4. Nostalgia

1705 Kata
Velyn menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Ia mengigit pelan ujung bantal yang ia peluk dan kesadarannya kembali. "Kenapa ketemu Valerio secepet ini, sih?" gumamnya dengan bibir melengkung ke bawah. "Kalau perasaannya balik lagi gimana?" Velyn melepaskan bantalnya dan membuangnya ke sisi tubuhnya. Ia bersedekap dan menggeram kesal. Bahkan ia tidak perlu memegang tepat pada jantungnya, dengan posisi diam seperti ini, ia bisa merasakan detak jantungnya yang lebih cepat dari biasanya. "Masih kenceng, ya ... padahal udah lima tahun." Velyn menggulingkan tubuhnya dan sekarang terlungkup. Ia menyangga pipinya dengan kedua punggung tangannya. Kepalanya mengarah ke kanan. "Valerio udah punya pacar terus mau tunangan? Fara? Siapa Fara?" Velyn memutuskan bangkit duduk. Tangannya memegang dagunya. Salahkah jika ia merasa kalau Valerio masih mencintainya? Atau salahkah ia merasa Valerio akan kembali padanya dan meninggalkan Fara untuknya? Ah tidak. Valerio pernah memintanya untuk berubah dan ia tidak bisa menilai dirinya sudah berubah atau masih tetap sama seperti dulu. Lagipula, ia juga tidak bisa yakin seratus persen Valerio masih mencintainya. Ada Fara di sisinya yang pastinya berharga bagi pria itu. Kalimat 'akan tunangan' sudah mendeskripsikan bagaimana seriusnya hubungan mereka. Velyn mendesah pelan, ia lesu. Jadi sekarang hanya ia yang masih mencintai Valerio, ya? Velyn menggaruk kepalanya kesal. Ia menggeram. Tapi ini memang salahnya tidak, sih?! Sudah lima tahun berpisah tapi tetap saja masih suka Valerio. "Udah, Velyn. Berhenti." Velyn mengangkat kedua tangannya di depan d**a. Mencoba memerintahkan dirinya sendiri. "Lebih baik sekarang pakai skincare sebelum tidur." Velyn turun dari tempat tidur. Mengambil tas pouch berisi skincare miliknya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Velyn meletakkan pouchnya di dekat wastafel. Ia mendongak menatap cermin, mengamati wajahnya sesaat dan tersenyum lebar. "Apa sih," rutuk Velyn dan menurunkan tarikan kedua sudut bibirnya. Ia kadang gila sendiri melihat wajahnya. Wajah yang sudah menuai ribuan pujian dari banyak orang. Velyn kemudian mengikat rambutnya tinggi-tinggi sebelum membuka ritsleting pouch dan mengeluarkan facial wash. Tapi sebelum itu, ia mendekat ke arah cermin dan memerhatikan wajahnya. Kali ini bukan memuji dirinya sendiri. Melainkan melihat sebuah bekas luka cakaran kucing di pipinya. Bukan, Bukan bekas cakar kucing yang membuat Velyn mengernyit. Tapi sebuah momen lama yang masih ia simpan baik-baik dalam memorinya yang berkaitan dengan pipinya. Jadi dulu .... *** Velyn berbaring terlungkup di sebuah sofa panjang. Wajahnya menghadap ke kiri karena pipi kirinya terluka. Ia dari tadi meringis kesakitan karena rasa sakit yang menderanya. Tapi bukan hanya itu, ingatan tentang bagaimana kuatnya hantaman dari kepalan tangan seorang pria ke wajahnya juga membuatnya meringis. "Makanya jangan coba-coba buat halangin. Kamu kan jadinya yang kena." Mata Velyn bergulir ke arah Valerio yang berjalan ke arahnya sembari membawa sebuah mangkuk berisi handuk dan es batu untuk luka memar di pipi Velyn. "Ya kan aku nolongin kamu. Salah apa, ya?" gerutunya dan bangkit duduk, ia juga merapikan poni model fringe bangsnya sesaat. Melihat itu, Valerio yang sebelah tangannya bebas, dengan gemas mengacak kembali poni Velyn supaya kembali berantakan. Velyn mendongak menatap horor ke arah Valerio. Pria itu berani-beraninya ....! Tidak tahukah dia jika poni ini adalah s*****a andalan Velyn untuk tebar pesona? Wajahnya yang sudah baby face akan terlihat lebih menggemaskan dengan poninya. "Vale--" Mulut Velyn sedikit terbuka. Ucapannya terhenti ketika memar di pipinya terasa nyeri. Alhasil ia meredam kekesalan dan kembali meringis kesakitan. Valerio menghela nafas melihatnya. Ia meletakkan mangkuk di atas meja dan ia duduk di sebelahnya, tepat di depan Velyn. Kedua tangannya terulur merapikan kembali poni pacarnya yang berantakan karena ulahnya. "Gak usah sok cantik dulu, deh. Lagi sakit juga," rutuk Valerio. Velyn hanya bisa diam. Ia menyentuh ringan pipi kiri bagian bawahnya. Tadi Valerio berkelahi dengan satu cowok yang terkenal berandal di sekolah mereka. Velyn datang dengan berani menarik Valerio agar keributan itu mereda. Karena Valerio juga sudah gelap mata, akhirnya Velyn nekat berdiri di depannya dan akhirnya terkena bogeman mentah dari si lawan. Setelah rambut Velyn kembali tertata. Valerio menoleh ke arah mangkuk dan mulai mengambil beberapa balok es batu dan membungkusnya dengan kain. "Aku tadi cuma mau nyelamatin kamu aja soalnya guru bk udah jalan ke tempat," ucap Velyn membela dirinya. "Jadi kalau enggak ada guru bk, kamu gak selametin aku, ya?" "Ya tetep selametin lah." Valerio melirik Velyn dan terkekeh pelan. Ia kemudian memegang dagu Velyn agar gadis itu tak banyak bergerak dan mulai menempelkan kain itu ke pipinya. "Diem jangan banyak gerak. Atau ini makin sakit." Valerio memperingatkan. Ia juga sangat berhati-hati mengompres memar di pipi Velyn. "Ntar kalau ditanyain sama mama, bilang aja yang sebenernya. Jangan ngarang. Kamu paham, 'kan?" Kalau Velyn bilang yang sebenarnya, ia takut orang tuanya malah menyalahkan Valerio. "Papa mama kamu pasti paham. Nih memar gak akan hilang beberapa hari ke depan. Kamu gak bisa sembunyiin," celetuk Valerio yang sudah bisa menebak pertanyaan di kepala Velyn. Velyn berdecak pelan. "Aku nginep di sini aja, ya. Semalem doang," ujarnya dengan mata memelas minta dikasihani. Biasanya Velyn akan bermalam di apartemen Valerio saat-saat libur, itu juga jarang karena orang tuanya kadang melarang. Padahal mereka tak melakukan apapun yang terlarang. Valerio menatap mata Velyn. Sebenarnya ia juga sangat ingin Velyn menginap di apartemennya. Kalau bisa juga setiap hari agar ia tak kesepian. Tapi tidak bisa, ia harus menjaga image Velyn. "Gak boleh. Kamu bisa nginep di hari-hari libur aja," tolak Valerio dengan berat hati. Ia mengalihkan perhatiannya ke luka Velyn kembali. Velyn menghela nafas kecewa. "Kalau gitu aku pinjem satu buku kamu, ya." Biasanya ketika Velyn menginap di sana. Valerio akan selalu membacakan sebuah buku sebelum tidur dan Velyn akan mendengarkan dengan berbaring di atas paha Valerio atau bahkan pernah duduk di atas pangkuannya. Tapi karena malam ini ia tak boleh menginap. Juga buku-buku di rumahnya yang sudah habis ia baca. Ia jadi tak punya kegiatan apapun. Namun, meminjam pada Valerio juga sama saja karena cowok itu pasti bakalan jawab .... "Enggak." "Kamu pelit banget!" Valerio tertawa kencang. Ia selalu begitu ketika Velyn mencacinya dengan kata pelit. Tapi sebetulnya Valerio tidak pelit, ia sengaja agar Velyn selalu menginap di apartemennya supaya bisa selalu membaca buku-buku lama koleksinya. "Makanya nginep biar bisa baca." "Kan kamu yang ngelarang. Gimana, sih?!" Valerio melepas pegangannya pada dagu Velyn. Ia mengisi kembali kain itu dengan beberapa balok es batu. Valerio kembali menatap Velyn yang menunjukkan kekesalannya terang-terangan. Ia menoel hidung mungil Velyn dan berdecak pelan. "Aku sebenernya mau aja. Tapi kita harus mikirin pendapat orang lain tentang ini, Sayang. Dan orang tua kamu juga gak selalu kasih ijin, 'kan? Cuma sesekali aja," ujarnya sembari mengompres kembali pipi Velyn. "Bener, sih," setujunya. Dia tidak bisa mengabaikan dua hal yang membuatnya harus berpisah dengan Valerio ketika malam. "Tapi nanti malam kamu dateng, 'kan?" Valerio memang sering dan hampir setiap malam bertamu ke rumah Velyn. Apalagi jika bukan menemui pacarnya. Dia juga selalu membawa buku berbeda tiap malamnya. Membacakannya untuk Velyn dan di akhir, mereka akan saling beradu pendapat tentang buku itu. "Mungkin. Aku enggak tau juga karena sebenernya sore ini harus ke Tangerang. Ada yang mau dibilang papa," gumam Valerio. "Jadi besok kamu gak ke sekolah?" Valerio menggeleng. "Kamu jangan lakuin yang aneh-aneh pas aku enggak ada," ujarnya otoriter, membuat Velyn memberengut tapi tetap mengangguk. "Udah ngerasa baikan?" tanya Valerio ketika ia selesai mengompres. Velyn memundurkan tubuhnya, tangannya menyentuh perlahan memarnya. Sudah lebih enak. Valerio memang jago dalam hal ini. Tidak heran soalnya cowok itu dulu sering berkelahi jadi sudah sering babak belur. "Udah kok." Valerio mengangguk-angguk. Ia kemudian menyingkirkan mangkuk dengan kain di dalamnya ke ujung meja. Ia bangkit mengambil tas ransel Velyn dan membuka ritsletingnya. "Mau apa?" "Kamu ada tugas, 'kan? Sini biar aku kerjain." Mata Velyn melebar senang. Ia sampai tertawa karenanya. Valerio memang pacar yang sangat pengertian. Velyn sedang sakit begini, ia pasti jadi tidak tertarik melakukan apapun. Dan Valerio langsung punya inisiatif mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. "Eh tapi kita beda jurusan. Kamu emangnya tau?" Jelas. Valerio di kelas IPA. Sedangkan Velyn di IPS. "Tenang aja. Kan ada internet. Gampanglah," sahut Valerio mengedipkan sebelah matanya ke Velyn. Velyn tersenyum terharu. "Iya ada beberapa. Ekonomi di halaman 45 sampai 46. Sosiologi di pilihan berganda bab tiga, sekaligus essay. Sama matematika di halaman terakhir, di buku latihan ya." Tampang Valerio langsung datar. Tugas itu lebih banyak dua kali lipat dari tugas sekolahnya. Tapi tidak apalah, Velyn sedang sakit. Melihat perempuan itu masih meringis kesakitan saja membuatnya ingin menggantikan posisinya. "Yauda. Kamu baringan aja dulu. Itu laptop aku nganggur. Satu jam lagi ini selesai, terus aku langsung anter kamu pulang." Tangan Valerio mengusap pelan rambut Velyn. "Gak papa ya aku enggak ajak kamu ke Tangerang. Soalnya kata papa cuma aku aja yang boleh ke sana." Velyn merasa jantungnya berdegup lebih kencang. Astaga, yang seperti ini saja Valerio masih mengkhawatirkannya. Padahal ia sangat tidak apa. Menghargai privasi pria itu. Hanya tidak enak saja karena besok Valerio tidak ada di sekolah. Tapi selebihnya, ia tak mempermasalahkan sama sekali. "Gak papa banget, Vale." Valerio tersenyum lembut, ia menurunkan tangannya. "Yauda aku kerjain dulu," ujarnya membawa seluruh buku Velyn ke meja belajarnya. Mata Velyn mengikuti langkah Valerio sebelum melirik jam yang menunjukkan pukul dua. Valerio bilang sore hari ia sudah harus berangkat. Tugas miliknya juga sangat banyak, belum lagi tugas cowok itu sendiri. "Vale. Kayaknya aku aja deh yang kerjain tugas-tugasnya. Aku juga pulang sendiri aja naik taksi," ujar Velyn menoleh ke arah Valerio yang sudah duduk di kursinya. "Kamu langsung ke Tangerang aja sekarang." Valerio tidak menjawab dengan kalimat. Ia hanya mengacungkan jari telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan dan kiri pertanda ia menolak. Velyn menghela nafas dan meluruskan tatapannya. Kalau sudah begini ia juga tidak bisa memaksa. Valerio memang sangat boyfriendable. *** Velyn tersenyum-senyum sendiri di depan cermin. Tapi senyumnya tiba-tiba surut ketika sadar ia hanya bernostalgia. Ia menampar pelan pipinya agar segera sadar. "Valerio bukan milik kamu lagi tau," gumamnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia kemudian cepat-cepat membersihkan wajahnya, lalu membeli toner dan terakhir night cream. Velyn menepuk-nepuk pipinya yang berisi itu dua kali sebelum mencuci tangannya dan meritsleting kembali tas pouchnya. Pikiran Velyn harus plong karena besok ia akan ikut papanya ke perusahaan mereka. Ia akan mulai dilatih memimpin perusahaan itu. Yang tentunya agak berat karena Velyn sebenarnya tidak ingin bekerja sebagai pemimpin sekaligus pengendali dari sebuah perusahaan. Velyn menatap dirinya di cermin. Ia mengangguk pelan dan yakin jika dirinya bisa. Ia kemudian melangkah keluar dan mematikan lampu kamar mandi. Naik ke atas tempat tidur, memejamkan mata bersiap menyambut esok hari. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN