Pagi itu, Juna terbangun gara-gara ponselnya berdering, sesaat diliriknya benda pipih berwarna hitam yang menyala dan bersuara nyaring yang terletak di atas nakas di sebelah ranjang, ternyata Nadine yang menelepon. Juna kaget, untung saja Felicia tidak ada di kamar, laki-laki itu segera mengangkat telpon. "Hallo," ujarnya lirih sambil beralih ke kamar mandi, untuk melihat apa istrinya ada di sana atau tidak, ternyata tidak ada. Kamar itu kosong, hanya ada dia sendiri.
"Selamat pagi, apa kabar? Semalam pulang jam berapa?" Suara Nadine mulai terdengar di ujung sana.
"Semalam, aku pulang nggak berapa lama setelah kamu menemui teman-temanmu itu." Suara Juna terdengar kesal, Nadine jadi merasa bersalah.
"Ooh iyaa, aku minta maaf, semalam aku jadi nyuekin kamu, tapi sungguh aku nggak bermaksud untuk nyuekin kamu. Aku minta maaf, sebagai permintaan maafku bagaimana kalau malam nanti aku traktir kamu makan malam? Kamu bisa?"
"Makan malam?" Juna tampak bersemangat.
"Iya, sebelum kita nonton konser reggae, kita makan malam dulu, bagaimana? Kebetulan aku punya langganan resto yang enak, kamu pasti suka!"
"Baiklah, nanti malam aku jemput kamu di rumah?"
"Nggak usah, kita ketemu di resto aja jam tujuh malam, nanti aku share lokasi dan alamat restonya ke kamu, okay?"
"Baiklah, kita ketemu di resto malam nanti. Oh ya, boleh aku tanya?"
"Apa ...?" tanya Nadine heran.
"Kenapa kemarin pesenku nggak dibalas dan telponku juga nggak diangkat? Kamu ngecek ponselmu, ‘kan?" Juna bisa mendengar gadis itu tertawa kecil di seberang sana. "Kenapa kamu ketawa? Apa ada yang lucu?" Dia merasa heran, sementara Nadine masih terus tertawa.
"Kamu ini memang lucu, baru berapa hari nggak ketemu, kamu sudah mengirimkan ribuan pesan dan menelponku. Aku ‘kan sudah bilang, kalau kamu harus bisa menemukan aku, kalau aku membalas pesanmu atau mengangkat telponmu, itu artinya aku memberikan peluang buat kamu. Kamu ngerti, ‘kan?" Kali ini Juna yang tertawa kecil, Juna jadi semakin mengerti bagaimana Nadine. "Tapi aku akui, kamu memang cerdik, Mister Juna. Kamu berhasil menemukan aku, padahal biasanya belum tentu aku main di café-nya Trisha!"
"Itu artinya dewi keberuntungan sedang berada dipihakku, tapi aku rasa kemanapun kamu pergi, kalau kita berdua memang ditakdirkan untuk bertemu, kita berdua pasti akan bertemu. Aku yakin itu, seperti pertemuan kita pertama kali, pertemuan yang tidak terduga bukan?"
"Jangan kamu ingatkan itu lagi, ah! Aku benar-benar malu mengingatnya. Ooh ya, aku harus pergi, sampai ketemu nanti malam yaa, aku tunggu, bye!"
Nadine lalu memutuskan sambungan telpon, Juna hanya bisa tertegun sambil memandangi ponselnya. Gadis itu memang selalu seperti itu, selalu membuat dia penasaran. Laki-laki itu tersenyum kecil sambil mengenang pertemuan pertamanya dengan Nadine sambil menatap keluar jendela.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Baru dapat telfon dari siapa?" Suara Felicia tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Juna mencoba bersikap biasa-biasa saja di depan sang istri saat perempuan itu mendekat ke arahnya.
"Ini ... Chandra. Tadi baru saja telpon. Dia bilang kalau dia baru saja ketemu sama cewek yang lucu dan konyol!"
"Ooh ya? Siapa namanya?"
Juna kemudian menceritakan kisah pertemuannya dengan Nadine kali pertama ke Felicia. Namun, tokoh laki-lakinya dia ganti menjadi Chandra, perempuan itu percaya saja dengan semua cerita sang suami sambil ikut-ikutan tertawa.
***
Sebelum jam tujuh malam, laki-laki itu sudah sampai di resto seperti yang dijanjikan Nadine. Ketika Juna sampai di tempat parkir, saat itu dilihatnya ada sebuah mobil VW Combi putih yang parkir di sebelah mobilnya dan saat hendak masuk ke dalam resto, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya dari belakang.
"Hei, kamu sudah datang juga rupanya?"
Juna menoleh ke belakang dan dilihatnya gadis itu sedang menutup pintu mobil VW Combi putih. Laki-laki itu pun tersenyum kecil lalu menghampiri Nadine yang saat itu mengenakan baju ala bohemian dengan krah Sabrina yang terbuka dan menampilkan pundaknya yang menawan, lengkap dengan gelang-gelang manik-manik dan bandana di kepala, yang menutupi rambut hitam ikal yang terurai panjang hingga sepinggang.
"Ternyata kamu yang pake mobil VW Combi ini? Aku kira siapa. Ooh iyaa, ini untukmu!" Juna lalu menyerahkan sebuket karangan bunga yang berisi bermacam-macam bunga yang dibawanya sedari tadi lalu diberikannya ke gadis itu, Nadine tersenyum menerimanya.
"Terima kasih, kamu suka bunga rupanya?" balas Nadine sambil membaui aroma wangi bunga-bunga itu.
"Memangnya kenapa? Apa kamu nggak suka bunga?" Juna jadi semakin penasaran.
"Bukannya nggak suka, tapi apa yang bisa kamu dapatkan dari sebuah bunga setelah dia dipetik? Selain keindahan dan aromanya yang wangi, setelah itu bunga itu pun akhirnya layu dan hanya berakhir di tempat sampah, kasihan, ‘kan? Sangat miris hidupnya si bunga." ujar Nadine sambil memperhatikan buket bunga pemberian Juna.
"Maksudmu, kamu lebih suka bunga itu tetap pada habitatnya begitu? Kalau begitu faham 'Say with flower' tidak berlaku dong!"
"Nggak juga! Masih ada tanaman yang bisa kita berikan untuk seseorang selain bunga!" Kedua bola mata Nadine tampak mengerjap-ngerjap.
"Ooh yaa? Apa itu?" Juna semakin heran.
"Kaktus!" sahut Nadine mantap sambil berjalan ke dalam resto, Juna pun ikut mengekor di belakang. Gadis itu lalu memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela dan menghempaskan tubuhnya di kursi sambil menaruh bunga pemberian Juna di atas meja, laki-laki itu juga ikut duduk di depan Nadine.
"Kenapa kaktus?" Juna yang masih penasaran, terus mendesak Nadine untuk mengungkapkan alasannya.
"Sebentar, aku pesan makanan dulu!"
Saat itu pelayan resto yang ada di dekat Nadine mulai mencatat semua pesanan mereka, kemudian berlalu dari sana. Gadis itu menatap kedua bola mata Juna dengan senyum manisnya sambil melipat jemari tangan di depan dagu, lalu ditopangkan dagu ke jemari tangannya tersebut. "Kenapa kaktus? Itu ‘kan pertanyaanmu? Okee ... menurutku meskipun bentuknya berduri. Namun, kaktus mampu menampilkan sisi eksotis dengan bentuknya yang berlekuk-lekuk dan kaktus tidak pernah layu. Itu poin utamanya! Bentuknya yang imut dalam pot-pot kecil bisa menjadi sebuah hadiah yang sangat berarti dan penuh misteri untuk siapa saja." Juna tersenyum mendengar penjelasan Nadine.
"Boleh juga penjelasanmu, jadi maksudmu biarkan saja bunga itu pada ekosistemnya, seperti kaktus yang tidak pernah berubah dengan ekosistemnya meskipun tempatnya berubah?" Nadine tersenyum penuh arti.
"You got my point, ternyata kamu tahu juga maksudku, aku lebih suka kalau bunga itu tetap pada ekosistemnya, rasanya terlihat lebih indah, ‘kan?"
"Menarik! Kamu pecinta alam juga rupanya!"
"Bisa dikatakan begitu, tapi jangan khawatir, bunga pemberianmu ini tidak akan layu, aku akan mengawetkannya, kebetulan aku punya teman yang pintar mengawetkan bunga!"
"Kenapa kamu ingin mengawetkannya?" Juna jadi semakin penasaran.
"Karena bunga ini adalah pemberianmu yang pertama, semua yang pertama harus kita kenang, bukan begitu?" Nadine hanya tersenyum sambil terus memperhatikan Juna, laki-laki itu membalas tatapannya dengan penuh cinta. "Matamu sepertinya mengisyaratkan banyak hal, sepertinya ada sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam sana. Entah itu apa, tapi aku bisa merasakan itu, apa itu benar?"
Juna hanya tertawa kecil dengan matanya yang tak lepas menatap Nadine, tepat pada saat itu makanan yang mereka pesan pun tiba. Mereka berdua terlihat sibuk menikmati makan malam tersebut. Sambil menikmati makanan itu, Nadine tampak tidak ingin membahas lagi apa yang diucapkannya barusan, karena baginya itu adalah masalah pribadi Juna dan dia tidak ingin ikut campur lebih jauh lagi. Hingga akhirnya setelah mereka selesai menikmati makan malam, kedua pasangan itu lalu menuju ke konser reggae di Pantai Ancol yang saat itu sudah berlangsung. Mereka berdua tampak menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan sambil menggoyangkan tubuh, bahkan mereka terlihat sangat kompak bernyanyi bersama saat lagu Rude-nya Magic mulai terdengar.
"Why you gotta be so rude? Don't you know I'm human too? Why you gotta be so rude? I said, I'm gonna marry her anyway ... yeaah .... marry that girl, marry her anyway ... yeaah ... marry that girl, no matter what you say, marry that girl and we'll be a family .... why you gotta be so rude? Ruudee ..."
Juna dan Nadine tampak sangat menikmati lagu tersebut, hingga tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan mereka berdua ketika menyanyikan lagu itu yang benar-benar lepas dan bebas, seperti tanpa beban. Keduanya terus saja menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
"Nad! Nadine!" Nadine menoleh ke arah suara tersebut, ternyata Melinda dan Trisha tampak melambaikan tangan dan berjalan menghampiri lalu bergabung bareng mereka.
"Juna, kenalkan ... ini sahabat-sahabatku, ini Melinda dan itu Trisha, si pemilik café. Guys, kenalin ini Juna!"
Melinda dan Trisha lalu saling berkenalan dengan Juna, mereka berempat kembali menikmati lagu-lagu yang dinyanyikan di atas panggung. Mereka berempat bahkan sempat mengabadikan momen tersebut dengan sebuah foto dan video, hingga akhirnya konser tersebut berakhir kurang lebih sekitar pukul dua pagi. Juna dan Nadine kemudian beralih ke pelataran parkir mobil menuju ke mobil mereka masing-masing, sementara Trisha dan Melinda pulang terlebih dulu dengan mobil Trisha.
"Kamu ternyata suka barang kuno juga, ya?" ujar Juna sambil memperhatikan mobil VW Combi putih milik Nadine. Gadis itu hanya tersenyum sambil membuka pintu samping mobil, tampak sebuah mobil tua yang dimodifikasi dengan begitu apik.
"Dia ini rumah pertamaku, aku ini nomaden, jadi mobil inilah yang jadi rumahku!"
Kening Juna berkerut. "Nomaden ...?"
"Iya, aku sengaja memodifikasi mobilku ini supaya aku merasa lebih nyaman seperti di rumah, karena aku bisa tidur di sini dan semua barang-barangku juga ada di sini. Rumah Trisha itu rumah ke duaku, aku lebih banyak menghabiskan waktuku di mobil," ujarnya sambil menunjukkan isi di dalam mobil yang benar-benar membuat Juna merasa takjub karena desain interiornya yang dibuat persis seperti di dalam pesawat terbang.
"Woow, boleh aku masuk?"
"Silahkan!"
Juna lalu masuk ke dalam mobil Nadine dan merasakan nyamannya duduk di kursi yang berjajar tiga buah yang berbahan kulit lembut, hingga memberikan kesan yang lux, ditambah dengan sandaran tangan yang berbahan kekar yang memperlihatkan kekokohannya, sehingga yang duduk di sana akan merasa seperti berada di bangku eksekutif pesawat. Gadis itu mengekor di belakang Juna, lalu duduk di sebelahnya.
"Aku nggak nyangka kalau mobil tuamu ini nggak kalah dengan mobil mewah lainnya. Bagaimana dengan mesinnya?"
"Mesinnya juga sudah aku ganti dengan mesin yang prima yang berstandar emisi euro four, jadi dia bisa bebas melintas di jalanan ibukota karena gas buangnya ramah lingkungan, temanku yang memodifikasinya!"
"Temanmu benar-benar pintar, benar-benar seperti di dalam pesawat, kaki kita bisa bebas berselonjoran di sini," puji Juna sambil menjulurkan kakinya ke depan.
"Sambil berselonjor dan bersandar, kita juga bisa melihat video yang aku pasang di kursi depan itu, juga ada meja yang bisa kita manfaatkan untuk makan dan minum atau bekerja," ujar Nadine sambil menunjuk meja yang ada di depan Juna yang terletak pada pembatas dengan cabin depan.
"Lalu bagian bawahnya itu kamu fungsikan sebagai sound system?" Nadine mengangguk membenarkan ucapan laki-laki itu.
"Di bagian belakangmu juga ada tempat tidur. Kalau aku capek, aku selalu tidur di sana kalau lagi tour keliling kota, aku sangat suka dengan VW ini, karena mesinnya ada di belakang."
"Ruangnya juga sangat luas dan lebar bahkan tinggi juga, ya. Kita jadi nggak perlu membungkuk kalau mau masuk ke dalam, jadi kepala kita nggak kebentur." Nadine menyeringai riang begitu melihat ekspresi wajah Juna yang lucu. "Pantas saja kamu betah di dalam mobilmu ini, semua barang-barangmu ada di sini semua, termasuk gitar kesayanganmu itu!" Juna menunjuk ke arah gitar kesayangan Nadine yang selalu dibawanya kemana saja dia pergi.
"Apa kamu sering tour keliling kota dengan mobilmu ini?"
"Lumayan lah, ada beberapa kali. Aku biasanya pergi bareng Melinda dan teman-temanku, jadi kami gantian nyetir, tapi kalau lagi males, kami sewa supir."
"Apa teman-temanmu itu termasuk beberapa laki-laki yang datang waktu kita lagi ngobrol?"
"Mereka bukan teman-teman musisiku, teman-temanku itu, ya yang main musik denganku kemarin," sela Nadine cepat.
"Lalu siapa yang baru datang kemarin? Sepertinya kamu sangat akrab dengan salah satu di antara mereka, boleh aku tahu, siapa dia?"
"Oh dia, namanya Surya, dia seorang produser musik dan mantan pacarku." Juna mengangguk sebagai tanda mengerti.
"Pantas saja, kamu begitu akrab dengannya, apa kamu masih cinta sama dia? Aku lihat kamu sangat nyaman waktu sama dia," tanya Juna penasaran.
Nadine kembali menggeleng seraya berkata, "Saat ini kami hanya bersahabat, kami lebih nyaman dan lebih baik seperti ini, hanya bersahabat tidak lebih," ujarnya santai.
"Kenapa kita nggak ketemu dua tahun yang lalu, ya?"
"Apa? Dua tahun yang lalu? Oh jelas nggak bisa, karena aku masih di New York saat itu!"
"New York, Amerika?" tanya Juna heran.
"Iyaa, aku menyelesaikan S1 dan S2 ku di sana, di The Juilliard School, sebuah sekolah musik. Aku dapat beasiswa di sana dan baru tahun lalu aku selesai sekolah, jadi aku baru satu tahun di sini, kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Nggak papa, aku hanya merasa nyaman ngobrol berlama-lama sama kamu."
"Aku percaya, setiap pertemuan dua orang yang terjadi, siapapun itu, pasti ada sebuah alasan yang menyertainya!” ujar Nadine santai. Juna bisa melihat bagaimana gadis ini menikmati hidup, sepertinya semuanya terlihat begitu menyenangkan baginya, sehingga senyum itu tidak lepas dari bibirnya yang mungil.
"Oh ya ...? Lalu apa alasan pertemuan kita berdua waktu itu?" Nadine hanya mengendikkan bahunya ke atas dengan muka imutnya yang polos.
"Aku belum tahu, aku belum menemukan alasan itu, mungkin kamu bisa menemukannya?" tanya Nadine sambil melirik ke arah Juna yang menatapnya tajam dengan mata elangnya.
Juna pun menyeringai kecil. "Aku memang sudah menemukannya, Nad. Kamu adalah alasan yang terindah yang pernah aku miliki saat ini untuk melengkapi kehidupanku yang kosong dan hampa," batinnya dalam hati sambil terus memperhatikan gadis itu, Nadine jadi salah tingkah di depan Juna.
"Ooh ya, selama dua minggu ke depan, kamu nggak usah nyari aku." Nadine mulai mengalihkan perhatiannya agar tidak begitu canggung di depan laki-laki itu.
"Kenapa?" tanya Juna heran.
"Karena aku mau tour keliling kota, tapi cuma lima kota aja, sih! Kebetulan temanku yang kemarin, yang namanya Surya, ngajak aku untuk ikut tour keliling salah satu musisinya. Dia pake konsep orkestra dan aku diajak sebagai additional player-nya. Ya, lumayanlah buat pengalaman!"
"Aku pasti akan kangen sama kamu ...." Nadine hanya tertawa kecil mendengar candaan Juna.
Juna hanya terdiam. "Aku serius, Nad. Aku nggak bercanda, aku pasti akan sangat merindukanmu, tapi bagaimana caranya aku mengatakan semua perasaanku ini ke kamu? Agar kamu tahu kalau batinku ini sungguh-sungguh tersiksa oleh hadirmu," batinnya sedih tanpa melepas tatapannya ke Nadine yang kembali membuat gadis itu jadi salah tingkah. Ingin sekali rasanya malam ini jangan segera berlalu, karena Nadine sebenarnya juga merasa nyaman bersama Juna dan ingin berlama-lama dengannya.