Arta menyusuri jalanan sepi yang tampak gelap, hanya disinari cahaya lampu jalan seadanya dari pagar rumah warga atau dari lampu merkuri. Dia memperbaiki letak ranselnya sembari berjalan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, dia merapatkan jaketnya demi menghalau udara dingin malam hari yang semakin menusuk tulang. Arta kemudian tertegun ketika hidungnya mencium aroma tanah menguar dengan kuat menyapa indra penciumannya. "Kayaknya mau hujan," gumamnya seraya mendongak, langit tampak hitam pekat malam ini. Tak mau jika sampai kehujanan, Arta mempercepat langkahnya. Dia lalu mengeluarkan kartu nama yang diberikan Fala pada Lintang tempo hari, dan Arta dengan diam-diam mengambilnya. Ketika dia tengah membaca alamat di kartu nama itu, tetesan air jatuh di kartu itu. Arta pun mendongak dan m

