Chapter 9

1056 Kata

PRAMUDHINA MELATI              Rumah Kak Enand bernuansa putih. Ada kolam air mancur di halaman depan, ukiran-ukiran klasik, dan pajangan-pajangan berkelas di dindingnya yang tampak kokoh. Mirip istana negara. Bedanya, yang lalu lalang bukan petugas istana, namun beberapa pelayan yang terkadang meminta izin untuk menyuguhkan makanan dan semacamnya. Kak Enand sempat bicara pada pelayan terakhir untuk berhenti berlalu lalang di ruangan yang mana Kak Enand ada di sana. Ya Tuhan…, aku tidak percaya sedang berada di sini sekarang.             Dia benar-benar memanfaatkanku dengan sangat baik. Tepat setelah memastikan bahwa aku memahami maksudnya, dia langsung melemparkan diri ke dunia lain dan tenggelam dalam permainan di ponselnya. Rupanya dia balas dendam karena aku mengerjainya kemarin. A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN