“Sudah puas menatap?” Carl membuka mata dan tersenyum cerah, senyum yang menambah ketampanannya. Aku langsung berbalik dan menutup mata. Setiap kali ketahuan menatap wajahnya, ingin rasanya aku tenggelam ke dasar lautan. Carl mempererat pelukannya, telapak tangan yang lebar mengelus-elus perutku. Hal itu membuatku geli. Carl semakin lihai membuatku tak berdaya di depannya. Tanpa berkata apa-apa, Carl mengangkat satu kakiku dan dia mulai melakukan aktivitas yang sebelumnya sudah kami lakukan. Aku ingin protes tapi mulutku sudah ditutup dengan mulutnya. Dia bermain dengan ritme yang pelan dan konstan, membuat diriku terbuai dan tak dapat menolak. Kami melakukannya lagi dan lagi selama hampir 2 jam. Aku benar-benar terkulai lemas, rasa lelah akibat kegiatan tadi malam masih ada, ditam

