Pertemuan

1013 Kata
Hari demi hari pun berlalu semenjak kejadian pingsannya Anna di rumah sakit. Namun ada hal yang membuat Anna terpukul, Anna tak tahu harus bagaimana menghadapi kenyataan pahit ini. Apakah senang atau malah sebaliknya?. • Hari itu..., “Hm.., sebaiknya kita tunggu dulu saja” John berbicara sembari mengelus lembut punggung Cecil. “Hem..”, balas Cecil. Mereka pun duduk dengan diam dan berkutat pada pemikiran masing-masing. Tak lama duduk dalam kebisuan, pintu ruang pasien pun terbuka dan seketika mengalihkan perhatian kedua anak manusia itu. “Siapa di antara kalian berdua yang merupakan anggota keluarga dari pasien di dalam?” tanya sang dokter yang sudah tak muda lagi. “Saya temannya dok, kami berteman dekat. Bahkan bisa dikatakan kami sudah seperti saudara” ucap Cecil dengan penuh kesungguhan. “Apa tidak ada anggota keluarga?, saya harus menyampaikan hasil pemeriksaan kepada keluarganya langsung” balas sang dokter. “Tapi keluarganya tidak pernah peduli dokter, selain neneknya. Tapi.., neneknya adalah wanita tua yang pastinya akan sangat lelah jika harus datang ke rumah sakit ini” Cecil sedikit frustrasi dengan sang dokter yang tetap dengan pendiriannya. “Tapi.., Anda sudah berusaha memberitahu keluarganya nona?” tanya dokter. “Maaf, saya belum memberitahu mereka” ucap Cecil dengan kepala menunduk. “Jika begitu tolong beritahu salah satu dari mereka untuk datang ke rumah sakit ini segera, ada informasi penting yang harus saya sampaikan. Jika sudah temui saya di lantai 2 ruang dokter Kevin” ucap dokter sembari berlalu meninggalkan dua manusia tersebut. • Itulah sedikit cerita yang didapat Anna dari Cecil dan John sebelum ia tersadar lalu mendapati ibunya sudah marah-marah sembari memakinya di kamar rumah sakit. Sungguh ibu tirinya itu memang tidak memiliki akal sehat pikir Anna. Ya.., Anna tahu bahwa apa yang ia alami saat ini bisa menjadi hal yang dapat merusak nama baik keluarga. Meski negara ini merupakan negara sekuler yang menjunjung tinggi kebebasan. Tapi..., apa yang Anna hadapi saat ini sedikit berbeda. Anna dikabari hamil, setelah Cecil memberitahu bahwa dokter yang menanganinya meminta ibu tiri Anna untuk memeriksa Anna kepada dokter kandungan. Hasil pun sesuai dengan dugaan dokter Bryan sebelumnya, dan ketika Anna mendapati kesadarannya, Anna pun mendapat cacian serta makian dari sang ibu. Anna hamil..., meski di negara ini hal tersebut sudah biasa. Di mana seorang gadis sudah biasa hamil sebelum menikah, karena tidak ada larangan untuk seseorang menjalin hubungan dan tinggal satu atap bersama lawan jenis tanpa ikatan pernikahan. Hal semacam itu lumrah di kalangan masyarakat. Berbeda dengan budaya di negara asal mendiang ibu kandung Anna. Negara timur yang sangat kontras dan bertolak belakang dengan budaya barat. Tapi mengapa ibu tirinya bisa semarah itu kepadanya?. Entahlah Anna juga bingung, ibu tirinya itu memang suka membesar-besarkan masalah jika berkaitan dengan Anna. Alasan ibu tiri Anna bisa semarah itu kepada dirinya adalah karena mereka tidak dapat mengetahui siapa ayah dari anak yang dikandung Anna. Ya.., Anna pun merasa bingung. Bagaimana bisa ia mengandung seorang anak sedangkan ia sedang tak berpacaran. Terakhir Anna memiliki hubungan spesial dengan seorang pria ialah 2 tahun lalu saat ia bersekolah. Itu sudah lama sekali dan mereka tidak pernah bersentuhan fisik yang ekstrem, setidaknya Anna hanya pernah berpelukan, pegangan tangan, dan berciuman pipi saja. Usia kehamilan Anna sudah memasuki 5 minggu. Itu artinya anak dalam kandungan Anna dibuat setidaknya 5 atau 6 minggu yang lalu. Tapi Anna sangat yakin bahwa ia tidak pernah berkencan dengan pria mana pun. Tapi bagaimana bisa ada kehidupan dalam dirinya, apa anak ini merupakan anak yang langsung dititip kan oleh Tuhan kepadanya?. Oh.. tidak...tidak, Anna tidak percaya akan hal tersebut. Pasti ada s****a yang sudah masuk ke dalam rahimnya. Tapi.., benih siapa?. Anna ingat betul bahwa ia tidak pernah terlibat hubungan dengan seorang pria. Saking seriusnya Anna memikirkan masalah yang sedang ia hadapi tanpa sengaja ia muntah di dekat sebuah mobil mewah. Yang lebih parahnya sedikit muntahan tersebut terkena badan mobil sehingga membuat orang yang ada di dalamnya keluar secara terburu-buru. “Hei nona Anda kenapa..., oh astaga... mobil ku..” dengan sigap seorang pria yang keluar dari mobil tersebut mengambil tisu dan mengelap mobil yang terkena muntahan Anna. Tak lupa ia mendorong Anna secara pelan agar sedikit menjauh dari mobil miliknya. “Hei nona, bisakah sopan sedikit, mengapa kau muntah di mobil ku?” teriak sang pria dengan jengkel. “Ma...maaf tuan, saya tidak sengaja” balas Anna menunduk, rasa mual Anna sedikit mereda. Entah mengapa yang jelas saat Anna menatap wajah pria di hadapannya rasa mual tersebut tidak terlalu terasa. Apa mungkin karena wajah tampannya?, apa mungkin anak yang di dalam kandungan Anna merupakan seorang gadis sehingga ia sedikit centil dengan pria tampan?. Ah tidak mungkin. Tidak jauh berbeda dengan Anna, pria yang awalnya jengkel karena mobilnya menjadi kotor pun sedikit merasakan hal berbeda setelah melihat Anna. Tapi ia tak yakin apa gadis di hadapannya ini menjadi penyebab rasa pusing, mual, dan lemas di tubuhnya menjadi hilang. Yang jelas awalnya di dalam mobil ia kembali merasa tubuhnya drop seperti beberapa waktu yang lalu. Entah penyakit jenis apa yang sedang menimpanya. Anehnya semua dokter di kota ini sudah ia datangi dan hasilnya sama, ia dinyatakan sehat. Apa tenaga medis di kota ini sudah mulai menurun kualitasnya sehingga untuk sekedar mengetahui sebuah penyakit pun tak mampu. Sangat aneh rasanya. Tapi melihat gadis yang lumayan bisa dikatakan cantik ini membuat ia merasa ada hal yang aneh. Rasa lega di dalam dirinya, ya ia merasakan hal itu. Sementara Anna pun sama, bahkan saat ini rasanya Anna ingin sekali dekat dengan pria itu. Sangat tidak masuk akal, tapi aroma tubuh yang sempat melintas di indera penciuman Anna membuat gadis itu sedikit menggila. Rasanya ingin kembali mencium aroma tersebut untuk kedua kalinya. “Anda sakit nona..?” tanya pria tersebut sembari mendekat ke arah Anna dan memberikan tissue. Ada rasa iba yang lebih dominan dibandingkan amarah saat melihat kondisi Anna yang memprihatinkan. Terlebih ada dorongan dalam diri untuk lebih dekat dengan gadis yang baru beberapa menit ditemuinya itu. “Perkenalkan saya Carl Howard, panggil saja Carl” Carl mengulurkan tangan. “Anna.., Anna Baldwin” jawab Anna sembari menjabat uluran tangan Carl. “Wah senang berkenalan dengan Anda nona Baldwin” balas Carl sembari tersenyum yang membuat Anna merasa kehilangan udara untuk bernafas saat melihatnya. “Jadi.., apa Anda sedang sakit..?” tanya Carl dan seketika mata Anna melebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN