Basah

1660 Kata
Dua minggu telah berlalu setelah telpon dari ayah Elliana yang memintanya untuk pulang, namun Elliana harus menyelesaikan semua pekerjaan yang mendesak sebelum mebgambil cuti panjang. Karena dia sadar bahwa orang tuanya akan berlama-lama menahannya dirumah seperti yang lalu-lalu. "Sudah gak ada pekerjaan mendesak lainnya dek?" Tanya Elliana sambil membubuhkan tanda tangan pada berkas yang dibawa Dika. "Gak ada sih! Selebihnya bisa aku sama mas Nala yang ambil alih, mbak pulang ke Surabayanya mau aku temani?" Tanya Dika "Kalau kamu ikut siapa yang bantuin Nala ngurus kantor?" Dika memang selalu mengkhawatirkan Elliana karena semenjak kemenangan tender yang diadakan Draken Corp bulan lalu, Elliana sering sekali mendapatkan terror melalui paket yang mengancam dirinya juga perusahaannya. Pernah suatu hari ketika Elliana pulang sendirian dan mampir di sebuah minimarket, ke empat ban mobil Elliana di pecahkan, kemudian ada mobil yang dengan sengaja menawarkan tumpangan, namun sangat jelas bahwa itu jebakan, beruntung Nala dan Dika menemukannya saat itu. Bukan Elliana takut, ia selalu memprotect dirinya dengan skill bela dirinya dan senjata api yang memang selalu ia bawa mengingat hobinya memang menembak, hanya saja Elliana tidak mau gegabah melakukan aksi kekerasan yang mungkin saja dapat menyeret dirinya ke ranjau yang lain. "Yasudah mbak hati-hati ya! kalau terjadi sesuatu lansung kabari" "Oke, pesankan mbak tiket untuk besok, mungkin mbak 2 minggu disana" "Siap, oh iya ini tadi ada kiriman, ditujukan kemansion tadi pagi sudah aku cek aman kok" Elliana membuka kotak kecil tursebut, dan tersenyum mendapati case handphone cantik transparan dengan gliter bintang berwarna silver dan aksesories pipih yang menggantung kebawah berupa kepingan emas 24 karat berukuran kecil dengan bentuk naga. "dih senyum-senyum sendiri, dari siapa memangnya?" "gak tau sih dari siapa, tapi ini bukan yang pertama kalinya dia memberi kakak hadiah" Elliana tersenyum sambil mengelus aksesories naga tersebut "maksud kakak pengagum rahasia?" "entahlah, ini tolong pakaikan dihandphone kakak"  ***** "Elliana pulang!" Triak Elliana yang seketika beberapa pembantu paruh baya mendekatinya. "Orang rumah kemana bi?" Basa-basi Elliana, sebetulnya ia tahu kedua orang tuanya pasti sedang sibuk di kantor masing-masing. "Tuan dan nyonya ke Bandung tiga hari yang lalu non, katanya ada urusan" "Hmm, yasudah bik, Ell mau istirahat" ucapnya sambil menyerahkan koper bawaannya pada salah satu maid. Tinggg .. pintu lift lantai 3 terbuka Elliana senyum-senyum mengelilingi kamar yang ia tempati sejak Remaja, merebahkan tubuhnya dengan nyaman sebelum akhirnya tertidur. ***** Elliana keluar dari kamar dengan mengenakan kaos t-shirt berwarna maroon sedikit kebesaran dan celana pendek hitam yang tertutup oleh t-shirt membuat paha mulus Elliana terpampang indah, ia berjalan kearah perpustakaan pribadinya yang berada di lantai dua sambil membaca email dari ponsel. Ceklek .. Krieett, suara pintu kayu yang ia buka .. ketika memasuki perpustakaan pribadinya, Elliana tersenyum kagum melihat buku-bukunya masih rapi dan ruangan yang sangat Elliana sukai itu selalu bersih walaupun tidak ada dirinya 'bibik baik banget' ucapnya dalam hati, ponsel Elliana berbunyi .. Drrrrttt ... Drrrrtttt ... "Selamat Sore Sweety  .." "Malam Dam .." "Apa aku menganggu?" Tanya Damian di sebrang sana "Tidak, ada apa?" "Mau makan malam denganku?" "Wah, sorry banget Dam, aku lagi di Rumah orang tuaku di Surabaya" "Yaahh" Terdengar suara kecewa Damian "Masih ada lain waktu Dam" "Hmm oke, jaga diri dengan baik Elliana" Elliana menutup telpon sambil tersenyum menghadap salah satu rak buku, sambil memilih milih buku yang akan ia baca malam ini. "Siapa itu Dam?" ucap suara baritone dari belakang Elliana Elliana terdiam, memikirkan siapa laki-laki yang berani masuk rumahnya, terlebih masuk ruang baca pribadinya, beberapa detik Elliana tidak bergeming, sebuah tangan terulur hendak memengang pundaknya dari belakang, Elliana reflek menangkap tangan tersebut menariknya hingga pria tersebut memunggungi Elliana, hendak mengunci pergerakannya dengan melipat tangan pria tersebut dibelakang punggung, namun sebelum tangannya terkunci pria tersebut lebih dulu memberi pukulan dengan gerakan memotong dengan telapak tangannya kearah lipatan siku depan Elliana hingga kuncian tangannya terlepas, memukur bahu depan Elliana hingga memundurkannya setengah meter, Elliana masih dengan kuda-kuda siaganya, ia maju, melompat memutar untuk menendang pria b******k yang berani masuk kerumahnya, namun pria itu hanya menepis dan menghindar walaupun Elliana melayangkan pukulan bertubi hingga akhirnya pria tersebut menangkap salah satu tangan Elliana menguncinya kebelakang tubuh Elliana "Jangan banyak bergerak, kau tidak ingin ruanganmu berantakan bukan?" Ucapnya dibalik tubuh Elliana. Elliana hanya terdiam sambil memikirkan untuk melepaskan diri. Sialnya pada sore hari ruangan ini tidak mendapat penerangan yang cukup karena lampu otomatis hanya akan menyala datas pukul 5 sore kecuali lampu baca yang terdapat dibeberapa kursi baca, selepas itu penerangan hanya didapat dari jendela kaca yang cukup besar, namun ketika sore daerah rak buku menjadi sedikit meremang hingga sulit untuk mengetahui siapa yang brani memasuki ruangan pribadinya ini. "Lepas! siapa kau! Braninya kau!! memasuki rumahku!!" ucap Elliana sambil berusaha melepaskan diri dari cekalan pria asing tersebut "Kenapa kau tidak melawan seperti ini saat dicumbu mantan kekasihmu waktu itu?" Elliana kaget, mengingat tidak ada yang mengetahui detail kejadian tersebut kecuali seseorang yang menyelamatkannya, ia menoleh menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangannya yang samar samar, terlihat mata hazel yang ia kenal tersenyum hangat ke arahnya, "Al .. " ucapnya lirih, membuat hati Aldrinan menghangat kemudian melepaskan kuncian tangan Elliana. "Iya Ell?" Elliana mundur beberapa langkah "kenapa kau bisa disini? Mau apa kau?" Dengan senyum jahilnya Aldrinan berjalan mendekati Elliana, "memangnya kenapa?" Sengaja menampilkan smirk Devilnya. Elliana memundurkan tubuhnya perlahan sambil mengawasi pergerakan tubuh Aldrinan yang mendekat, Ceklek .. Bunyi pintu mengalihkan pandangan keduanya kearah pintu, terlihat bik Yum yang membawa nampan berisi 2 gelas orange juice dan satu toples kacang almon favorit Elliana. "Bik Yum, cepat panggil satpam, usir dia" Ucap Elliana setelah berhambur mendekati bik Yum. "aden ini tamu Bapak non" ucapan bik Yum membuat Elliana mencebik kesal, karena ia tak mungkin mencampuri urusan Ayahnya, karena pasti Ayahnya juga yang memberi izin Aldrinan memasuki perpustakaan pribadinya. "hmmm jadi ada tamu daddy yang menginap disini, yasudah bik taruh di meja itu saja" setelah bik Yum keluar Elliana memasang wajah cuek memilih buku, kemudian duduk di depan kacang almon, membaca sambil sesekali memasukkan kacang kemulutnya. Setelah memilih buku, Aldrinan duduk di meja berhadapan dengan Elliana, "sayang ruang baca dengan buku sebanyak ini hanya di gunakan satu orang" Ucapnya mengejek "Setiap manusia memiliki selera masing-masing, entah itu makanan, minuman, style berpakaian, gaya tulisan, juga dengan selera pemilihan buku yang akan ia baca" Ucapnya belum mengalihkan pandangannya pada buku yang ia baca. "Aku menyukai seleramu" timpal Aldrinan. "Hmm, jadi kau ada perlu apa disini?" tanya Elliana menatap dengan penasaran ke arah Aldrinan "Aku sedang main saja, kebetulan daddymu lagi keluar kota, aku diminta menunggunya dirumah ini sampai ia kembali, siapa sangka ternyata kau anak dari om Hariawan" ucapnya dengan menunjukkan senyum yang susah diartikan, membuat Elliana menebak-nebak atas ucapan pria di hadapannya. Tiga jam berlalu, mereka masih hanyut didunia bacaannya sendiri, Elliana sedikit melunak setelah mengetahui Aldrinan juga menyukai buku seperti dirinya, Aldrinan bercerita bahwa ia juga menyukai balap mobil yang membuat jiwa liar Elliana keluar ingin mencobanya. Mereka bercerita seputar selera buku yang mereka suka, mulai dari novel, sejarah peradaban, biografi ilmuan, hingga beberapa ensiklopedi antar negara. Elliana menyukai topik yang mereka bahas, karena selama ini, jarang sekali ada yang nyambung dengan pembicaraannya seputar bacaan yang pernah ia baca, mereka bercerita banyak hal hingga Elliana tertidur dikedua lengannya yang terlipat. ****** Elliana menggeliat pelan dengan mengerjapkan matanya menyembut silaunya sinar matahari pagi yang menembus gorden putih pada jendela besar di hadapannya. Elliana mengikat rambut, mencuci muka, dan menggosok giginya kemudian memakai suncare untuk menyambut mentari pagi ini. Elliana keluar duduk di balkon untuk menikmati udara pagi dengan pemandangan kolam renangnya, dilihatnya pria berkulit bersih dengan d**a bidang dan perut kotak-kotak siap melompat kearah kolam, Elliana mengerjapkan matanya berkali kali memandang tubuh indah yang pernah ia lihat sebelumnya, Elliana bersiap mengganti bajunya dengan baju renang dan memakai bathdrop, dengan langkah cepat ke arah kolam renang. "Sarapan non" ucap bik Yum ketika Elliana melewati meja makan. "Roti panggang sama fresh milk dua bik bawa ke kolam" ucapnya setengah berlari, Elliana memang menyukai air dikala suntuknya, sudah lama ia tidak berenang, apalagi ada yang menemani, seolah menemukan mainan baru melihat Aldrinan yang sedang berenang ia menjadi bersemangat sudah lama ia tidak memiliki patner renang. Elliana tergesa membuka bathdrobenya dan melompat searah dengan arah renang Aldrinan yang belum menyadari kehadirannya, ketika sampai di pinggir kolam dan membalik badan, Aldrinan terkejut mendapati Elliana yang berenang dengan cepat kearahnya menubrukkan tubuhnya pada Aldrinan, mengalungkan tangan pada leher Aldrinan sambil tertawa renyah,mengibas-ngibaskan rambut basahnya sambil mendongakkan kepala. Aldrinan terpaku mendapati Elliana yang begitu dekat dengannya terlebih leher jenjang Elliana kini berada tepat dihadapannya, Aldrinan menelan ludah kasar disuguhi pemandangan tersebut. "E-ell .." ucapnya ragu, karena khawatir Elliana salah minum obat seperti waktu di Bali .. "Hahaha, iya Al? Aku bahagia, lama sekali tidak ada yang menemaiku berenang, mau berlomba?" Ucapnya dengan penuh semangat Aldrinan tersenyum, entah apa yang ia rasakan, rasanya menyenangkan sekali menjadi alasan kebahagiaan Elliana walaupun hanya sebagai patner renang. "Siapa takut!!" Ucap Aldrinan tanpa ragu. "Oke, satu, du-, ..." ucap mereka bersamaan, Belum hitungan ketiga Elliana sudah melaju, membuat Aldrinan tersenyum menggelengkan kepala, Aldrinan menyusul hingga sampai garis finish langsung menhujami Elliana dengan kelitikan pada pinggang dan perutnya. "Heh kau curang ya" ucapnya masih setia mengklitiki perut Elliana "Hahaha, am-pun, Al geli, haha Al.. stop it! hahaha" Elliana terpingkal menggeliatkan tubuhnya sambil tertawa karena geli, beberapa detik kemudian Aldrinan menghentikan aksinya, mereka dalam posisi yang sangat deket, dengan Elliana mengalungkan kedua lengannya dileher Aldrinan, tangan Aldrinan yang tadinya mengelitiki pinggang Elliana kini beralih merangkul pinggang Elliana, wajah mereka sangat dekat hingga mereka dapat merasakan hembusan nafas masing-masing, Cup! satu kecupan singkat mendarat di bibir Aldrinan, Elliana murutuki dirinya sendiri karena hilang kontrol, terbuai oleh perasaan bahagia yang tengah ia rasakan. Elliana langsung berbalik hendak melanjutkan akitifitas renangnya, tetapi Aldrinan menekan pinggang Elliana agar kembali menempel padanya, sebelah tangannya menekan tengkuk Elliana, mendekatkan bibir mengecup hingga melumat beberapa detik yang akhirnya dibalas oleh Elliana yang menyalurkan rasa bahagia dan Aldrinan menyalurkan cinta antara ciuman mereka. "Ehhhhmmm ... " Suara baritone yang sangat Elliana kenal terdengar dari pintu masuk mengagetkan mereka berdua. 'Mati aku' Ucap hati Elliana spontan mendorong Aldinan untuk menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN