Kamar luas itu terasa pengap oleh nafas berat dan aroma hubungan intim keduanya yang masih menggantung di udara yang dingin karena Air Conditioner. Keandre, dengan keringat yang mengalir di pelipis, mengerang panjang ketika puncak kenikmatannya berhasil ia raih. Tubuhnya menegang sepenuhnya, sebelum akhirnya lunglai di atas tubuh sang istri. “Argh! Alena…” Nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya, tak bisa ia tahan. Sepanjang ia berhubungan intim dengan Sonya, hanya ada bayangan tubuh Alena dalam benaknya. Ia juga bingung, kenapa bisa seperti ini. Sialnya, malah keluar saat ia tepat di puncak klimaks. Sebelum Keandre bahkan bisa membuka matanya atau mengatur nafasnya yang masih tak beraturan, tubuh Sonya yang berada di bawahnya menjadi kaku seketika. Lalu, dengan gerakan kasar y

