Anna terus memandangi wajah putranya yang tertidur pulas. Bibirnya yang mungil dan hidungnya yang mancung tak mampu mengalihkan perhatian sang ibu. Carl berdiri di belakang Anna, melihat juga bagaimana putranya tertidur. Mereka sudah sangat cocok menjadi sebuah keluarga kecil yang utuh. “Dia sudah berumur empat hari, apa kau tidak ingin memberinya nama?” tanya Carl, memancing Anna untuk berinteraksi lagi dengannya. “Kau benar Carl, tapi aku tidak memiliki nama satu pun untuknya” Anna menoleh ke belakang, “Mengapa tidak kau saja yang memberikannya” “Aku..?” tunjuk Carl pada dirinya sendiri. “Ya..” Anna mengangguk, tapi beberapa detik kemudian ia menunduk, “Itu pun jika kau bersedia” “Tentu aku bersedia” Carl dengan cepat merespons, dia tahu Anna tidak memiliki cukup kepercayaan dir

