"Makasih, ya, telur dadar," gumam Kania ketika membuka mata hal pertama yang lihatnya membuatnya lumer. Tangannya terlulur menyentuh rambut hitam Haidar yang sedang tidur sambil menaruh kepalanya ke sisi ranjang. "Lo lelah banget semalaman jaga orang sakit, ya?" Samar-samar memori semalam berkelebat di kepalanya kecuali bagian dia mengigau. Kania tahu Haidar tengah malam membawanya ke rumah sakit sampai ia mendapat penanganan dokter. Padahal Kania sudah merasa pusing sejak sore, ditahan-tahan sampai malam harinya alih-alih sembuh usai meminum paracetamol, justru badannya gemetar dan pandangannya kabur. Kepalanya seperti ditindih beban berton-ton dan tubuhnya mengigil, mungkin efek keluar malam lupa membawa jaket atau dia terlalu banyak beban pikiran yang ditanggung. "Payah banget

