"Mas kita perlu bicara!'' Farah berdiri di depan pintu makan sambil melipat kedua tangan di depan dadda. Sejak beberapa hari yang lalu pria itu selalu menghindar. berangkat pagi dan pulang larut hingga mereka tidak memiliki waktu untuk membicarakan masalah mereka. "Aku sibuk!" Sahut Bima sambil berlalu begitu saja meninggalkan sang istri. Tak ia pedulikan panggilan yang berasal dari bibir wanita itu. Hatinya sedang terluka setelah mengetahui semua yang dilakukan sang istri padanya. Awalnya ia sudah mulai bisa menerima bahwa istrinya mandul dan ia mantap untuk menerima hal itu setelah memikirkan semuanya matang-matang. Namun, kejadian di restoran kala itu membuat hatinya kembali goyah. Sakit hari karena sang istri mendua saat mereka belum menikah. Jika saja Farah jujur saat itu, ia tidak

