Sarah mengintip dari dalam. Ternyata benar dugaannya, Catherine datang dengan gaya angkuhnya. Dia berdiri di depan pintu sambil memasang wajah kesombongan. “Mengapa tidak kau buka pintunya?” dia berteriak “Maaf nona, ada banyak aturan yang perlu Anda patuhi selama tinggal di rumah ini. Termasuk untuk tidak berteriak layaknya hidup di hutan” “Kau seorang pelayan jangan sok menasihati aku. Mengapa tidak kau buka pintunya!” “Apa urusan Anda hingga saya harus membuka pintu ini?” Tingkah Sarah membuat Catherine merasa geram. Rahangnya mengeras dengan giginya yang bergeretak. Dia menahan emosinya dengan mengepal kedua tangannya. “Apa kau lupa siapa aku?” tanya Catherine, masih dengan gaya sombongnya “Tentu saya tidak lupa. Anda adalah istri dari tuan William, penghuni baru rumah ini”

