Bagian 42 Malam semakin larut. Namun mata ini belum bisa terpejam. Pikiranku melayang jauh, memikirkan tentang rencanaku selanjutnya. Aku takut gagal karena Maria tidak bisa dianggap remeh. Menghadapinya harus dengan hati-hati karena Maria itu sangat licik. Aku mengambil ponsel, kemudian berselancar di dunia maya. Barangkali aku bisa tertidur setelah lelah bermain ponsel. Nyatanya tidak. Mata ini seolah enggan untuk diajak kompromi. Malam ini adalah malam terakhirku tidur di rumah ini. Besok dan seterusnya aku akan tidur di rumah Mas Fahri, lebih tepatnya rumahku yang mereka rebut dariku. Untuk itu aku harus hati-hati terhadap Maria. Aku tidak boleh melakukan hal yang mencurigakan agar penyamaranku tidak terbongkar. Sebenarnya tubuhku rasanya lelah sekali, ingin istirahat. Namun mat

