Maya berjalan memasuki studionya. Percakapannya dengan Frida hanya membuatnya terus mengingat Danu. Ia mulai mengambil alat lukisnya dan menuangkan apa yang ada dalam pikirannya. Danu, lelaki pujaan hatinya. Lelaki yang telah membuatnya jatuh cinta begitu dalam. Maya memejamkan matanya sesaat dan air matanya kembali mengalir. Tangannya terus menggoreskan kuas itu di atas kanvas. Sapuan kuas itu, ekspresi hati dan jiwanya. Ia mengingat senyuman Danu, tatapan matanya hingga gestur tubuhnya. Lelaki bertubuh tinggi besar itu selalu mengisi benak pikirannya. Satu hal yang membuatnya kembali ke Indonesia. London tidak lagi menarik tanpa Danu di sekitarnya. Sedalam itu, hingga ia mengorbankan banyak hal dan melakukan hal yang tak terbayangkan. Maya tahu, Danu tidak memiliki perasaan

