5. Gilang

2279 Kata
Ibarat permen, gue lagi Nano-nano campur Relaxa. Jantung gue terus bertalu-talu, deg-degan, ditambah hawa panas dingin yang gue rasakan. Tanpa pikir panjang, gue memutuskan buat ke rumah sakit. Tapi sebelumnya, gue cari mal terdekat buat beli mainan. Biasanya kalau ponakan-ponakan gue ngambek, gue sogok mainan langsung ceria lagi. Siapa tahu itu berlaku buat anak gue sendiri. Minimal gue bisa ambil hatinya. Ketakutan mulai gue rasakan begitu menginjak lantai ruangan tempat Ragil dirawat. Keringat dingin terus membasahi telapak tangan gue. Gue beneran bingung harus ngapain. Gue gak mungkin tiba-tiba langsung ngaku kalau gue ayah kandungnya. Begitu gue lihat wajah Ragil secara langsung, di situ gue yakin, dia anak gue. Gila! Kok bisa plek ketiplek banget dengan gue? Gue beneran nahan napas, tiba-tiba mata gue perih, seluruh badan gue gemetar. Antara percaya ini nyata atau hanya sebuah mimpi karena gue terlalu berharap berjodoh sama Rani. Tapi begitu Ragil ngomong, gue tahu itu nyata. Terus hati gue teriak; Ibu Ratuku, aku kasih cucu ya nanti. Dibalut kecanggungan, gue berusaha menciptakan obrolan-obrolan yang nggak bikin garing. Gue terus pancing Ragil buat ngomong, sayangnya hati gue selalu terluka tiap kali dia menyebut nama ayah yang berarti Yoga. Seberapa jauh kedekatan mereka? Gak ngerti lagi gue sama perasaan sendiri. Nusuknya hingga ke ulu hati. Ragil nggak kenal gue. Dia anggap gue cuma orang asing yang nggak punya arti apa-apa di hidup dia. Sementara dia menjadikan Yoga superhero. Jantung gue seperti mau meledak saking sesaknya. Buah dari sikap pengecut dan plin-plan gue ternyata membekas banget. Belum lagi sikap Rani yang selalu defensif. Gue tahu batasan. Gue tahu dia sudah menikah, gak mungkin gue mengharapkan apa pun. Alasan gue cuma mau menebus waktu yang hilang sama anak gue. Otomatis kalau gue mau ketemu anak gue, gue harus ketemu ibunya dulu. Rumah Rani berlantai satu, minimalis namun cukup luas. Ada dapur dan ruang makan yang menyatu, ruang tamu dan ruang televisi yang hanya disekat oleh lemari bufet. Tiga kamar tidur dan satu kamar mandi. Beberapa lukisan besar menjadi penghias dinding, begitu juga foto-foto Ragil dari waktu ke waktu. Tapi, gue gak menemukan foto Rani berdua dengan Yoga. Gue cuma menemukan foto Yoga sedang bersama Ragil. Lo tahu perasaan gue ketika melihat semua foto Ragil? Gue cuma ngerasa bersalah sama dia. Gue nggak bisa melihat tumbuh kembangnya. Gue nggak tahu kapan giginya mulai tumbuh, kapan dia mulai merangkak, kapan dia mulai bicara, kapan dia mulai bisa jalan, di usia berapa dia bisa naik sepeda, semua momen itu gue lewatkan tanpa bekas kenangan. Gue masih kesal karena sikap Rani di rumah sakit tadi. Rani juga diam terus, gak negur gue pas sampai rumah. Cuma ibunya yang tetap ramah ke gue, beliau mengizinkan gue masuk ke rumah ini. Namun sikap Rani menunjukkan sebaliknya. Seperti mengusir gue lewat ekspresi ketusnya. Gue juga gak nyaman, siapa tahu Yoga datang nanti. Pas gue mau pulang, Ragil tiba-tiba ngajak gue nyusun lego, gue terharu di situ. Dia welcome dengan kedatangan gue biarpun status asli gue masih ditutupi. Gak papa, dia masih kecil. Masih belum bisa mengerti jika hanya sekali dijelaskan. "Om bisa gak susun legonya?" Dia ngotot bilang gue salah terus pas nyusun lego. "Bisa kok. Kita ulangi dari awal ya?" Gue kesulitan karena Ragil duduk di pangkuan gue. Sementara gue duduk di permadani ruang tamu, dan menyusun lego di meja. Itu yang bikin gue kesulitan juga. "Om, kok nggak disusun-susun?" "Bentar ya, Om lihat tutorial dulu." "Ih, lama. Agil minta Ayah aja deh yang nyusun." Aku ini ayahmu, Agil. Bukan si kampret Yoga. By the way, sebetulnya gue nunggu Yoga pulang. "Coba Agilnya duduk di sini sebentar." Gue memindahkan tubuhnya dari pangkuan gue ke atas sofa. Biar gue bisa leluasa nyusun lego, sedangkan dia jadi mandor gue di atas. "Payah nih, Om Yayang," ledeknya. Ya ampun! Gue diledek. Rani yang sejak tadi menghilang entah ke mana tiba-tiba muncul membawa secangkir kopi hangat. Dia taruh kopi itu di depan gue tanpa ngomong apa-apa. Dia beneran mengabaikan gue. "Sayang, mainnya udah dulu yuk! Udah waktunya bobo. Tuh udah jam delapan. Agil kan harus bobo biar cepet sembuh." Gue tersenyum geli dalam hati, Rani memang sudah berubah. Sifat keibuannya sangat tampak terasa. "Legonya belum jadi, Bun." Gara-gara bapaknya gak mahir nyusun lego, jadi lama begini. Kasihan juga Ragil baru keluar dari rumah sakit dan harus banyak istirahat. "Sedikit lagi kok ini. Om aja yang selesaikan. Agil bobo ya." Tangan gue terulur mengusap kepalanya. Ternyata punya anak sensasinya luar biasa. Nggak akan pernah bisa gue deskripsikan. "Bener ya, Om?" Tiap kali dia panggil gue om sebenarnya hati gue nyut-nyutan. "Bener. Pokoknya besok, legonya udah jadi." "Asyik. Makasih, Om!" Gue menahan napas begitu Ragil turun dari sofa dan memeluk gue, otot perut gue juga mengejang. Sensasi hangat di hati gak bisa gue bohongi. Dia meluk gue. Gue benar-benar cengo, tapi hati gue berseri-seri. "Kamu masih mau di sini?" Gue tersentak, gue terlalu shock karena dipeluk Ragil secara spontan. "Iya. Itu juga kalau suami kamu nggak keburu datang. Ini tanggung bentar lagi kelar," kata gue. "Ya udah, aku temenin Ragil tidur dulu." Rani menuntun Ragil masuk ke kamar. Gue memperhatikan langkah keduanya. Andai dulu gue lebih tegas, mungkin gue bisa menemani mereka tidur tiap malam. Gue gak perlu susah-susah buat ngambil hati anak gue sendiri kayak gini. Dan gue gak harus melepaskan ibunya ke pelukan laki-laki lain. Gue memejamkan mata, saat penyesalan gue terus muncul. Menarik napas, sebelum melanjutkan pekerjaan menyusun lego Ragil. Setelah berjibaku dengan susah payah, akhirnya lego ini terbentuk juga.  Gue melihat jam tangan, ternyata sudah jam sembilan. Buru-buru gue merapikan mainan Ragil yang berantakan. Lego yang berhasil gue susun itu tetap gue biarkan di atas meja. Ibunya Rani masih menonton televisi. Sebelum pulang, gue menghampiri beliau dulu. Gue lupa kapan terakhir kali gue bertemu dengan beliau, sepertinya sembilan atau sepuluh tahun lalu sebelum gue putus sama Rani. "Bu?" Gue memanggil beliau pelan. Matanya yang sejak tadi fokus menonton acara dangdut itu menoleh ke gue. "Iya, A. Ada apa?" Gue gak langsung menjawab. Pelan-pelan gue memangkas jarak dan berjongkok di dekat kakinya. "Saya minta maaf, Bu." Gue belum sempat minta maaf ke beliau, karena gue terlalu sering bikin anaknya menangis, bikin anaknya terluka, dan meninggalkan anaknya sendirian. "Kenapa minta maaf?" "Saya ... saya terlalu banyak bikin Rani terluka. Keluarga saya khususnya Papa banyak menyakiti Rani. Saya minta maaf." Gue malu sama beliau. Keluarga gue, khususnya almarhum bokap nggak pernah bisa menerima Rani. Sedangkan nyokapnya Rani dari dulu bahkan sampai sekarang selalu menerima kehadiran gue. "Seharusnya Ibu membenci saya, bukan malah menyapa ketika saya datang tadi siang." Dalam posisi menunduk, gue menunggu nyokapnya Rani bicara. Namun beberapa detik berlalu, beliau tetap diam. Gue mendengar beliau mendesah. "Ibu marah, A." Ucapannya mengundang perhatian gue. Gue langsung mendongak, menatap sinar senja di mata beliau. "Tapi Ibu tidak tahu harus bagaimana menumpahkan rasa marah itu. Apa yang terjadi sama Rani, itu cerminan Ibu di masa lalu. Cemoohan, gunjingan, ledekan dari para tetangga yang mengaku peduli sudah biasa bagi Ibu dan Rani. Jadi, apa pun yang orang lain katakan tetap Ibu dan Rani yang harus mengalah. Kami yang harus intropeksi diri. Karena yang mereka katakan itu benar." "Bu..." Gue tercekat. Gue yakin menjadi mereka itu tidak pernah mudah. "Dulu, waktu Ibu dengar Rani putus sama Beni, Ibu senang. Karena Ibu yakin, Beni bukan anak yang baik. Kemudian, dia ngenalin Ibu sama kamu. Kamu tahu caranya bersikap sopan sama orang tua. Ibu lebih setuju Rani sama kamu daripada sama Beni. Tapi ternyata, masalahnya tetap sama. Latar belakang Rani yang jadi masalah." Duh, hati gue teriris. "Demi Allah, Bu. Kalau saja saya tahu dari dulu, saya akan memperjuangkan Rani dan bayinya. Saya bosan jadi pengecut, Bu. Saya tidak peduli lagi akan reaksi papa saya. Saya akan bawa Rani menjauh dari keluarga saya, tidak peduli kalau Papa marah dan tidak menganggap saya anaknya lagi." "Semua sudah berlalu, A," katanya. Tersenyum kecil. "Saya ingin memperbaikinya, Bu. Setidaknya sekali, saya bisa jadi orang yang berguna. Meski bukan untuk Rani, melainkan untuk anak saya." Tumpah lagi kan air mata gue. Cengeng sekali gue hari ini. Terlalu banyak momen mengejutkan yang mengundang rasa haru. "Bisa, A. Kamu pasti bisa. Rani nggak akan ngelarang kamu buat ketemu Ragil." "Maaf, saya nggak bisa nahan air mata." Gue mengusap air mata di sekitar pipi. "Nggak papa. Wajar kok. Kamu juga pasti merasakan sakit karena keadaan seperti ini." "Saya minta maaf, Bu." "Ibu maafkan, A. Ibu sudah memaafkan. Tapi daripada kamu sibuk minta maaf, lebih baik kamu perbaiki semuanya dari sekarang." Gue mengangguk. Demi Tuhan, gue akan memperbaiki apa yang bisa gue perbaiki. Seperti yang gue bilang di rumah sakit tadi, gue memang tidak bisa memiliki Rani tapi gue tetap harus bisa memiliki Ragil. Gue harus bisa bikin dia terima kehadiran gue, bukan cuma jadi orang asing yang tiba-tiba hadir tapi menjadi ayahnya. Panutan dia yang layak. *** Gue gak bisa tidur. Pikiran gue terlalu numpuk. Gue putar otak buat nyari cara agar gue tetap bisa dekat sama Ragil dan Ragil bisa dekat sama gue. Gue gak sabar nunggu pagi, karena ini hari Sabtu gue akan pergi ke rumah Rani pagi-pagi. Bodo amat kalau ada Yoga di sana. Jam delapan pagi gue udah siap buat berangkat, sialnya gue lupa kalau ada nyokap di rumah. Dia sedang berjemur ditemani Mbak Susi di depan rumah. "Lang, mau ke mana pagi-pagi?" Gue belum bisa kasih tahu nyokap kalau gue punya anak. Gue takut nyokap shock dan berakibat fatal pada kesehatannya. Nyokap gak bisa menerima berita yang mengejutkan, nyokap sering kali kolaps dan berujung terbaring di ranjang rumah sakit. "Mau jogging di Senayan, Ma." "Mau jogging kok rapi banget bajunya kayak mau jalan-jalan." "Aku bawa bekal baju ganti kok di mobil, Ma." Gue terpaksa bohong ke nyokap, nanti kalau waktunya sudah tepat dan Ragil sudah tahu kalau gue ayahnya gue pasti bawa dia ke nyokap. "Kamu kemarin ke mana? Mama jadi gak enak sama Icha karena tiba-tiba kamu batalin pertemuan." "Aku makan siang sama klien, Ma." "Bohong kan kamu?" selidik nyokap. Sepertinya nyokap mengendus aroma kebohongan di sekitar badan gue. "Nggak, Ma. Ngapain bohong. Lagian aku nggak mau dijodoh-jodohin gitu, Ma." "Terus kamu mau nikah kapan? Mama harus nungguin sampai kapan? Cuma mau lihat anak bontot nikah kok susah banget." Gue gereget. Lebih ke arah bosan karena nyokap ngomongnya itu-itu terus. "Nanti nikah, Ma. Tungguin aja," jawaban gue gak ngasih solusi apa-apa. "Ya udah aku berangkat." Gue cium tangan nyokap. "Hati-hati." Gue mengangguk. "Mama jangan lupa sarapan sama minum obat." Perjalanan yang harus gue tempuh lumayan jauh. Begitu gue sampai di rumah Rani, gue lihat ada HR-V putih terparkir di depan rumah. Gue parkir di belakang mobil itu. Begitu gue turun dari mobil, pintu rumah terbuka. Yoga sedang menggendong Ragil di punggungnya. Anak gue tampak ceria karena menggelitik leher Yoga. Tahan, Lang. Biarpun gue cemburu. "Om Yayang!" Ragil berteriak memanggil gue. Gue melambaikan tangan sambil tersenyum hangat padanya. "Halo, Mas Bro. Long time no see!" Long time no see, halah pret! Gue bahkan berharap gak pernah ketemu dia lagi. Karena tiap ketemu bawaannya pengin nonjok terus. Apalagi gue tahu dia sempat menyembunyikan kehamilan Rani, tapi sisi lain gue juga berhutang budi karena dia sudah merawat anak gue kayak anaknya sendiri. Gue sama sekali nggak membalas tangan Yoga yang terulur. Yoga memperhatikan tangannya sebelum menariknya kembali. "Om Yayang, mau ngapain ke sini?" tanya Ragil, masih dalam gendongan Yoga. "Om, mau main sama Agil boleh?" "Agil sekarang mainnya sama Ayah, Om. Kemarin Ayah udah janji mau main seharian sama Agil. Jadi, Agil nggak bisa main sama Om Yayang." Jleb banget, Tuhan. Gue mendengar bunyi retak dalam hati gue. Pengin banget gue nonjok mukanya Yoga. "Om Yayang ini temannya Ayah lho, Sayang. Masa nggak boleh main?" "Kemarin Ibun bilang teman Ibun." "Teman Ibun itu berarti teman Ayah juga." Gue mendengkus pelan. Gue cemburu melihat mereka dekat. "Agil! Minum Obat dulu, Nak." Rani muncul dari dalam rumah membawa plastik obat dan segelas air putih. Dia terpaku melihat gue. "Kok nggak bilang mau ke sini?" Dia bertanya. "Emang harus izin dulu kalau mau ke sini?" Rani menoleh ke arah Yoga, mereka bertatapan entah apa maksudnya. Lalu dia beralih menatap gue lagi tanpa bicara apa-apa. "Nah, sekarang Agil minum obat dulu. Nanti kita main lagi." Yoga berjongkok menurunkan Ragil dari punggungnya. Dia lantas mengangkat Ragil supaya duduk di kursi rotan teras rumah. Gue berdiri di situ cuma jadi orang bego yang melihat betapa lengkapnya keluarga ini. Melihat seberapa jauh kedekatan Yoga dan Ragil melalui interaksi mereka. Ragil yang terus tertawa karena celotehan Yoga. Gue harus balik kayaknya. Momennya nggak tepat. "Om Yayang!" Ragil manggil gue lagi. Gue yang sudah putar badan hendak pulang, terpaksa memutar badan lagi ke arahnya seraya tersenyum palsu. "Iya, Agil?" "Om Yayang boleh kok main di sini. Agil punya robot banyak. Nanti Agil kasih Om Yayang satu." Semua orang dewasa yang ada di sana tidak mampu bereaksi selain menatap takjub anak kecil yang baru saja berbicara dengan nada bijak. "Sini, Om." Dia melambaikan tangan. "Agil minum obat dulu, nanti boleh main." Oh, Sayangku. "Om, sini!" Dia kembali meminta gue mendekat. Padahal kaki gue seperti dikasih perekat sampai tidak bisa jalan. Gue melangkah ragu, pelan-pelan mulai memangkas jarak sampai akhirnya gue berdiri di sebelah Yoga yang lagi menyaksikan Ragil minum obat. "Ibun, sirupnya manis ya?" "Manis," jawab Rani. Dia menuangkan obat sirup ke dalam sendok sesuai takaran. Lalu mengangsurkannya pada Ragil. Anak itu dengan semangat melahap obat sirup itu. "Uhuk, uhuk!" Tiba-tiba dia batuk. Gue panik dan segera mengulurkan tangan untuk mengambil air putih di gelas. Sialnya! Tangan gue dan tangan Yoga beradu di gelas tersebut. Kami saling menarik, dan gue gak mau kalah. "Stop!" Teriakan Rani memekakkan telinga. "Apa-apaan sih kalian! Ragil butuh minum!" Gue lepas tangan gue dari gelas, dan membiarkan Yoga yang memberikan air putih tersebut pada Ragil. Lagi, untuk hal sepele pun gue kalah. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN