Sampai menjelang makan malam Angelica masih betah berada di dalam kamarnya. Dia mengurung diri sejak sepulang sekolah sampai malam tiba. Tak ada yang dilakukannya selain memeluk lutut dan menangis. Memikirkan apa yang dikatakan Brian saat di sekolah tadi malah membuat air matanya semakin deras saja. Dia tak percaya ada gadis lain yang mengalahkannya –secara tak langsung karena dia tidak melihat gadis itu. Suara ketukan di pintu kamar membuat Angelica mengangkat kepala yang sejak tadi diletakkan di kedua lututnya. Mata birunya menatap lurus pada daun pintu yang masih tertutup. Sedetik kemudian pintu dibuka. Angelica buru-buru mengusap air mata dan berusaha menghapuskan jejak air mata yang tertinggal di pipinya. Mama tidak boleh melihat air matanya, Mama tidak boleh tahu kalau dia menangis

