“Ya Allah, Ma. Dekil banget! Mana namanya agak lain lagi. Nasimun? Bagaimana ayahnya bisa memberi nama seperti itu?”
Protes Maya saat sang Mama menunjukkan foto lelaki yang diminta almarhum ayahnya untuk menjadi suaminya.
“Ini kan foto lama, siapa tahu Nasimun yang sekarang, dia sudah jauh lebih bersih. Lagipula disini papa menuliskan kalau laki-laki ini pria yang baik dan bertanggung jawab. Papa yakin kalau dia bisa membahagiakan kamu, May.”
“Males banget sih! Papa kenapa sih nggak nyuruh nikah sama ana-anak konglomerat? Kok malah minta Maya nikah sama lelaki dari desa seperti itu.”
Maya merengut. Ia tidak terima dijodohkan dengan pria yang menurutnya jauh dari kata sempurna. Apalagi di foto, pria itu berdiri di tengah sawah dengan topi capil yang bertengger di kepalanya. Pakaiannya terlihat lusuh penuh lumpur seperti habis mencangkul di sawah.
“Mama kan tahu Maya selama ini deket sama Anjas. Apa yang harus Maya katakan sama dia kalau tiba-tiba Maya menikah? Ya meskipun pernikahan ini tertutup, tetapi tetap saja, Ma."
Gadis itu terlihat bersedih. Surat wasiat dari sang papa benar-benar membuatnya frustasi. Di satu sisi ia ingin memenuhi permintaan papanya itu, tapi di sisi lain rasanya tidak mungkin, selain dia punya hubungan khusus dengan Anjas, dia juga tidak suka melihat pria di dalam foto itu. Melihat itu sang Mama memegang pundak putrinya.
“May, mama nggak akan maksa, tapi inilah keinginan terakhir Papa. Pasti ada alasan mengapa ia meminta mama menikahkan kamu dengan pria ini. Kita belum mengenalnya, tidak ada salahnya kita temui dia dulu di desa, baru mengambil keputusan.
“Lalu bagaimana dengan Anjas, Ma?”
“Selama ini dia tidak pernah datang untuk menemui Mama. apakah dia serius dengan kamu atau tidak kita nggak tahu, May.”
“Dia hanya sibuk, Ma. Sebagai supervisor di perusahaan, dia disibukkan dengan banyak hal. Maya yakin suatu saat dia pasti datang ke sini untuk bertemu dengan mama.”
“Tidak bisakah dia mampir sebentar saja saat mengantarmu pulang?”
“Ma, ayolah ... ini bukan jaman Siti Nurbaya yang anak gadisnya harus menikah dengan lelaki yang dijodohkan keluarga. Maya berhak memilih dan berhak menolak, mau atau tidak, Ma.”
Tika—ibunya Maya memilih diam, lalu meninggalkan anaknya di dalam kamar, sementara Maya merasa bersalah sudah membuat mamanya seperti kecewa dan murung saat keluar dari kamar.
“Arggg!” erangnya kesal seraya mengacak-acak rambutnya.
**
Tika dan Maya turun di depan sebuah rumah yang sangat sederhana berdinding papan. Rumah dengan ukuran 6x8 meter itu terlihat berdiri di tengah-tengah tanah yang luas. Halamannya terlihat sangat bersih dengan berbagai macam tumbuhan dan bunga yang menghiasi sekitarnya.
“Ini rumahnya, Ma?”
“Iya, Nak.”
“Jelek banget. Kalau aku nikah sama dia dikasih makan apa aku?”
“Hush! Kita tidak boleh merendahkan orang lain seperti itu. Ayo kita masuk!”
Dengan bibir cemberut gadis itu mengekor mamanya dari belakang. Sesampainya di depan rumah, mereka langsung mengucap salam karena pintu sudah terbuka lebar. Terlihat seorang wanita yang belum terlalu tua tergopoh keluar dari dalam.
“Waalaikumsalam!” Ia membuka pintu lebar-lebar, lalu mempersilakan Tika dan Maya masuk.
“Ini Mbak Tika, kan?”
Tika tersenyum. “Iya, kamu ... Dewi, ya? Buleknya Nasimun?”
“Bener, Mbak. Mashaallah lama tidak bertemu.”
Mereka bersalaman. Kemudian Dewi pamit ke belakang untuk membuatkan minuman. Segelas teh hangat dengan gorengan ubi ia hidangkan.
“Silakan diminum, Nak Maya dan Mbak Tika. Saya kira nggak jadi datang, soalnya Mbak nggak ngabarin kalau jadi.”
“Buat surprise, Wi. Eh Nasimun-nya mana?”
“Masih di sawah, kalau begitu mau saya telepon dulu ya, Mbak.”
“Boleh.”
Dewi pamit ke belakang untuk menelepon keponakannya itu. Di rumah sederhana itu mereka tinggal bertiga. Ada Nasimun, dia dan suaminya. Setelah kedua orangtua Nasimun meninggal, mereka menitipkan anaknya pada Dewi dan mempercayakan semuanya pada adik bungsunya itu. Terdengar Dewi bicara dan meminta Nasimun untuk segera pulang.
Di sawah, seorang pria dengan kulit sawo matang karena sering terbakar sinar matahari keluar dari sawah. Ia membuka topi capingnya dan menatap sekeliling. Bibirnya yang tipis tersenyum menatap para petani lainnya. Mereka bertanya mengapa ia sudah naik lebih dulu. Laki-laki itu menjelaskan kalau ada tamu di rumahnya. Ia berjongkok untuk mencuci kaki dan tangannya yang penuh lumpur.
Otot-ototnya yang kekar terlihat silau terkena sinar matahari. Apalagi ketika ia melepas kausnya, hingga hanya menyisakan celana pendek yang ia kenakan, terlihatnya perutnya yang seperti roti sobek terbentuk secara alami karena kerja kerasnya setiap hari di sawah ini. Beberapa gadis yang sedang menanam padi saling berbisik.
Mereka sering kali terpukau melihat Nasimun jika melepas pakaiannya. Tubuhnya yang kekar dan sixpack terlihat begitu memesona, ditambah wajahnya yang manis menambah nilai plus pada dirinya. Hanya saja pria itu tidak pernah memedulikan hal itu. Ia seperti lelaki biasa yang tidak pernah merasa istimewa dan melambung meskipun seringkali disanjung oleh beberapa wanita.
“Semuanya, saya duluan!” teriaknya dengan logat Jawa yang medok.
“Hati-hati, Mas! Kalau mau ditemenin pulang bilang aja!” sahut salah satu gadis di sana dan gadis yang lainnya tertawa.
Nasimun tidak menjawab hanya melempar senyuman yang sopan, lalu pergi dari sana. Ia pamit pada pamannya untuk pulang lebih dulu saat melewatinya. Terlihat pamannya sedang asik menggarap sawah. Ia masih menggunakan tenaga kerbau untuk mengerjakan semuanya.
“Paklek, aku pulang lebih dulu, ya!”
“Ya!” sahut pakleknya.
Kembali Nasimun berjalan di jalanan persawahan yang kecil dan licin. Ia lalu melewati jalanan setapak untuk sampai ke rumah dengan mengendarai sepeda. Sesampainya di rumah ia kembali mencuci kaki dan tangannya di sumur belakang supaya lebih bersih, lalu masuk lewat pintu belakang sambil megucap salam. Buleknya yang ada di depan bergegas menuju ke belakang untuk menemui keponakannya.
“Ada siapa to, Bulek?”
“Ada tamu dari kota, temui dulu.”
Nasimun menggantung capingnya, lalu masuk ke kamar untuk berganti pakaian memakai celana panjang batik dan kaus oblong biasa. Ia masuk ke dalam, lalu melempar senyum saat melihat siapa yang datang. Maya yang sedang asik memainkan ponsel langsung mendongak saat mendengar suara seorang pria. Ia memperhatikan lelaki yang berjalan mendekat ke arah mereka dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Melihat telapak kaki dan tangannya yang masih menyisakan sedikit lumpur membuat Maya bergidik jijik.
“Halo, Bu.” Ia menyapa Tika.
“Hai, Nak. Kamu Nasimun, kan?”
“Iya, salam kenal, Bu."
"Saya Tika, istrinya Pak Narmuji—sahabat ayahmu dulu."
“Oh begitu. Senang bertemu dengan Ibu.”
Nasimun duduk di salah satu kursi, sementara tatapan tajam Maya cukup mengusik pikiran lelaki itu. Ia heran siapa gadis yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan sinis itu.
“Halo, Mbak. Salam kenal, saya Nasimun.”
“Udah tau,” katanya sambil melengos.
“May, jangan begitulah, nggak enak sama buleknya.” Bisik sang Mama.
Malamnya Tika—Dewi dan suami duduk di bale-bale yang ada di luar rumah. Mereka membicara surat wasiat yang ditinggalkan oleh papanya Maya. Dewi juga mengatakan sempat dititipi amanat oleh ayahnya Nasimun untuk menikahkan lelaki itu dengan gadis pilihannya, anak dari sahabatnya, hanya saja belum sempat menjelaskan ayahnya Nasimun sudah keburu meninggal.
“Kira-kira kalau dari Nasimunnya bagaimana, Dek Dewi?”
“Kami belum bisa menjawab, Mbak. Harus dikasih tahu dulu anaknya.”
“Kalau dia nolak gimana?”
“Saya punya cara,” sambung suami dari Dewi.
“Apa, Mas?”
“Bagaimana kalau sementara mereka nikah siri dulu, terus minta mereka tinggal satu rumah, berdua. Untuk mengenali sifat masing-masing. Nanti kalau mereka merasa cocok baru kita nikahkan secara hukum juga.”
“Bukan ide yang buruk sih,” kata Tika.
“Ini jika mereka berdua menolak, tapi kalau sudah sama-sama setuju langsung saja kita nikahkan secara sah di KUA.”
Setelah berunding, akhirnya malam itu mereka bicara dengan anak mereka masing-masing. Sayangnya bertemu jalan yang buntu baik Maya dan Nasimun sama-sama menolak pernikahan itu.
“Bulek, gadis itu kayak e judes, nanti gimana nasib Nasimun kalau punya istri yang seperti itu. Aku pengennya punya istri yang lemah lembut, Paklek, Bulek,” protesnya saat ditemui di kamar.
“Ma, dia itu dekil dan kotor. Mama tau kan kalau Maya itu suka yang bersih orangnya. Lagipula lihat saja pekerjaannya dia cuma kerja seperti itu. Biaya skincare Maya aja udah berapa harganya, nanti dia bisa pingsan kalau denger pengeluaran Maya setiap bulan,” protes Maya di kamarnya juga.
“Le, apa kamu nggak sayang sama ayahmu? Ini wasiat terakhirnya untukmu. Coba saja dulu. Nanti, kalau kamu sudah mengerahkan semuaya dan masih tidak bisa bersamanya, nanti Bulek akan terima apapun keputusanmu.” Dewi masih berusaha.
“Maya, tidak ada salahnya kita coba dulu. Kenalan dulu saja, coba mendekatkan diri dan lebih mengenalinya. Nanti kalau kamu sudah mencoba dan hasilnya masih tidak bisa, mama tidak akan memaksamu.”
Begitu juga Tika tak mau menyerah merayu anaknya di kamar lainnya.
Akhirnya di ambil kesepakatan, bahwa mereka berdua akan menikah siri dulu secara diam-diam, tanpa diketahui orang lain kecuali keluarga. Jika dalam waktu tertentu mereka merasa cocok, pernikahan akan dilakukan secara sah dimata hukum dan negara, tapi kalau tidak, maka mereka memutuskan untuk berpisah saja.
Bahkan malam pertama setelah menikah keduanya menolak untuk tidur satu kamar. Wajah keduanya terlihat sama-sama datar tanpa ada binar bahagia. Bahkan Maya akan mencuci tangannya jika tanpa sengaja bersentuhan dengan Nasimun.
“Ah, capek banget!” kata gadis itu seraya menghempaskan tubuh ke pembaringan. Ia masih mengenakan pakaian kebaya.
“Kamu gimana sih May, harusnya kamu tidur sama Nasimun.”
“Ogah! Nanti meskipun satu rumah Maya nggak mau tidur sama dia.”
“Awas jangan terlalu benci loh, nanti cinta.”
“Kita lihat saja, Ma. Maya yakin usaha Mama ini tidak akan berhasil, dari awal Maya udah ilfeel sama dia, rasanya tidak mungkin Maya bisa menyukainya.”
"Hus! Nggak boleh ngomong seperti itu. Ora ilok!"
Maya hanya memasang muka masam mendengar sahutan sang mama.
***
Keesokan harinya Dewi menyiapkan segala sesuatunya untuk Nasimun ikut ke kota bersama istri dan mertuanya. Ada karung, tas dan sayur sayuran. Maya yang melihat hal itu menggelengkan kepalanya.
“Kamu hati-hati di kota ya, Le. Jangan khawatir kebun dan sawah yang ada di sini biar Bulek dan Paklek yang akan mengurusnya. Kamu tenang-tenang saja di sana. Ini untuk persiapan di sana. Kalau butuh apa-apa telepon saja nanti Bulek kirim duit ke sana."
Dewi memberikan semuanya. Laki-laki itu menggendong tasnya, lalu memikul karung yang akan dibawanya. Mertuanya membantunya membawakan sayur-sayuran. Penuh haru Dewi dan suaminya mengantar kepergian sang keponakan. Maya yang menyetir mobilnya, sementara ibunya duduk di sebelah anaknya. Nasimun memilih duduk di kursi paling belakang . Karena jarang naik mobil, sehingga Nasimun sambil berzikir duduk di belakang, takut kalau terjadi kecelakaan.
“Pelan-pelan saja, Mbak,” katanya mengingatkan Maya di sela-sela zikirnya.
“Ish! Norak banget!” sahut Maya sedikit kesal.
“Maya, nggak boleh ngatain suamimu seperti itu.”
“Abisnya, Ma.” Mamanya hanya menggelengkan kepala.
Keluar dari desa, saat memasuki kota, Maya mampir ke sebuah pom bensin. Tanpa diduga Nasimun bertanya mau isi berapa.
“Mau isi berapa bahan bakarnya, Mbak?”
“Kenapa nanya-nanya? Mau bayarin? Emang situ punya duit?” tanyanya dengan nada meremehkan.
Nasimun seperti sibuk di belakang sana, lalu memberikan uang lembaran berwarna merah.
“Segini cukup Mbak buat isi bensin?”
Laki-laki itu mengangsurkan segepok uang yang membuat Maya terheran-heran. Ia dan Tika saling bertatapan. Perlahan ia mengambil uang itu dari tangan Nasimun, lalu menghitungnya.
“Berapa, May?” bisik mamanya.
“Sepuluh juta, Ma.”
Mereka menatap Nasimun dan laki-laki itu hanya tersenyum polos. Ia tidak tahu dibutuhkan uang berapa banyak untuk memenuhi bahan bakar kendaraan ini, karena ia terbiasa memakai sepeda ontel ke mana-mana.
“Kenapa, Mbak? Kurang, ya?”
Ia kembali sibuk di belakang sana, setelahnya kembali memberikan uang.
“Ini!”
Kembali Maya dan mamanya saling tatap. Nasimun menambahkan uang sepuluh juta di tangannya. Baik Maya dan Tika sama-sama terheran-heran.
‘Dari mana dia mendapatkan uang sebanyak ini? Apa dia nuyul setiap malam?’ tanya Maya dari dalam hati tidak percaya.