Part 9 (Pertemuan Bibi Ni dan Gazza)

1725 Kata
Malam ini kami kembali berakhir di balik jendela kaca, menikmati bintang-bintang tanpa hembusan angin malam. Bukan tidak menginginkan dersik yang lembut, kami tidak bisa melakukannya karena tidak ingin orang melihat kami. Begini pun Tuhan telah menyuguhkan lukisan yang sangat sayang untuk dilewatkan. "Ke mana orang tuamu?" tanya Gazza tiba-tiba di tengah hening kami. Tersenyum getir. "Sudah di surga." "Oh, maaf." "Tak masalah." "Aku hanya penasaran karena ada perempuan cantik, masih muda mau mengajar di pedesaan." "Ada juga laki-laki tampan dan masih muda mengajar di sini kok." "Oh ya?" Mengangguk-angguk, mengingat bagaimana Juna tersenyum. "Namanya Arjuna, dia tinggal dua petak di bawahku." "Wah, mungkin kalian akan segera jatuh cinta dan menikah." Terkekeh. "Ah, hidupku terlalu berat sampai tak sempat berpikir untuk menikah." "Aish, bahkan hidup idol yang berat tetap masih sempat berpikir untuk menikah." "Hidupku jauh lebih berat dari hidupmu." "Oh ya? Orang tuamu bahkan tidak meninggal karena dibunuh suaminya sendiri tapi kamu mengatakan hidupmu berat," gumamnya. "Ah tidak, hanya lelucon." Bahkan jantungku sudah berhenti untuk beberapa detik saking terkejutnya. Namun, Gazza mengatakan seolah dia bercanda. Meski sorot matanya tidak sebercanda itu. "Hidup berat itu ketika mengetahui ibumu dibunuh suaminya sendiri dan kamu hanya bisa diam, bukankah begitu? Menurut novel terbaru Lee Jumi." Gazza terkekeh. Mungkin benar dia hanya bercanda, matanya memang selalu layu sejak bertemu denganku pertama kali, bukan? "Novelnya terlalu tragis," balasku. Sebab novel yang dia sebutkan memiliki akhir yang menyedihkan dan kejam. Sang anak yang merasa bersalah dan tersenyum palsu sepanjang hidupnya pun berakhir mati dengan rasa bersalahnya. Dia mengurung diri sendiri di ruang bawah tanah rumahnya dan tidak satupun menemukan jasadnya. Terlalu tragis bagiku. "Ah, aku pasti akan mendapatkan banyak ceramah dan teguran dari kakak-kakakku," keluhnya menghela napas beberapa kali. Aku menyalahkannya karena dia bertindak tanpa berpikir lebih jauh. Dia masih bisa menjawab bahwa itu karena dia benar-benar sudah muak tapi sekarang dia sedikit menyesalinya. "Sebenarnya aku pun tipe manusia yang tidak suka basa-basi baik dalam ucapan atau sikap. Aku hanya berusaha menahannya karena aku seorang selebriti. Bahkan ketika aku menyukai perempuan, aku akan mengatakannya karena tidak bisa berpura-pura tidak menyukainya. Jika kamu hidup denganku beberapa hari saja, kamu akan tahu bahwa mataku tidak bisa berbohong." "Kita bahkan sudah hidup beberapa hari bersama," gumamku. "Ya, itu artinya kamu tahu belum lama ini aku berkata jujur soal diriku." Bagian mana? Terlalu banyak yang Gazza katakan. Mungkinkah semuanya jujur? Termasuk lelucon novel karya Lee Jumi? Sungguh? "Kak Delvin dan member lain sering mengatakannya bahwa mataku sebenarnya tidak bisa berbohong. Hanya karena mata kamera berbeda, aku terlihat baik-baik saja." Kami banyak bercerita dan aku hanya bisa menerka mana yang bohong mana yang tidak. Dari sorot matanya di malam hari, perihal seorang ibu yang dibunuh suaminya sendiri seolah bukan karangan dan bukan sadur ulang sebuah novel. Akan tetapi, aku tidak memiliki hak untuk bertanya lebih jauh atau memastikannya. Aku hanya diam dan menerka hingga larut malam, bahkan hingga Gazza jatuh di bahuku karena rasa kantuknya.  "Hara! Apa kamu tidak mengajar hari ini?" ketuk Juna di balik pintu rumahku. Sementara aku masih panik mencari beberapa buku tugas milik siswaku. Gazza bahkan belum beranjak dari tempatnya di lantai kamarku. s**l, aku kesiangan.  Meninggalkan secarik pesan untuk Gazza dan berlari keluar. "Iya, aku siap!" Membuka pintu dengan deru napas yang sedang kuatur. "Aku kesiangan."  "Hem, aku tahu. Bahkan kamu tidak sempat menyisir rambutmu. Apa kamu banyak pekerjaan untuk mengoreksi tugas anak-anak?"  "Ah, ya." Menyisir rambut dengan jari-jariku. Bahkan di pagi hari aku sudah memulainya dengan kebohongan dan segala macam kekacauan.  Di tengah perjalanan, aku sebenarnya ingin bercerita tentang Gazza pada Juna, tapi aku masih sedikit bingung. Aku ingin meminta bantuannya untuk mengantar Gazza ke halte bus atau persimpangan taksi besok malam. Gazza sudah mengatakan padaku bahwa ia akan kembali besok malam dan dia sedang menyiapkan mentalnya.  "Juna, em, nggak jadi."  "Kamu sudah mengulangi kata itu puluhan kali sejak kita menuruni anak tangga. Anehnya aku tidak merasa bosan. Hem, panggil terus namaku sampai kamu jatuh cinta padaku." "Ya!" protesku menepuk bahunya. Dia mengenakan kemeja putih dengan jas merah maroon-nya. Juna selalu memikat siapa saja yang melihatnya. Di sela tawa kecil Juna, aku mengatakan, "Gazza menginap di rumahku sudah tiga hari nanti, rencananya empat hari." Juna langsung  menghentikan kayuhan sepedanya. Kami berhenti tepat di depan gerbang sekolah. "Tolong jangan berhalusinasi lagi. Semua manusia memang memiliki masalah yang berat, tapi berhentilah berhalusinasi untuk bahagia. Karena bahagia yang sesungguhnya adalah rasa syukur bukan bayangan yang kita ciptakan." "Ya!" Aku tidak percaya Juna akan mengatakannya. "Haishhh, aku bahkan sedang tidak berhalusinasi. Aku hendak meminta bantuanmu besok malam untuk mengantarnya ke halte bus, tapi tidak perlu, aku akan mengantarnya sendiri." Berdecak kesal meninggalkan Juna yang masih mematung.  "Hara!" panggilnya yang sudah tertinggal jauh. "Ya! Apa kamu mengatakan yang sebenarnya? Ya! Benarkah Kim Gazza di rumahmu? Ya!" Berjalan cepat mengikutiku dan membuatku kesal, bisa-bisanya mulut manis itu membuka suara semacam itu. Tentu saja aku tidak tinggal diam, aku langsung berlari mendekati Juna sementara para siswa-siswi yang mendengar pekiknya mematung menatapku penuh tanya.  Aku menjepit leher Juna dan membungkam mulutnya dengan telepak tanganku. "Mulutmu!" dengusku dengan gigi yang rapat.  "Ah, ah," keluhnya kesakitan. "Iya, iya, maafkan aku. Tapi jelaskan dulu, bagaimana bisa kamu tidur bersama dengan Gazza tiga hari, apa kamu gila?"  "Ya!" pekikku. "Aku tidak tidur bersama Gazza, tunggu, tapi semalam, ahh!"  "Hah?" Juna melepas jepit tanganku. "Kamu tidur sam..." "Aishh, tidak seperti yang kamu bayangkan." "Bu Hara," panggil salah satu siswi kelas XI C dengan nada rendahnya. "Kim Gazza ada di..." "Ha-ha." Juna tertawa keras. "Mana mungkin? Bu Hara ini sedang berhalusinasi, dia sedang merancang outline novel bergenre fiksi penggemar. Soal Kim Gazza, bisa-bisanya dia bayangkan kalau Kim Gazza ada di rumahnya. Ha-ha." Nampak puas sekali mentertawakanku, tapi itu benar-benar membantuku.   "Wah, Bu Hara benar-benar penggemar Super X." Siswi itu tersenyum lebar, hingga nampak barisan giginya yang rapi berpagar. "Bu Hara, aku mencintaimu!" Berlari sembari membentuk tanda cinta dengan tanggannya di atas kepala.  Aku hanya bisa tersenyum kikuk lantas meluapkan amarahku pada Juna. Dia terus bertanya apa aku mengatakan yang sebenarnya, sudah kujawab tapi dia tidak mempercayaiku. Aku mulai menceritakan semuanya, kejadian di malam itu dan menunjukkan berbagai artikel yang mengatakan bahwa Gazza menghilang tanpa kabar. Namun, pihak agensi membantah jika Gazza menghilang, Gazza ada di rumahnya sendiri dan dia sedang sakit. Kenyataannya dia ada di rumahku dan memang sakit.  "Tanpa bukti itu namanya berita bohong." "Haish, nanti ke rumahku. Aku akan mengenalkannya padamu." "Apa dia tampan?" "Ya! Apa kamu penyuka sesama jenis?" "Tidak, jika dia memang tampan aku yakin itu memang Gazza." "Hem, dia tampan, tinggi, badannya bagus, ototnya bagus, dia cuma ada masalah sama otaknya," balasku hendak memasuki kantor guru.  "Hei, tunggu. Bagaimana kamu bisa tahu ototnya bagus? Apa kamu benar-benar..."  "Tidak! Aku belum gila." Aku tahu ke mana arah pemikirannya. Tidak mungkin aku menghabiskan malam panjang dengan Gazza dalam artian yang kotor. Bahkan setampan-tampannya dia, aku tidak mungkin melakukan hal k**i.  "Hei, jangan berdusta," godanya menoel-noel lenganku.  Melempar pelototan mata untuknya. Aku hanya memintanya untuk datang ke rumah lepas mengajar nanti dan dia setuju.  Pulang mengajar, aku mengajak Juna mampir ke Toko Bibi Ni untuk membeli bahan pokok tapi pintu toko terkunci. Juna juga bingung kenapa Bibi Ni tidak membuka tokonya padahal tadi pagi Bibi Ni berangkat lebih awal ke toko karena bertekad menjual lebih banyak barang. Akhirnya aku kembali dengan tangan kosong. Setidaknya aku harus memberikan makan enak untuk Gazza sebelum  kami berpisah besok, mungkin memang bukan waktu yang tepat untuk melaksanakan upacara perpisahan.  "Apa itu benar-benar Kim Gazza?" "Iya, Juna. Harus berapa kali aku mengatakannya?" "Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?" "Itu  karena aku tidak memperacayaimu," ceplosku.  "Aku juga sedang tidak mempecayaimu sekarang." "Ya! Aku berkata jujur. Lihat, jika benar itu Gazza, kamu harus memberitahuku tempat terbaik di sini untuk melihat matahari terbenam." "Baiklah." Membuka pintu dan tidak mendapati siapapun di dalam rumah. "Gazza?" panggilku sedikit memelan, tak ingin terdengar penghuni lain. "Aish, di mana dia?" Membuka kamar mandi dan tidak mendapati siapapun di dalamnya. Juna terus mengoceh dan mengatakan bahwa aku sedang berhalusinasi, tapi aku berkata jujur padanya. Aku hanya sedang kehilangan Gazza sekarang. "Ya, ke mana dia? Sudah kubilang agar dia tetap di rumah," gumamku menengok ke luar rumah. Menyisir semua tempat yang bisa kujangkau dengan mataku. s**l, aku tidak menemukannya meski hanya helai rambut.  "Hara, kenapa kamu menyembunyikan seorang idol di rumahmu tanpa memberitahu tetua?" pekik Bibi Ni muncul tiba-tiba dari dalam rumahnya dengan cepat, masih mengenakan celemek, dan membawa sendok nasi dan sekotak teh hijau di tangannya.  Mataku terbelalak karena Bibi memekik cukup keras. Aku langsung turun mendekati Bibi Ni berharap beliau tidak berteriak lebih keras dan bersandiwara seolah tidak tahu apa-apa. Aku benar-benar takut. "Maaf?" Aku dan Juna bingung di depan beliau.  "Beberapa orang dari agensi datang kemari dan menggedor pintu rumahmu keras-keras. Bibi mengatakan pada mereka bahwa pemilik rumah sedang mengajar. Mereka menjawab sudah tahu tapi yang mereka butuhkan adalah laki-laki yang kamu culik dan ternyata dia idol terkenal. Bagaimana bisa perempuan yatim piatu, lajang, dan seorang guru sepertimu menyembunyikan laki-laki yang bukan suamimu di rumah? Apa kamu sudah kehilangan tata kramamu?" "Maaf, saya tidak bermaksud..." "Bibi tidak akan mengatakan pada siapapun soal ini. Hanya Bibi saksi matanya. Tapi tolong, katakan pada Bibi jika dia datang lagi ke rumahmu," ungkapnya dengan senyum yang lebar. "Maaf?" Aku bingung oleh sikapnya, kupikir Bibi Ni akan membunuhku dengan kata-katanya tapi dia terdengar baik-baik saja meski mengetahui kenyataannya. Aku pun benar-benar buruk dalam berbohong dan menyembunyikan sesuatu.  "Bibi ingin meminta tanda tangannya." Aku hanya tertawa kaku. "Tunggu, jadi apa benar yang di rumah Gazza itu Hara, ah, yang di rumah Hara itu Gazza?" Juna masih belum sepenuhnya percaya pada titik ini dan Bibi Ni dengan semangat menjelasakan semua kronologinya. Sesekali mengumpat padaku karena menyembunyikan laki-laki yang bukan suamiku. "Bibi hampir pingsan melihat laki-laki tampan itu keluar dari pintu rumahmu. Dia dikawal beberapa orang dan dia hanya mengatakan agar Bibi melindungimu. Pihak agensi juga meninggalkan ini untuk jaminan agar Bibi tidak membuka suara. Bibi pikir hanya teh hijau biasa, nampaknya Bibi salah." Memberikan kotak teh hijau kepadaku. Saat aku membukanya, ada beberapa uang tunai berjumlah besar di dalamnya. Aku menatap Bibi bingung dan beliau hanya mengatakan bahwa beliau tidak bisa menerimanya, memintaku untuk mengembalikannya jika bertemu dengan Gazza.  "Bibi bawa saja dulu, saya juga tidak tahu caranya mengembalikan. Saya yakin Gazza tidak akan kembali ke sini." "Kenapa? Bukankah kalian saling mengenal makanya kamu menyimpan dia diam-diam di rumahmu?" "Tidak, Bi. Saya tidak mengenalnya. Saya hanya membantunya saat mabuk tiga hari yang lalu." "Ya!" Bibi memekik dan memukul pantatku dengan sendok nasinya keras-keras. "Apa kamu sudah gila?" "Saya pikir juga begitu." "Ya!" Memukul pantatku lagi. Aku memang pantas mendapatkannya.  "Wah, aku masih tidak percaya. Kim Gazza, wah," sela Juna masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi begitulah kenyataannya. Kim Gazza, laki-laki dengan tinggi 183 cm dan wajah tampan itu benar-benar pernah menginap di rumahku. Mungkin aku orang yang paling beruntung di dunia menurut beberapa penggemar tapi rasanya tidak begitu, dia benar-benar merepotkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN