"Aku berangkat ya?" Fania mengangguk lesu. Dengan manjanya, ia melangkah mendekat dan memeluk tubuh Farel. Rasanya tidak ingin jauh walau hanya sebentar. Rasanya tidak ingin ditinggalkan walau hanyalah sementara. Farel membalas pelukan Fania dengan satu tangannya. "Aku pulang tepat waktu nanti. Kamu tunggu di rumah ya." Fania melepaskan pelukannya. "Jangan lupa dimakan bekel makan siangnya." "Iya." "Jangan kecapean." "Iya." "Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." "Iya." "Jangan pulang telat." "Iya." "Jangan—" Fania tak jadi melanjutkan kalimatnya begitu bibir Farel membungkam bibirnya rapat. "Aku ngerti, kamu jangan khawatir." Beruntung Rama sudah berangkat lebih awal, sehingga Kartika pun sudah di dalam dan hanya tersisa mereka yang melakukan salam perpisahan dengan segala macam

