Part 13 (Kita Berkencan?)

1361 Kata
"Aishhh, di mana aku menaruh kartu pendaftaran guru SMA Guangsi? Sepertinya aku terlalu banyak memakan p****t ayam tapi aku mendadak menjadi pelupa," racauku mengacak-acak kotak penyimpanan di bawah tempat tidurku. Aku ingat sekali menaruhnya di dalam kotak, aku juga terhitung orang yang rapi dalam menata barangku. Tidak mungkin aku melupakannya tapi benar-benar tidak ada. Aku mencarinya seperti orang gila. Mengingatnya lagi dan lagi. Mungkin aku tak sengaja mengeluarkannya saat hari pertama mengajar. Kalaupun aku mengeluarkan kartu itu, sudah pasti ada di atas meja atau di dalam tas kecilku. Namun, tidak ada sama sekali di sana. Sekadar sobekan kertas kecil pun tidak ada. Padahal kartu itu harus kugunakan untuk verifikasi ulang di Dinas Pendidikan Distrik Guangsi besok pagi. Bergegas menuruni anak tangga, meminta bantuan Juna. "Heih, bagaimana bisa kamu kehilangan kartu sepenting itu?" tegurnya begitu aku menceritakan semua di depan rumah Juna. "Aku selalu menaruhnya di dalam kotak, kalaupun aku mengeluarkannya, aku hanya akan menaruhnya di atas meja atau di tas kecilku. Tapi tidak ada sama sekali," keluhku menaiki anak tangga, mengikuti Juna. Mungkin dia akan membantuku mencari di setiap sisi rumahku. "Ah!" pekikku saat beberapa kata merasuk ke dalam telingaku. Aku ingat tentang apa yang dikatakan Gazza sebelumnya, bahwa dia membawa salah satu barang yang hilang dari kamarku. Sehingga dia mengetahui siapa namaku tanpa aku mengatakannya. "Kenapa?" "Sepertinya dibawa Gazza," jawabku. "Eh, mana mungkin? Kurang kerjaan sekali bayi besar itu membawa kartu pendaftaranmu." "Ya, dia juga kurang kerjaan saat datang ke mari dan berbicara omong kosong 2 hari yang lalu." "Benar juga. Mungkin Super X sedang meredup sekarang, tidak ada jadwal." "Tidak mungkin juga, mereka bahkan sedang melakukan tur Eropa." "Ya! Orang akan berpikir kamu benar-benar kekasih Gazza karena hafal jadwal turnya." "Haiish!"  Juna memutar balik langkahnya, dia justru menuruni anak tangga dengan langkah kesal. Tentu aku memprotes langkahnya, dan dia hanya mengatakan, "Aku kesal jika harus membahas Gazza. Tidak tahu kenapa. Ah, tapi aku baru saja ingat bahwa nomor pendaftaran guru bisa dilihat di situs resmi sekolah." Aku tersenyum dengan sedikit godaanku untuknya. "Apakah kamu cemburu?" "Sedikit." "Tapi kita tidak memiliki hubungan apapun. Kamu juga masih terikat dengan masa lalumu." "Ya, ah lagipula aku insecure jika harus bersaing dengan Gazza." "Ehem." Seseorang berdeham melewati kami dengan pakaian serba hitam, masker hitam, dan kacamata hitam. "Selamat sore, Pak," sapaku mencoba berbaik hati menyapa tetangga lebih dulu. Bagaimanapun, aku tidak ingin hidup seperti di perkotaan, di mana tetangga tak saling sapa dan bahkan tak saling mengenal. Akan tetapi, orang yang baru saja kusapa mengabaikanku. Dia segera memasuki rumahnya tanpa sedikitpun menoleh ke arah kami. Cukup membuat kami kaget, semakin menegaskan bahwa dia mungkin saja memiliki gangguan sosial. Mengabaikan tetangga baru kami, Juna menuntunku untuk membuka gawai dan berselancar di situs resmi sekolah. Kami menemukan kartu pendaftaranku dalam bentuk foto. Aku bisa mencetaknya besok dan mengisi data verifikasi di sekolah. Ah, akhirnya aku merasa lega. Juna memang yang terbaik dalam membantuku. Jelang malam, aku menikmati camilan serta menonton acara ragam Super X. Kali ini siaran langsung apa adanya dengan judul Super X Tour De Europe. Tingkah polah anggota Super X yang ramai seolah-olah sangat nyata, tapi mengingat tangisan Gazza dan keluhannya, kupikir semua sudah tertulis dalam naskah buatan agensi. Menyenangkan melihat mereka bercanda dan bersendagurau tapi pikiranku terbang pada malam-malamku bersama Gazza. Sepertinya aku sangat merindukan dia, tidak, merindukan tampilan wajah polosnya yang begitu jujur. Mungkin. "Aku sedang berada di Paris, tepatnya di Pont des Arts. Aku menuliskan nama kita di gembok cinta, tentu tanpa sepengetahuan siapapun dari agensi. Hanya Kak Delvin yang tahu, tidak sengaja dia memergokiku. Selain menulis namamu, aku menulis bahwa aku terus memikirkanmu di sini seperti orang gila. Aku benar-benar merindukanmu," tulisnya dalam sebuah pesan singkat. Benar, dia sudah pasti tahu nomor ponselku jika yang dia ambil dari kamarku adalah kartu pendaftaran guru SMA Guangsi. Pintar sekali dia mengambil kepunyaan orang lain. Tak sadar aku tersenyum membaca pesannya. Bagaimana aku bisa yakin itu Gazza? Tentu saja, dia mengirim sebuah foto gembok bertuliskan nama kami. Aku tidak ingin berharap tapi seolah harapan besar tumbuh dalam diriku. Jika sedang waras, bukankah Juna lebih baik dari Gazza? Akan ada banyak rintangan jika aku bersedia dengan Gazza tapi akan terasa indah dan sederhana bila aku bersama Juna. Bahkan, kesalahan besar menantiku jika aku menaruh harapan pada seorang selebriti. Aku tidak membalasnya, bahkan meski hatiku luluh melihat gembok besar dalam foto. Tanganku bisa mengabaikan tapi hatiku seperti tidak bisa, dia terbang. Bukankah sekeras apapun otak menolak, hati lebih pandai dalam bertindak? Hari berganti lagi dan Gazza terus mengirim pesan padaku. Pesan rindu yang berjilid-jilid. Dia juta mengatakan bahwa dia akan segera menemuiku setelah pulang dari Eropa, dia akan datang ke rumahku lagi. Barulah aku menjawab agar Gazza tidak datang dan mengatakan padanya untuk segera mengembalikan kartu pendaftaranku yang dia curi. "Akhirnya kamu menyadari apa yang telah kucuri. Satu hal lagi yang telah kucuri tapi belum kamu sadari, he-he," ungkapnya melalui pesan singkat. "Terserah, tolong jangan datang ke mari lagi!" balasku berbentuk pesan suara yang mengancam. Karena Bibi Ni terus menanyakan Gazza dan itu akan menjadi malapetaka bagiku jika tetangga lain mengetahuinya. Aku sungguh tidak mau terlibat skandal apapun lagi. Hidupku sudah cukup berat, aku hanya ingin hidup tenang. Akan tetapi, beberapa Minggu berselang, Gazza benar-benar datang dan berjumpa dengan Bibi Ni di depan tangga menuju rumahku. Mereka berbincang dan Gazza nampak memberikan sesuatu pada Bibi Ni. Tentu saja, Gazza tidak serta merta menampakkan wajahnya. Dia mengenakan pakaian serba hitam dan hanya menampakkan matanya. Oleh sebab kejadian malam itu, aku dapat mengenalinya hanya dari dua bola mata. "Bibi," panggil Juna yang berjalan di samping kiriku. Bibi Ni menoleh. "Hara, Bibi Ni akan membiarkanmu menyembunyikan dia, tapi biarkan Bibi Ni memasak untuknya setiap kali dia datang. Dan biarkan Bibi Ni memeluknya untuk beberapa detik," pinta Bibi Ni dengan senyum lebar. Memang Bibi Ni sedikit unik. Beliau adalah wanita berusia 45 tahun, ceria, dan suaminya sudah meninggal sejak lama. Hanya hidup bersama dengan Juna dan beliau cukup kekinian jika menyangkut selebriti. Aku yang baru saja datang sedikit bingung hendak menanggapi apa. Sementara Juna mengatakan, "Apa maksud Bibi?" "Bibi tidak tahu kalau dia pacarmu. Bibi sedikit kecewa sebenarnya, karena Bibi berharap kamu bisa berjodoh dengan Juna. Tapi dia bilang..." "Pacar? Tidak, Bibi, kami tidak..." "Benar, Bi, tapi jangan katakan ini pada siapapun. Saya akan terus memberi Bibi hadiah bila Bibi tidak membocorkannya pada siapapun." Gazza menyela ucapanku dan apa yang dia lontarkan tentu saja tidak bisa kuterima. Bibi Ni mengangguk cepat. "Oh, tentu saja. Terima kasih untuk hadiahnya." Tersenyum lebar pada Gazza. Baiklah, orang mana yang tidak akan senang bertemu selebriti? "Bi!" protes Juna. "Ehem!" Lagi-lagi tetangga depan rumah Bibi Ni mengenakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam. Tapi, pakaiannya tepat dengan cuaca karena hari sangat terik. Aku hendak menyapanya tapi dia menghindari kontak mata dengan kami. Gazza bahkan sampai berbisik, "Apakah dia selebriti sepertiku?" "Dia sepertinya anti sosial," gumam Bibi Ni. Aku segera menarik Gazza, menaiki anak tangga dan menuju rumahku setelah berpamitan singkat dengan Bibi Ni dan mengabaikan teriakan Juna. Nampaknya dia sangat tidak setuju aku membawa Gazza ke rumahku. Dia baru berhenti berteriak setelah Bibi Ni mengumpat padanya. Bibi Ni lebih membela Gazza daripada keponakannya sendiri sekarang. Tentu saja, aku segera meluapkan amarahku pada Gazza begitu masuk ke dalam rumah. Yang dia lakukan hari ini cukup gila, tidak, sangat gila. "Bagaimana bisa Bibi Ni menganggap kita benar-benar sedang berkencan?" "Karena menurutku kita memang sedang berkencan. Untuk itu aku mengatakannya." "Tidak!" "Tapi aku menyukaimu." "Aku bahkan tidak percaya bualan kelinci manis bermata merah." Kelinci adalah simbol playboy. Semua orang tahu itu. "Kamu sepertinya mabuk." "Kamu terus mengatakan aku mabuk, cobalah menciumku agar kamu tahu bahwa yang kuucapkan bukan sebuah bualan. Kamu juga akan tahu bahwa tidak ada rasa alkohol di bibirku." Aku mengalihkan pandanganku ketika Gazza mulai melepas semua atribut yang menutup wajahnya. Dia mendorongku mundur dan mencoba mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Jantungku berdetak lebih cepat saat napasnya terasa begitu dekat. "Kamu gila!" dorongku. "Aku punya agama yang melarang..." "Maaf, aku, aku hanya ingin kamu tahu bahwa..." "Pulang lah!" Mendorongnya lagi. "Aku merindukanmu, kamu tahu itu? Berhentilah berbicara dan biarkan aku memelukmu." Tiba-tiba saja datang menabrak tubuhku. Melingkarkan tangannya erat ke tubuhku dan aku seperti terhipnotis, jatuh limbung ke dalam rengkuhannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN