ARIAN WIDJAJA Hari itu, seharusnya gue yang ada di sana. “Yal. Lo masih di luar?” Gue menghubungi Arial melalui telepon waktu itu. Biasanya gue lah yang belakangan sampai rumah karena kelayaban. Sementara Arial lebih sering sampai rumah lebih dulu, karena meskipun dia sibuk di ekstra robotik atau ada rapat, urusan apapun itu nggak akan sampai larut. Hari itu kebetulan gue lagi nggak enak badan dan memutuskan langsung pulang ke rumah. Sampai akhirnya gue ingat kalau gue perlu mengambil disk gue yang dipinjam oleh kenalan gue di salah satu warnet langganan. Warnet yang sudah rahasia umum menjadi sarang orang-orang “nggak biasa”. Ada pecandu game, pembajak, sampai cracker. Gue yang saat itu hendak keluar mendapati Andini tengah menunggu Ar

