Damian tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu beberapa detik, cukup lama hingga suasana di sekitar meja terasa menegang. Beberapa karyawan saling berpandangan, sebagian menunduk gugup. "Ya, saya bertanggungjawab atas restoran ini," ujar Damian akhirnya dengan suara datar namun tenang. "Apa masalahnya?" Ekspresi pria itu berubah, sudut bibirnya terangkat sinis. "Oh? berarti saya bicara pada orang yang tepat," pancingnya. "Pelayanan di sini kacau. Pesanan saya datang terlambat, dan yang lebih parah, makanan saya mentah." Damian melirik singkat ke arah meja. Piring-piring di sana masih tampak utuh, bahkan sebagian belum tersentuh. Ia lalu mengalihkan pandangannya kembali ke pria tersebut. "Sudah berapa lama anda menunggu?" "Lima belas menit," jawabnya cepat. Damian mengangguk

