“Lalu kau ingin menggantikan posisinya, Miss?” tanya salah satu lelaki bertopeng itu yang saat ini sudah berdiri di dekat aku dan Lily.
Aku diam menatap dingin kepada lelaki itu, Lily semakin merapat kepadaku, antara ingin berlindung di balik tubuhku dan juga ingin menjagaku agar tidak terluka. Otakku berputar kembali kepada pistol yang menggantung di pinggang lelaki itu, apakah itu Glock 17 atau Baretta 92? Bentuk keduanya hampir mirip, aku perlu mengatur strategi sambil terus mengingat apa yang pernah ayah ajarkan kepadaku, walau sudah 5 tahun berlalu namun aku masih mengingat jelas setiap pelajaran yang ayahku berikan.
Lelaki itu semakin geram dengan tatapan dinginku dan mulai akan melayangkan pukulan dengan senapannya, aku sudah akan bergerak menghindar, namun terkejut dengan tubuhku yang seperti sedang melayang searah jarum jam dan detik kemudian aku melihat lelaki itu sudah tersungkur menjauh dari posisiku.
Untuk sepersekian detik aku hanya terdiam mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. “Kau sama sekali tidak takut mati, Nona.” ucap suara berat lelaki berjas hitam yang saat ini aku sadari telah mengangkatku dengan tangan yang memeluk pinggangku dan tangan satunya lagi sepertinya tadi menghantam keras lelaki bertopeng itu. Aku diam sambil memandangi lelaki bermata tajam itu, derak berat nafasnya dapat aku rasakan di balik punggungku. Dia menoleh ke arahku, “Kau sudah bisa berdiri? Sepertinya aku akan sedikit sibuk.” ucapnya. Aku melihat dua lelaki bertopeng lainnya bergerak menghampiri kami.
Aku mengangguk dan melihat ke arah pistol yang terjatuh tidak jauh dari tempatku berdiri, dalam hitungan detik aku bergerak mengambilnya dengan cepat aku mengecek ketersediaan pelurunya dengan membuka magazennya, memasangnya kembali ke dalam block pistol lalu mengkokangnya agar peluru masuk ke dalam chamber dan menodongkan pistol itu ke arah perampok yang tadi terjatuh “Jangan coba sentuh senapanmu!” seruku saat perampok itu ingin mengambil senapannya yang terjatuh tidak jauh darinya tersungkur. Aku sempat menangkap tatapan dari lelaki berjas hitam yang tadi menolongku.
Dua perampok tadi pun ikut menghentikan langkah mereka. Perampok yang masih tersungkur itu menarik lepas topengnya, seolah-olah sudah tidak peduli lagi wajahnya akan diketahui atau tidak. Dia tertawa meremehkan “Wanita kecil sepertimu bisa apa?” di sambut gelak tawa dua rekan lainnya.
Aku tersenyum, lalu mengarahkan pistolku untuk menembakkan ke arah senapan yang tergeletak di bawah, menembakan pelurunya dan mengkokangnya kembali. Suara tembakan terdengar dan senapan itu bergerak menjauh dari si perampok. Suara teriakan terkejut dari beberapa pengunjung terdengar, beberapa perampok lainnya diam tak bergeming. “Cobalah… kalau kau tidak ingin bernasib sama dengan senapanmu itu.” sahutku lugas.
“Yeah.. confirmed, kau memang sepertinya tidak takut mati, Nona.” suara berat lelaki berjas hitam yang masih berdiri di dekatku terdengar. Lalu dia berjalan mendekati para perampok itu dan melucuti setiap senapan perampok yang berdiri tidak jauh dari kami dan security toko itu turut membantu mengambil 2 senapan lainnya dari perampok yang tadi berjaga di depan lalu dia menelpon ke kantor polisi terdekat.
Aku tetap waspada dan tidak mengendurkan todongan senjataku walau semua senapan sudah dikumpulkan dan para perampok itu sudah dikumpulkan di tengah area toko. Lelaki berjas hitam itu berjalan mendekatiku, “Sudah bisa kau serahkan pistol itu kepadaku, Nona?” ucapnya. Aku melirik ke arahnya, lalu menyapu pandangan ke sekeliling memastikan bahwa keadaan sudah aman. Aku menurunkan tanganku, melepaskan magazen dari pistol dan mengokang penutup geser untuk mengeluarkan selongsong agar senjata tetap aman lalu memberikannya kepada lelaki itu. Lelaki itu diam memperhatikan setiap gerakanku dan menerima pistol yang aku berikan tanpa berbicara. Setelah itu dia berbalik dan meletakan pistol tersebut bersamaan dengan senapan lainnya.
Seorang perampok memberontak lalu berlari ke arahku, namun dengan sigap lelaki berjas hitam itu menarikku menjauh, menangkis pukulan si perampok. Dalam hitungan menit mereka saling menangkis dan memukul, namun lelaki itu dengan ahlinya dapat dengan mudah mengalahkan si perampok. Polisi pun datang dengan cepat mereka segera mengamankan para perampok dan toko pun kembali dalam suasana yang aman.
“Kau tidak ikut mereka?” tanya lelaki berjas hitam itu.
Aku menoleh ke arahnya dan memandang arah penglihatannya yang mengarah kepada sekelompok polisi yang sibuk dengan tugas mereka.
Keningku mengerut bingung “Kenapa?” tanyaku.
“Well.. aku pikir kau adalah seorang polisi, melihat caramu menggunakan pistol dengan ahli seperti tadi.” jawabnya santai.
Aku kembali menatapnya “Hmm.. lalu kau tidak kembali kepada tuanmu?” ucapku.
Lelaki itu mengerutkan keningnya, alis tebalnya menyatu membuat dia semakin terlihat mempesona “Tuanku?” tanyanya bingung.
“Wel.. aku pikir kau adalah seorang bodyguard yang sedang mengawal bosmu, melihat caramu berpakaian dan gerakan beladirimu tadi.” sahutku kalem.
Lelaki itu tertawa, manajer toko menghampiri kami “Terima kasih sebelumnya tuan dan nona.” ucapnya.
“Sama-sama tuan manajer” sahutku, setelah beberapa balasan kata-kata manajer toko itu pun berlalu.
“Rayne…” ucap Lily yang segera datang menghampiriku kembali setelah tadi dia di interogasi polisi. Aku dapat merasakan tatapan dari lelaki berjas hitam itu.
“Kau baik-baik saja?” tanyaku
Lily mengangguk “Bagaimana denganmu?’ tanyanya.
“Iya aku baik-baik saja.” ucapku.
Seorang pelayan toko datang menghampiri lelaki berjas hitam yang masih berdiri di dekat kami “Maaf tuan, ini cincinnya. Apakah ingin dicoba terlebih dahulu?” ucapnya. Aku melirik ke arah cincin yang di sodorkan, cincin emas putih pasangan yang sangat sederhana dengan berlian biru kecil di bagian cincin wanita.
Lelaki itu mengambil cincin yang untuk pria dan mencoba mengenakannya, lalu mengambil cincin untuk yang wanita dan dia menoleh ke arahku “Apakah kau keberatan untuk mencoba cincin yang akan aku berikan kepada tunanganku?” tanyanya.
Sejenak aku diam hanya menatap dia, lalu aku mengulurkan tanganku “Hmm.. baiklah, anggap saja ini adalah tanda terima kasihku karena tadi kau menolongku.” sahutku santai. Lalu lelaki itu menggapai tanganku dan tangan satunya lagi menyelipkan cincin itu dijari manisku. Cincin itu melekat sempurna di jari manisku, aku memandangi cincin itu dengan seksama, dan merasakan perasaan yang asing di dalam diriku. Lalu aku beralih menatap lelaki itu yang saat ini menatapku dengan intens, kami diam saling menatap. Seketika itu juga jantungku berdebar kencang, seperti muncul suatu emosi perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan atau aku ekspresikan dan sentuhan tangan hangatnya yang saat ini masih memegang tanganku membuat aku nyaman.
“Sepertinya cocok tuan.” ucap si pelayan toko menyadarkan aku dan dia, aku segera menarik tanganku dan melepaskan cincinya lalu memberikan kembali kepadanya. Dengan gerakan sedikit kikuk aku menarik tangan Lily “Ayo Ly, kita pulang.” ucapku dan berlalu keluar meninggalkan toko.
“Dia tampan ya..” ucap Lily sambil tersenyum senang.
“Yeah.. tampan dan memiliki pasangan, kau tidak dengar tadi dia sedang membeli cincin pertunangan.” ucapku.
“Iya sih..sayang sekali ya.” sahut Lily.
“Hmm.. sayang sekali..” sahutku kalem.
Apa ini Rayne! Kenapa malah statement itu keluar dari mulutmu?! Dia lelaki yang sudah memiliki pasangan! Jadi stop berpikir yang aneh-aneh!