Part 15 (Cari Omong Kosong Itu di Mataku)

1439 Kata
Pagi hari di sekolah, saat semua siswa membicarakan Super X yang mampu merajai tangga lagu dunia. Menggemparkan publik Koreanesia dan bahkan Menteri Ekonomi Kreatif memberikan penghargaan khusus tadi malam, Presiden juga secara resmi menyurati Super X untuk datang ke istana. Semua euforia itu benar-benar terasa dari kota hingga distrik-distrik di ujung negara. Namun, tidak terasa sama sekali bagiku. Seperti hambar, aku terus merasa rindu tapi otakku ingin realistis menilai hidup. Seorang guru di distrik terpencil jatuh cinta dengan seorang idola kelas dunia. Itu biasa, mudah bagi banyak penggemar jatuh cinta pada selebriti. Akan tetapi, untuk memiliki dan memimpikan sesuatu yang indah bersama itu sangat mustahil. Hanya delusi saja yang tercipta sekelebat mata. Aku harus menyadari itu tapi hatiku terus meronta. "Hara," panggil Juna saat aku berjalan menuju kelas XI C. "Kenapa kamu terus menghindariku?" "Aku tidak menghindar," balasku singkat tepat ketika kakinya mengiringi langkahku kompak. "Lantas, apa namanya?" Benar, aku memang menghindarinya karena kebingunganku. Aku bingung dengan apa yang kurasakan dan ditambah perasaan tidak enakku pada Juna. Dia begitu baik, dia hangat, tapi aku tidak bisa jatuh cinta dengannya. Itu aneh tapi lebih baik selama dia masih mengingat perempuan di pemakaman yang dia ceritakan. "Jangan menghindariku hanya karena kamu memilih Gazza. Aku mungkin tidak suka dan patah, tapi itu lebih baik daripada sudah dipatahkan masih dianggap gaib," katanya memegang tanganku di depan pintu kelas XI C. "Aaaa, Pak Juna! Kenapa terus membuat kami patah hati?" seru seorang siswi yang duduk di dekat pintu. Aku langsung melepaskannya dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Juna juga begitu, dia langsung pergi ke kelas XI B. Ada jadwal di sana. Selama jam pelajaran, murid perempuanku banyak yang bertanya apa aku punya hubungan khusus dengan Juna tapi kami sungguh tidak melakukannya. Ya, mungkin ada sesuatu tapi seperti tak ada getaran kuat di antara kami. "Hush, Pak Juna sama Bu Hara cocok lagi. Pak Juna ganteng banget pun, Bu Hara juga cantik. Cocok!" celetuk Udin. Padahal topik kami telah berganti pada Kahlil Gibran. "Gantengan juga Gazza," balas salah satu siswi berambut panjang. Dia sepertinya bukan penggemar Juna, padahal hampir 85% siswi di sini mengidolakan Juna. "Berarti mending Bu Hara sama Kim Gazza?" "Nggak lah, Udin Suradin! Mending sama Pak Juna aja deh, udah ah, lagian seru nih bahas Kahlil Gibran." Aku tersenyum kaku, karena nama Kim Gazza disebut, hatiku menjadi tidak baik-baik saja. Ini bahkan sudah 3 Minggu berselang sejak Gazza datang lagi ke rumah. Dia tidak pernah menghubungiku lagi, kurasa karena itu otakku terus meminta agar aku realistis. Semua yang dia ungkapkan memang hanya bualan. Rindu? Bahkan dia tidak menghubungiku sekadar menyampaikan kata rindunya. Pulang ke rumah tanpa Juna, aku sengaja pulang lebih dulu. Tentu saja, aku benar-benar menghindarinya. Namun, aku tidak bisa menghindari Bibi Ni. Beliau sering menungguku sekadar menanyakan apakah Gazza datang ke rumahku atau tidak. Hari ini, Bibi Ni juga menungguku di depan rumahnya. "Hara, Gazza menunggumu di rumah sejak siang tadi," katanya dengan senyum lebar. "Tidak mungkin, Bi." "Sungguh, dia baru saja membawakan daging sapi terbaik untuk Bibi. Bahkan dia memberikan tanda tangannya di album terbaru." "Astaga, untuk apa Bibi punya album terbaru Super X. Bibi tidak cocok dengan genre musiknya," protesku. "Ah, cocok-cocok saja. Kalau tidak cocok yang penting dicocokkan. Zaman sekarang, yang penting selebriti itu ganteng," selorohnya. "Sudah-sudah, cepat masuk ke rumah.  Dia menunggumu di dalam." "Tidak mungkin, Bi." Kenapa? Karena aku tidak pernah merasa memberikan password pintu rumahku pada Gazza. Mana mungkin dia tahu. Bahkan Juna yang bolak-balik datang ke rumah untuk mengantar makanan dari Bibi Ni pun tidak tahu password rumahku. "Aishh, kalau tidak percaya masuk saja." Antara percaya dan tidak percaya. Karena Bibi Ni orang baik, aku mempercayai ucapannya tapi tidak mungkin karena beliau mengatakan Gazza menungguku di dalam rumah. Masuk ke dalam rumah dan mendapati Gazza sedang memasak untuk di dapur kecilku. Gazza bertanya, "Apakah kamu sudah makan?" "Bagaimana kamu bisa masuk?" tanyaku terkejut di dekat dapur. Gazza tersenyum. "Kamu menggunakan tanggal lahirmu untuk password rumah. Itu password yang sangat lemah dan mudah dibobol. Tolong ganti setelah ini." "Tapi kamu tidak tahu... Ah, benar kamu mencuri kartu pendaftaranku." Tersenyum lagi. "Apa kamu sudah makan?" Aku menjawab belum meski dia sudah menghabiskan dua roti dalam perjalanan pulang dan perut kecilku terbiasa makan sedikit. Aku hanya mencoba menghormati Gazza karena memasak di rumahku. Jawaban itu juga kenyataannya membuat Gazza tersenyum lebar dan semakin terampil memainkan sendok di tangannya. "Tunggulah, sedikit lagi," pintanya tersenyum ke arahku. Tahu apa yang paling memikat di dunia ini selain menyaksikan peluh laki-laki membasahi dahi usai berolahraga? Benar, menyaksikan seorang laki-laki yang tengah memasak juga memikat hati. Lebih-lebih seorang idola yang melakukannya. Bukankah itu hampir membuat pingsan mata yang memandang? Tampannya sungguh kelewatan. Tak lama, Gazza membuka celemeknya, hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana jeans hitam. Visualnya hampir membuatku lupa daratan. Dia berkata, "Oh, kenapa kamu tidak ganti baju dulu?" "Bukankah kamu memintaku menunggu?" "Ya, tapi bukan..." Menghela napas, tersenyum padaku, berjalan mendekatiku. "Apa aku terlalu tampan untuk dilewatkan barang hanya sedetik saja?" "Ishhh!" desisku kesal tapi nampaknya pipiku memerah, terasa sedikit panas. Aku pun segera masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Menyiapkan jantung untuk beberapa menit baru keluar kamar, mendapati Gazza sudah duduk di meja makan. "Ayo makan," ajaknya berdiri menarik kursi untukku. "Kenapa kamu selalu datang ke sini? Bukankah kamu menyadarinya bahwa kamu telah memposisikanku ke dalam bahaya?" "Aku tahu, tapi kurasa lebih berbahaya saat aku merindukanmu." Mengambilkan sepiring pasta untukku. Kami menikmati pasta buatan Gazza dan aku hanya mengambil beberapa sendok saja. Gazza bertanya, "Kenapa hanya beberapa sendok?" "Aku diet," balasku. Itu karena sudah penuh perurku. "Aish, makan lagi. Aku tidak menerima laporan diet. Tubuhmu sangat kecil, diet hanya untuk orang-orang yang tidak percaya diri dengan tubuhnya." "Aku pun tidak percaya diri." "Kamu diet meski kamu bertubuh kurus? Maksudku kurang dari idealnya." Diam beberapa saat. "Kamu juga terpaksa diet untuk menjaga perut roti sobekmu." "Ya, itu tuntutan tapi aku menyukai perempuan yang banyak makan." "Kalau begitu jangan menyukaiku." Gazza menghentikan gerak sendoknya. "Bagaimana bisa sementara itu sudah terlalu dalam?" Aku tertegun beberapa saat. "Kamu harus pulang!" titahku. "Apakah akan pertemuan lagi? Kapan kamu ada waktu untukku?" "Tidak, tidak ada pertemuan guru. Aku hanya tidak bisa membiarkanmu berlama-lama di sini. Aku takut banyak orang tahu dan aku akan terlibat masalah. Apa kamu tahu hidupku sudah terlalu banyak masalah? Kamu mau menambahinya?" "Tidak, berbagilah denganku. Aku akan membantumu. Aku hanya jatuh cinta denganmu, bagaimana bisa jatuh cinta itu sebuah masalah?" "Ah, berhentilah membual. Kamu tidak benar-benar jatuh cinta denganku. Bukankah ini seperti dongeng Cinderella, tapi lebih pada omong kosong. Bagaimana mungkin seorang..." Gazza mendekatiku, mencengkram bahuku. "Tolong cari omong kosong itu di mataku!" Aku tidak bisa menjawab apapun. Jantungku pun bergetar setiap gerak lempeng-lempengnya mengguncang. Sebab, jantungku tidak tahan lagi. Aku berlari ke dalam kamar dan mengunci pintu. "Biarkan aku masuk, aku ingin tidur di sampingmu beberapa saat. Aku merindukanmu dan aku juga merindukan ibuku. Aku terus bermimpi buruk, dan aku merasa sedikit lebih tenang saat di sampingmu," ungkapnya sembari mengetuk pintu. "Tidak! Meskipun aku mengalami banyak hal, aku tetap tahu batasan yang agamaku buat, meski tidak sebaik orang-orang di luar sana. Aku berusaha menjaganya. Kamu harus menghormatiku." Tidak ada jawaban. Ketukan pintunya pun berhenti. "Maaf, tapi aku akan terus datang sekadar melihat wajah cantikmu. Aku juga akan terus datang untuk bercerita denganmu, atau bahkan mendengarkan ceritamu." "Tidak perlu." Aku terus merindukannya tapi saat dia akan di dekatku, otakku seolah disadarkan bahwa dia harus lebih realistis dalam jatuh cinta. "Lucu sekali. Aku jatuh cinta dengan mudah dan merindukanmu seperti orang gila, sayangnya aku terus diabaikan. Ketika jarak merajut rinduku padamu, apakah sekali saja kamu pernah memikirkanku? Jika tidak, itu semakin mengecewakan." Aku ingin menjawab bahwa aku terus memikirkannya, sama seperti orang gila. Karena hati dan otakku bingung, tapi perasaanku seolah tak ada keraguan. "Aku tidak mabuk, bahkan meski aku ingin mabuk agar dapat melupakan kenangan burukku. Tapi anehnya, saat mengingatmu, aku tidak perlu beer untuk melupakan semuanya." Diam. Jujur saja, aku sedikit terbuai oleh kata. "Tak apa, tak akan mudah bagimu untuk mengerti kenapa aku jatuh cinta denganmu. Aku akan memberimu waktu untuk mengerti. Asal kamu tetap mengizinkanku mengunjungimu saat rinduku sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Kamu tidak akan keluar untuk melihatku sekali lagi?" Aku ingin tapi aku tidak bisa, bukan, aku takut. "Aku pamit dulu, dua Minggu lagi jika bisa aku akan datang. Luangkan waktumu sebentar saja." Beberapa saat tidak lagi ada suara. Hingga terdengar kunci rumahku berbunyi. Aku segera berlari ke depan rumah dan mendapati Gazza berlari dengan jaket hitam, kacamata hitam, serta masker putih menuruni anak tangga. Dia pasti kesulitan menyembunyikan identitasnya untuk datang ke mari, bahkan di siang hari saat banyak orang sibuk di jalanan. Aku merindukannya tapi aku takut tentang kenyataan kasta di antara kita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN