Pagi itu, Emir melihat kalau Donny beranjak keluar rumah. Emir mengikutinya, ternyata Donny hanya diam dan duduk di pinggiran taman tak jauh dari jalanan besar menuju rumahnya. Tak lama ia mengeluarkan ponselnya. Emir duduk tak jauh, sehingga bisa mendengar ucapannya. ‘Pagi pa.. Maaf saya tadi di rumah, tidak bisa angkat telepon.” “Iya bisa, terkait urusan di rutan bisa saya bantu. Tenang saja, bos aman. Tapi, jangan lupa minta perhatiannya…” Tak lama, Emir melihat Donny tersenyum dan menutup teleponnya. Hmm, sepertinya lelaki ini seperti makelar untuk mendapatkan projek-projek terkait urusan di rutan.. Urusan "sampingan" tentunya.. Emir memutuskan untuk menghampirinya dan menyapanya, “Pagi pa, maaf mau tanya, kalau ke Rutan Pondok Agung apa masih jauh dari sini?” Donny mena

