Bab 6

1256 Kata
"Hah! Gila! Pacar lo bilang?" Noah tertawa, menatap wanita di sampingnya dengan sinis. "Bisa-bisanya lo ngaku-ngaku jadi pacar gue? Lo lagi mimpi?" Caramel tidak menjawab. Dia mengetahui apa kesalahannya hingga Caramel memilih diam dengan menatap lurus pada jalanan. Kali ini dia akan membiarkan Noah memakinya sesuka hati. "Dibalik sikap defensif lo selama ini ternyata lo suka sama gue sampai ngaku-ngaku jadi pacar gue, begitu?" Noah kembali menyipit curiga. "Jangan-jangan lo sengaja menjebak gue untuk tidur sama lo supaya lo bisa mengikat gue, kan? Itu juga yang lo rencanain dengan ambil hati nyokap gue sampai-sampai nyokap maksa gue untuk bawa lo ketemu sama dia sekarang, itu yang lagi lo lakuin kan?!" Noah membentaknya. Lagi, Caramel hanya diam. Dirinya tidak cukup nyali untuk menyangkal semua tuduhan Noah setelah apa yang dirinya perbuat dengan mengakui Noah sebagai kekasihnya. Termasuk tidak berani bertanya kemana Noah akan membawanya sekarang meski Caramel bisa menduga bahwa Noah akan membawanya bertemu dengan Nyonya Rika, ibu dari Noah. "Ternyata lo muka dua ya. Bersembunyi di balik muka polos lo itu padahal kelakuan lo gak beda sama perempuan jalang di luar sana." Caramel memang akan membiarkan Noah memakinya sesuka hati. Namun saat mendengar kata 'jalang' yang keluar dari bibir laki-laki itu, Caramel tidak bisa tidak menoleh. Dia tidak terima dikatai seperti itu. "Kenapa? Nggak terima? Lo mau menyangkal gimana lagi?" Noah menghentikan mobilnya setelah mobil terparkir sempurna di garasi rumahnya. laki-laki itu memutar tubuhnya menatap wanita besar di sampingnya dengan pandangan benci yang tidak ingin disembunyikannya. "Dengar baik-baik." Noah menekankan suaranya. "Meski nanti gue nggak bisa nolak saat Mami paksa gue untuk nikahi lo, lo tetap nggak akan mendapatkan apa yang lo inginkan. Menikah sama gue akan membawa lo ke dalam neraka. Cam kan itu, Beruang nggak tau diri." *__* "Mami mau kalian berdua menikah. Ini perintah, bukan permintaan." Rika Utama menekankan kalimatnya. "Ck, Mi! Harus berapa kali Noah bilang, Noah nggak mau menikah sama perempuan nggak jelas asal usulnya kayak dia!" Noah menatap Caramel tajam. "Noah!" betak Rika Utama. "Mami nggak suka kamu merendahkan Caramel seperti itu!" "Mi—" "Seperti yang Mami kamu bilang, kalian tetap harus menikah." Tuan Trisna Utama membuka suara untuk yang pertama kalinya. "Saya nggak bisa, Pak." Caramel membuka suaranya. Membuat tiga orang yang ada di sana menoleh padanya. "Saya nggak bisa menikah dengan Pak Noah." "Cara? Kenapa?" Rika Utama menatapnya dengan lembut. "Kalau nanti kamu hamil bagaimana? Noah harus bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat. "Pak Noah bukan satu-satunya laki-laki yang menyentuh saya. Seperti yang Pak Noah katakan, saya yang menggodanya lebih dulu. Saya bukan perempuan baik-baik dan saya tidak pantas berada dalam keluarga ini. Saya permisi." Tanpa basa-basi lagi, Caramel dan tubuh besarnya bangkit dari sofa, keluar dari rumah megah mengabaikan panggilan dari nyonya rumah yang memanggil-manggil namanya. Caramel sudah memikirkannya dengan matang. Noah sudah membantunya—terjebak membatunya—lepas dari Aslan. Maka dari itu Caramel akan membalasnya dengan ini. Caramel tidak akan membiarkan Noah terjebak pernikahan dengannya. Caramel sadar diri, dia tidak pantas untuk siapapun. *__* Dua bulan hidup berdua dengan janin yang ada di kandungannya, membuat Caramel lebih semangat bekerja. Caramel harus semangat untuk mengumpulkan banyak uang lalu pergi dengan calon bayinya dari kota ini. Tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kehamilannya, termasuk ayah dari si janin dan kedua sahabat Caramel. Caramel memang tidak berniat memberi tahu siapa pun tentang kehamilannya ini. "Permisi, Pak." Caramel masuk ke dalam ruangan Adrian dan mendudukan dirinya di sofa yang belainan dengan bosnya itu saat Adrian mempersilahkannya duduk. "Jelaskan pada saya apa maksud surat ini." Adrian melemparkan surat pengunduran diri milik Caramel ke atas meja. "Surat pengunduran diri saya, Pak." Caramel berkata mantap. Tekadnya sudah bulat untuk melakukan semua ini. "Atas dasar apa kamu mengundurkan diri?" tanya Adrian. "Saya ingin memulai hidup baru, Pak." "Sidney tahu tentang hal ini?" tanya Adrian lagi. Caramel menggeleng. Keputusan ini hanya dirinya dan Adrian yang tahu. "Sidney tidak tahu, Pak. Saya juga memohon pada Pak Adrian untuk tidak membicarakan hal ini pada Sidney." "Kenapa?" Caramel tidak menjawab. "Apa hal ini ada hubungannya dengan Noah?" Adrian tidak sembarangan menuduh. Dirinya sempat tahu apa yang mengenai Noah dan Caramel. Temannya itu bercerita secara rinci atas apa yang terjadi. Malam menggairahkan itu, paksaan menikah dari orang tuanya, penolakan Caramel, dan berujung dengan tingkah Caramel yang selalu menghindarinya hingga sampai pada saat ini, surat pengunduran diri. "Kamu hamil?" tebak Adrian langsung. Caramel tergagap. Tidak menyangka dengan apa yang baru didengarnya. Dirinya tidak tahu bahwa Adrian bisa menebak hal seperti itu. "Benar Caramel? Kamu hamil dan mau melarikan diri dari Noah dan keluarganya sebab kamu tidak mau menikah dengan Noah?" "Sa—saya," gagap Caramel. "Kenapa kamu tidak mau menikah dengan Noah, Cara? Bukankah lebih baik jika Noah bertanggung jawab?" "Sa—saya," "Saya menolak surat pengunduran diri kamu." Adrian kembali mengambil surat itu di atas meja lalu merobeknya menjadi beberapa bagian. "Saya akan suruh Noah untuk bertanggung jawab atas kehamilan kamu ini." "Enggak! Saya nggak mau!" Caramel berdiri, menatap Adrian dengan keras, benar-benar menolak apa perkataan Adrian barusan. "Saya minta Pak Adrian tidak ikut campur masalah saya." Caramel tidak pernah berbicara kasar seperti ini sebelumnya. Apalagi dengan bosnya sendiri. Entah faktor kehamilan atau hal lainnya, akhir-akhir ini Caramel memang menjadi lebih berani untuk mengungkapkan apa yang ada di kepalanya. "Saya akan ikut campur, Cara. Kamu bukan hanya sekretaris saya, tapi kamu juga sahabat baik calon istri saya. Kamu juga teman saya, Cara. Kamu banyak membantu saya, jadi biarkan saya membantu kamu kali ini." "Tidak! Jika bantuan yang Pak Adrian masuk adalah menyuruh Pak Noah bertanggung jawab maka jawabannya tidak." Caramel berkata tegas. "Jika Pak Adrian memang ingin membantu saya, tolong bantu saya mempermudah ini semua. Tolong bantu saya untuk memulai kehidupan saya seorang diri dengan lancar." "Cara, kamu sadar dengan apa yang kamu katakan?" Adrian ikut berdiri. Tidak percaya bahwa sekretaris pemalunya bisa berbicara dengan tegas dan lugas seperti ini. "Kamu sedang hamil, Cara. Kamu hamil tanpa suami. Kamu mau anak kamu lahir tanpa ayah?" "Hamil?" Kedua manusia itu menoleh pada pintu. Saat melihat seseorang yang membuka pintu dan berjalan mendekat pada mereka, Caramel pucat pasi. "Siapa yang hamil?" Sidney menatap kedua orang di depannya dengan nyalang. "Kamu hamil, Cara?" tanyanya. Kali ini, Caramel menunduk. Nyalinya ciut dan tidak seberani tadi saat Sidney menatapnya dengan tajam. Semakin ciut saat Adrian mengajak duduk tunangannya dan menceritakan apa yang terjadi pada Caramel sekarang ini. *__* "Apalagi yang ditunggu? Kalian harus menikah. Segera." Sidney menekankan perkataannya. "Sid, aku udah bicara berulang kali. Aku. Tidak. Mau. Menikah." Caramel tidak kalah keras kepala. "Kamu mau anak kamu lahir tanpa ayah? Kamu mau anak kamu diejek orang lain karena gak punya ayah?" "Apa anakku akan bahagia kalau dia punya ayah yang membenci kehadirannya?!" Noah yang sejak tadi diam menatap kedua perempuan di depannya berdebat kini menegakkan tubuhnya. Perkataan Caramel begitu menohoknya. Meski tidak mengharapkan kehadiran janin yang ada dalam kandungan Caramel, bukan berarti Noah membenci kehadirannya. Noah hanya membenci wanita yang mengandung janinnya itu. "Ka—" "Cara benar." Milan memotong Noah yang baru saja hendak membuka suaranya. "Pernikahan karena Cara hamil bukan berarti semua akan bahagia. Cara akan tertekan sepanjang pernikahan, begitu juga bayi yang akan lahir. Jaman sekarang ini banyak ibu tunggal yang membesarkan anak mereka sendiri. Tanpa sosok laki-laki, apalagi laki-laki pengecut yang nggak mau mengakui kesalahan." Perkataan Milan telak menghantam harga diri Noah. Membuat laki-laki itu bangkit dari kursinya lalu menarik lengan besar Caramel dan menyeretnya dari sana. Noah perlu bicara berdua dengan beruang pembuat masalah ini, tidak peduli teriakan orang-orang di sana yang menyuruhnya untuk melepaskan Caramel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN