Darren kini berbaring di sisi Alena, tubuhnya yang besar memanjang di kasur dengan posisi menyamping menghadap istrinya. Satu tangannya menopang kepala, siku bertumpu di bantal empuk. Matanya yang abu-abu menatap lembut wajah Alena yang tengah bersandar di kepala tempat tidur. "Jadi, seharusnya kamu punya kakak, ya, Sayang?" tanyanya sekadar untuk memastikan ulang. Alena yang masih duduk bersandar menoleh, tangannya tetap mengusap perut dengan gerakan melingkar lembut. "Bukan seharusnya." Ia menekankan kata itu sambil menatap Darren. "Memang aku punya kakak." Ia berhenti sejenak. "Cuma meninggal pas masih kecil." "Maaf, maksud saya—" "Iya, aku tahu maksud kamu." Alena memotong cepat, tersenyum tipis meski matanya sedikit berair. "Tapi ya gitu, Sayang. Kalau Kak Ale masih ada, pasti

