Bagian 39 Setelah Mas Fahri berangkat ke kantor, Ibu kembali berkutat di dapur. Mencuci piring bekas sarapan, kemudian mencuci semua pakaian kotor. Itu pun tidak boleh menggunakan mesin. Setelah itu lanjut memasak untuk makan siang. Ibu diperlakukan seperti pembantu di sini, oleh menantunya sendiri. Tidak boleh istirahat sedikitpun. Maria benar-benar tidak punya perikemanusiaan. "Kay, kamu jagain Shifa, ya. Aku mau keluar dulu. Ingat, jagain yang benar. Jika kamu tidak becus, gajimu akan dipotong dan jangan harap dapat apa-apa dariku. Mengerti?" Maria terlihat sudah rapi dengan dress di atas lutut. Ia terlihat begitu percaya diri dengan tas branded serta high heels milikku itu. Satu lagi, ia juga mengenakan kalung berlian, hadiah dari Mas Fahri untukku yang ia tarik paksa dari leherku p

