Bagian 17 Mulut memang bisa mengatakan iya, tetapi tidak dengan hati. Hati ini menjerit, menolak keras untuk menerima kenyataan pahit. Namun apa boleh buat, keadaan memaksa diri ini untuk tetap bertahan. Hidup satu atap bersama wanita asing dan harus berbagi suami, bukanlah hal yang mudah. Aku harus banyak-banyak bersabar menghadapi sikap Maria yang sungguh menguji kesabaran. "Zahra, aku enggak habis pikir deh sama kamu. Kenapa kamu masih mempertahankan Mas Fahri? Kenapa enggak pergi saja dari rumah ini?" Maria kembali mengacaukan suasana hatiku. Padahal aku sedang mencoba untuk menenangkan hati. Aku sengaja duduk di taman belakang sambil memandangi ikan-ikan koi yang berenang bebas di dalam kolam. Di belakang rumah memang ada taman yang ditumbuhi aneka bunga-bunga dan juga kolam ik

