Siang itu, Damian tiba di kediaman orang tuanya, sebuah rumah megah yang dekorasi interiornya didominasi warna putih abu berdiri di tengah halaman luas. Begitu pintu Rolls Royce hitam terbuka, Damian turun dengan gerakan tenang namun penuh wibawa. Kakinya melangkah mantap di atas batu marmer halaman depan, tubuh tegap dan sorot mata dingin tanpa emosi, seolah tak satu pun orang bisa menyentuhnya.
Dengan napas teratur dan wajah tak terbaca, ia melangkah memasuki rumah itu.
"Damian!"
Langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya, rahangnya mengeras.
"Kamu nggak lihat ada Papa dan Mama di sini, main lewat aja kamu, nggak sopan!"
Damian berbalik, menatap kedua orangtuanya yang tengah duduk di ruang tamu dengan tatapan malas. Sejak awal ia tahu mereka ada di sana, tapi rasa lelah yang masih menggantung di tubuhnya membuatnya memilih langsung melewati mereka tanpa menyapa.
"Ada apa sih, Pa?" suara Damian terdengar rendah namun tajam. Kedua tangannya di letakkannya di pinggang.
"Dari mana aja kamu? Kenapa nggak pulang semalam?"
Damian mendengus seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pa, tolonglah. Memangnya aku ini anak kecil? yang nggak boleh pulang semalaman. Aku ini pria dewasa, aku berhak melakukan apapun yang aku inginkan."
Pria paruh baya berwajah tegas dan memakai kacamata kotak itu sontak berdiri, menatap Damian dengan tatapan tajam penuh amarah. "Tidakkah kamu tahu kalau mamamu mengkhawatirkanmu?"
Damian mengubah posisinya menjadi bersedekap d**a, memutar bola matanya malas. "Dia bukan mamaku," jawabnya tajam.
Sonya, istri kedua Sean adalah mama tiri bagi Damian. Mama kandungnya Damian telah meninggal dunia beberapa tahun lalu akibat sakit keras dan fakta yang membuat Damian marah adalah karena Papanya menikahi Sonya setelah sebulan kepergian mamanya, itu terlalu cepat, bahkan luka di hatinya belum mengering. Selain itu yang lebih mengejutkannya lagi adalah Sonya ternyata adalah cinta pertamanya papanya yang tidak pernah bisa papanya lupakan walaupun keduanya sempat menikah dengan orang lain sebelum memutuskan menikah setelah sama-sama sendiri.
"Damian!"
"Mas," wanita paruh baya berparas lembut yang rambutnya di sanggul itu sontak mengenggam pergelangan tangan suaminya, menahannya untuk tidak berbuat lebih jauh. Ia ikut berdiri, mencoba menenangkan keadaan. "Sudahlah, jangan paksa Damian. Biarkan Damian istirahat dulu, dia terlihat sangat lelah."
"Lelah?" Sang papa mendecak sinis. "Dia pasti hanya bersenang-senang semalam, mabuk-mabukan. Nggak pernah mikirin masa depan restoran."
"Mas, jangan ngomong gitu. Anak muda juga butuh hiburan sekali-kali."
"Iya, aku tahu sayang," balas sang suami. Wajahnya mengeras. "Tapi masalahnya dia udah hampir kepala 3 tapi nggak pernah serius dengan pekerjaannya, nggak pernah serius dalam menjalin hubungan. Gimana mau jadi pewaris keluarga ini? apa perlu Papa alihkan aja semuanya ke Arjuna?"
Damian yang sedari tadi terlihat acuh sontak melirik papanya dengan tatapan sinis saat nama Arjuna disebut. "Arjuna lagi, Arjuna lagi. Papa memang cuma sayangnya sama Arjuna."
Ruangan seketika sunyi. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar, memecah hening yang menekan d**a.
Sean mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Papa sayang kalian berdua. Tapi Papa nggak bisa tutup mata. Papa cuma ingin kamu sadar kalau waktu kamu nggak banyak lagi untuk bersikap kekanak-kanakan."
Damian tersenyum miring, senyum yang lebih mirip luka dibanding sinis. "Kekanak-kanakan? Papa selalu lihat sisi kekanakanku tapi nggak pernah lihat usahaku. Setiap kali aku berusaha buktiin diri, apa pun yang aku lakuin, sekecil apa pun selalu dibandingin sama Arjuna. Selalu salah di mata Papa."
Sang Mama menatap Damian dengan mata berkaca-kaca. "Damian, Mama mohon, jangan ngomong begitu."
Tapi Damian menggeleng, menahan napas berat di dadanya. Ia memalingkan wajah sembari mengigit bibirnya kuat mencoba menelan sakit yang terlalu sering ia simpan sendiri. "Papa tahu kenapa aku males pulang? Karena rumah ini nggak pernah terasa rumah bagiku. Selalu ada standar yang nggak akan pernah bisa aku capai."
Papanya menatap Damian tajam, tapi di balik tatapan itu terlihat sesuatu yang lain, entah marah, penyesalan, atau sekadar gengsi yang menahannya untuk mengakui sesuatu.
Tanpa menunggu respon dari Papanya, Damian melangkah cepat menuju pintu keluar.
"Damian! Kamu mau ke mana?" Sonya memanggil dengan suara bergetar namun Damian tak menjawabnya sekalipun dia mendengarnya.
Pintu tertutup keras di belakang mereka, meninggalkan Sonya yang menahan air mata dan Sean yang mematung dengan tatapan tajam namun tersirat akan penyesalan.
***
Udara siang terasa panas ketika Damian keluar dari mobilnya, namun langkahnya tetap tegap memasuki restoran utama D&A Resto, bangunan mewah nan luas yang terletak di pusat kota. Untungnya dia selalu membawa baju ganti di mobilnya. Jadi tak sulit buatnya untuk berpindah tempat dalam hitungan jam. Para karyawan yang melihat kehadirannya langsung memberi hormat kecil.
"Selamat siang, Pak Damian!"
Damian hanya mengangguk singkat, ekspresinya kembali dingin dan fokus. Mata Damian berkeliling memperhatikan suasana restoran hari ini yang cukup ramai seperti biasa. Ia pun menuju dapur utama. Chef-chef profesional berdiri rapi memberi salam hormat saat ia datang. Damian menggulung lengan kemejanya lalu berdiri di samping Head Chef.
"Saya mau cek menu dessert baru yang akan launching Minggu depan. Kamu sudah perbaiki kesalahan kemarin 'kan? Kita harus cek dan pastikan rasanya konsisten sebelum launching," ucapnya sambil menatap head chef dengan tatapan serius.
"Sudah Pak." Head chef lalu menyajikan dessert baru yang akan segera launching ke hadapan Damian untuk uji coba.
Damian mengambil sendok, mencicipi, lalu mengernyit. "Tekstur mousse-nya masih terlalu berat. Kita harus bikin lebih airy, biar lebih ringan di lidah," komplain Damian begitu detail.
Head chef langsung mencatat cepat, tidak berani membantah. "Baik Pak."
"Ok, saya mau diperbaiki secepatnya dan jangan ada kesalahan lagi agar menu ini bisa launching Minggu depan sesuai jadwal."
"Baik Pak."
Setelah memantau kinerja setiap karyawan, Damian masuk ke ruangannya yang berada di lantai paling atas bangunan, duduk bersandar di kursi kulit eksekutif yang empuk, meluruskan punggungnya dengan kaki terangkat ke atas meja sambil melihat ke langit-langit ruangan dengan tatapan tak berkedip seolah sedang banyak yang dipikirkannya. Ia mengeluarkan napas panjang dan tiba-tiba kejadian di rumah tadi pagi kembali terlintas di pikirannya. "Sial, Arjuna. Aku harus segera menikah sebelum pria sok manis itu mengambil alih semua bisnis keluarga Addison," gumam Damian seraya tersenyum miris.
Dia jadi teringat dengan kata-kata yang pernah diucapkan Papanya padanya bahwasanya untuk bisa mewarisi bisnis keluarganya, Damian addison, anak pertama Sean Addison harus memenuhi satu syarat yang juga tertulis di surat wasiat mendiang kakeknya yaitu harus menikah sebelum usia 30 tahun. Namun setelah ada Arjuna, itu juga berlaku ke Arjuna walaupun Arjuna bukan anak kandung Sean. Sampai kapanpun Damian tidak bisa terima kalau dia bukan pewaris satu-satunya di keluarga Addison. Papanya terlalu menyayangi Arjuna sampai dia bisa mendapatkan warisan keluarga Addison. Di lain sisi dua bulan lagi Damian akan berulang tahun yang ketiga puluh tahun.
Drrtt drrrt!
Di saat pikirannya melayang jauh, ponsel di saku celana Damian bergetar. Nama Dean tertera di layar.
"Halo,"
"Apa?!" Damian sontak menurunkan kakinya. "Kamu sudah menemukan wanita itu?"
"Bagus! Bawa dia ke rumah saya yang ada di kebayoran lama. Sebentar lagi saya akan menyusul ke sana."