Mengadu Ke Bank Pusat

1858 Kata

Jam besar di dinding ruang tamu menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit. Alena berdiri di dekat pintu utama dengan tangan bertumpu di pinggang, sikapnya menunjukkan ketidaksabaran. Wajahnya cemberut, bibirnya sedikit mengerucut, dan matanya terus menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. "Kapan sih nyampenya?" gumamnya kesal. "Lama banget, deh." Ia berjalan mondar-mandir di atas lantai marmer yang dingin, telapak kakinya yang tidak memakai sandal merasakan dinginnya marmer. Langkahnya cepat, berputar arah setiap kali sampai di ujung ruangan. Satu tangannya menopang perut, tangan satunya bergerak-gerak mengikuti perasaannya yang kesal, kadang mengepal, kadang merenggang. Sesekali ia berhenti, melirik jam dengan pandangan tidak percaya, lalu kembali mondar-mandir. Sud

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN