Kecurigaan

1164 Kata

Semilir angin menerpa wajah ini, perhatianku tak lepas dari sebuah nama yang tertulis di batu. Bunga Kamboja sudah ku taburkan, masih segar dengan aroma yang menyerbak. Masih belum menyangka, aku bisa kembali ke tempat yang sangat ku rindukan. Hal yang paling membuat aku bahagia adalah, aku bisa berada di tempat ini sekarang. Tempat peristirahatan terakhir mamaku. “Makam mama sangat terawat” “Ya, kakekmu selalu datang setiap minggu untuk membersihkannya, dia selalu mengatakan jika ia tidak ingin putrinya merasa tidak nyaman” jawab nenek sambil tersenyum. Raut wajah dan sorot matanya memancarkan aura kesedihan. Dia pasti merindukan sosok yang juga aku rindukan. “Mama pasti sudah tenang dan tidak sakit lagi” ujarku sambil mengelus-elus batu yang bertuliskan nama ibuku, Anita Wijaya. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN