas Nadine dan mendengar desahan juga erangannya sambil menyebutkan namanya untuk mempercepat gerakannya. Lagi-lagi perempuan itu menjerit nikmat hingga terdengar sampai keluar. Rommy pun tersenyum, apa Nadine menyadari atau tidak kalau jeritannya terdengar sampai keluar. Rommy segera menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan apa ada orang yang lewat di dekat kamar tenda resort pasangan pengantin baru ini. Namun, yang terdengar hanya suara jangkrik dan beberapa serangga malam yang berada di sekitar mereka juga embusan angin malam yang semakin terasa dingin di kulit. Setelah yakin keadaan aman dan terkendali, laki-laki itu kembali mengintip ke dalam kamar tenda resort tersebut. Keduanya masih berasyik masyuk di dalam sana. Diliriknya Fossil yang melingkar di tangan, saat itu sudah hampir jam tiga pagi, rupanya dua jam lebih kedua pasangan itu memadu kasih. Rommy benar-benar merasa puas bisa melihat semua adegan mesra pengantin baru itu secara langsung. Perlahan ditinggalkan tempat itu dan bergegas masuk ke dalam kamar tenda resort. Di sana kedua sahabatnya masih tertidur pulas, Rommy lalu masuk ke dalam kamar mandi dan membayangkan tubuh Nadine yang aduhai, membuatnya jadi semakin berhasrat sambil memuaskan dirinya di sana. *** Keesokan hari, Sarapan pagi di area terbuka hijau, ditemani oleh pohon-pohon Pinus dan kicauan burung yang saling bersahutan di atas pohon, benar-benar jadi pemandangan yang sangat menyenakan untuk Nadine dan ketiga sahabatnya. Suasana seperti ini sangat jarang mereka temukan di kota besar seperti Jakarta. Maka tak heran, kalau mereka betah berlama-lama bercengkrama di meja makan sambil menikmati pemandangan yang sangat mempesona. "Semalam siapa ya, yang menjerit keenakan?" goda Trisha begitu Nadine menghampiri meja makan dan ikut bergabung bareng mereka dengan rambutnya yang basah dan dibalut handuk. "Emang kedengeran, ya?" tanya Nadine dengan ekspresi wajahnya yang lugu, hingga kedua pipinya blushing merona merah muda, begitu tahu arah pembicaraan Trisha yang tersenyum penuh arti sambil melirik ke Nadine yang duduk di sampingnya. Rommy pun ikut tersenyum sambil menatap perempuan itu yang duduk di depannya, sementara Melinda tertawa tergelak begitu tahu maksud sahabatnya. "Bukan kedengeran lagi, tapi denger banget! Sampai berapa kali, Bu?" "Ada, deh! Mau tahu aja!" goda Rommy sambil mengedipkan sebelah matanya ke Nadine. Perempuan itu jadi semakin malu dengan wajah bersemu merah muda, ketika teman-temannya mencoba menggodanya. "Kamu juga denger, yaa, Rom? Keras banget, yaa? Ya ampun aku jadi malu. Abis--..." "Abis enak, sih!" sela Melinda sambil menyesap lemon tea hangat. Nadine jadi tersenyum malu-malu membuat Rommy jadi semakin gemas sambil teringat pada semua permainan cinta perempuan itu semalam sambil membayangkan dirinya ada di posisi Juna malam itu. Entah kenapa, sejak Rommy sering ngintip aktifitas Nadine di malam hari bareng sang suami, laki-laki itu bukannya membayangkan tubuh Juna yang aduhai, tapi malah keinget terus sama perlakuan Nadine ke Juna. "Sumpah! Aku benar-benar nggak nyadar kalau suaraku ternyata keras sampai terdengar ke tetangga sebelah. Maaf banget ya, Say. Tapi nggak sampai jadi polusi udara, ‘kan?" Ketiga sahabat Nadine pun tertawa tergelak begitu melihat wajah lugu perempuan itu yang terlihat sangat innocent dan bingung. Dia benar-benar malu ketika ketiga sahabatnya terus saja menggodanya, karena Nadine memang tidak menyadari kalau jeritannya semalam akan terdengar sampai keluar dari kamar, seperti malam-malam sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN