Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hari pertunangan Alicia dengan William pun tiba. Alicia semakin gelisah, dia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi setelah hari pertunangan ini.
Pagi-pagi sekali, Alicia sudah di rumah utama untuk didandani. Hermando dan Emilia juga bersiap-siap. Berbeda dengan Gina. Gina menolak mengenakan gaun berwarna perak yang telah disiapkan oleh keluarga Stefano karena Gina ditugaskan sebagai pendamping calon pengantin wanita.
"Ma, seharusnya aku yang mengenakan gaun putih itu, bukan Alicia!" rengek Gina sambil menunjuk ke arah kamar yang dipakai Alicia untuk bersiap-siap.
"Gina...! Apa kamu mau menikah dengan pria dingin seperti William? Kamu kan sudah dengar gosip diluar sana tentang William yang kata mereka memiliki temperamen tinggi, kasar, bahkan tidak menyukai lawan jenis katanya. Kamu mau menderita seumur hidup?" ujar Emilia.
"Penderitaan itu biar hanya untuk anak tak beruntung itu! Lebih baik kamu fokus pada Antonio. Dia jauh lebih baik walaupun tak sekaya William, tapi paling tidak reputasinya baik!" sambung Emilia sambil berjalan mendekat ke Gina.
"Tapi ma...William itu pewaris tunggal perusahaan ternama disini! Kekayaannya tidak akan habis sampai 7 turunan! Aku gak peduli dia bagaimana asalkan hartanya bisa aku miliki! Dan sekarang itu semua akan jatuh ke tangan anak s**l itu!" ujar Gina dengan wajah masam.
"Gin, sudahlah! Jangan pikirkan William lagi! Biar si anak s**l itu merasakan dinginnya sosok William itu!" Emilia mencoba menenangkan Gina yang masih tak terima pertunangan Alicia.
Diam-diam Gina memikirkan cara untuk menjebak William agar membatalkan pernikahannya dengan Gina, agar dia bisa merebut William dari Alicia.
Sementara di kamar tamu tempat Alicia didandani. Alicia telah selesai berdandan, dia masih duduk memandangi pantulan dirinya di cermin. Alicia mengenakan gaun off shoulder berwarna putih dengan rok berbentuk A-line. Gaun berbahan satin mengkilap itu sangat cocok di tubuh Alicia walaupun agak sedikit kebesaran karena mendekati hari H, Alicia semakin kehilangan nafsu makannya. Berat badan Alicia turun cukup banyak.
"Kek, kenapa harus aku yang dikorbankan? Kenapa kakek meninggalkan ku sendirian? Sekarang aku harus membayar hutang keluarga ini agar perkebunan ini tidak jatuh ke tangan keluarga Stefano. Aku juga tak ingin semua kerja keras kakek hilang begitu saja, tapi....haruskan aku menikahi pria dingin itu?" keluh Alicia dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
TOK...TOK...
Alicia terjingkat, dia melirik dari cermin di depannya ke pintu sesaat terdengar suara ketukan pintu. Seorang wanita yang usianya lebih muda darinya melongok dari balik pintu yang terbuka sedikit. Wanita itu adalah Teresa, seorang ART di rumah utama.
"Nona Alicia, mobil pengantin telah datang untuk menjemput! Tuan meminta nona untuk segera turun ke ruang utama!" pesan Teresa.
Alicia bangkit berdiri, lalu dia mengambil sarung tangannya dari atas meja rias. Alicia berjalan dengan langkah lunglai keluar dari kamar. Rasanya langkahnya begitu berat, dadanya terasa penuh. Alicia tidak dapat berkata apapun saat bertemu dengan keluarga angkatnya. Hermando, Emilia dan Gina telah menunggu di ruang utama.
"Ayo kita berangkat sekarang!" perintah Hermando, lalu dia berjalan lebih dulu keluar dari rumah diikuti oleh Emilia dan Gina. Gina melirik sinis ke Alicia yang berjalan di sampingnya.
"Jangan gede rasa dulu ya Al, jangan pikir kehidupanmu akan lebih baik dari disini!" sindir Gina dengan wajah masam.
Alicia hanya terdiam, dia juga tak berpikir kehidupannya akan lebih baik ketika dirinya tinggal bersama William nantinya. Malah yang dibayangkannya kehidupannya akan lebih buruk dari dirinya tinggal di pondok kecil dekat kandang kuda itu. Keluarga angkat Alicia naik mobil pribadi mereka, sedangkan Alicia di mobil pengantin yang sengaja disediakan memang khusus untuk Alicia. Alicia duduk seorang diri di belakang. Tangannya terus menerus meremas-remas gaunnya. Jantungnya berdetak tak karuan. Alicia benar-benar sangat ingin menghilang saat ini.
Setelah setengah jam perjalanan menuju kediaman Stefano, akhirnya mereka tiba. Mobil pengantin tiba lebih dulu, kemudian disusul oleh mobil keluarga Guztavo. Pintu belakang dibukaan oleh seorang pelayan rumah Stefano. Alicia melangkah keluar dengan langkah ragu. Alicia terdiam sesaat di depan anak tangga. Hermando yang melihat Alicia nampak ragu, dia langsung menghampiri Alicia.
"Apa yang kau lakukan sekarang? Ayo masuk!" perintah Hermando dengan nada tegas.
Alicia menoleh ke Hermando dengan tatapan sendu. Alicia menghela nafas, lalu dia berjalan menyusul keluarga Guztavo yang sudah berjalan di depannya.
Saat di dalam ruang utama, telah hadir begitu banyak tamu undangan dari pihak keluarga Stefano. Alicia semakin gemetar dan gugup. Wajah-wajah asing itu mulai memperhatikan Alicia yang mengenakan gaun putih dengan rambut di gulung lepas kesamping dan sebuah bunga mawar putih tersemat di antara ikalan itu. Terdengar samar-samar pujian dari wajah-wajah asing itu tentang penampilan Alicia yang sederhana namun anggun. Alicia duduk di sebelah Hermando berseberangan dengan keluarga Stefano. Nampak William dengan jas hitamnya dipadu dengan rompi berwarna perak dan kemeja putih serta dasi kupu-kupu. Penampilan William sangat memukau. Gina semakin menginginkan William saat melihat penampilan William yang bak pangeran, dengan tubuh tegap dan atletis itu. Hati Gina bergetar tak menentu. Hanya Alicia yang tak tergerak hatinya karena dia merasa tatapan William padanya saat ini seperti sebilah pisau yang akan menancap di jantungnya dan dapat membuatnya tak ingin hidup.
"Selamat pagi untuk seluruh tamu undangan. Hari ini kita akan mengadakan acara pertunangan antara keluarga Stefano dan Guztavo..." Terdengar suara pembawa acara memulai acara pertunangan.
Setelah pembawa acara menyampaikan kata sambutan, sampailah pada acara puncaknya yaitu pertukaran cincin. Alicia dan William diminta untuk bangkit berdiri dan saling mendekat ke tengah panggung. Awalnya Alicia nampak ragu-ragu, Hermando langsung mendorong pelan punggung Alicia agar segera bangkit berdiri. Alicia menoleh sesaat ke Hermando lalu melirik ke Emilia. Emilia memberi kode agar Alicia segera bangkit berdiri. Dengan terpaksa Alicia patuh dengan perintah kedua orang tua angkatnya. Alicia berjalan mendekat ke William yang telah berdiri di tengah panggung. Pembawa cincin pertunangan terlah berdiri di antara Alicia dan William. Walaupun Alicia telah mengenakan sepatu berhak 9 cm, tetap saja tubuhnya kalah tinggi dari William.
"Baiklah, silahkan calon pengantin pria mengambil cincin terlebih dulu lalu sematkan ke jari manis calon pengantin wanita!" ujar pembawa acara sambil berdiri di sebelah pembawa cincin. William mengambil cincin bertahtakan berlian itu, lalu disematkannya ke jari manis Alicia. Alicia dapat merasakan genggaman tangan William yang hangat, berbeda dengan tangannya yang dingin karena rasa gugup yang dirasakannya saat ini.
"Tanganmu dingin sekali! Kamu takut?" tanya William dengan suara berbisik sesaat dia merasakan telapak tangan Alicia dingin seperti es.
Alicia tak berani menjawab ataupun menatap William. Dia hanya tertunduk menatap jarinya yang telah disematkan cincin dan masih digenggam oleh William. William tersenyum melihat jawaban bisu Alicia. William tak melepaskan genggamannya setelah menyematkan cincin, walaupun Alicia sangat ingin melepaskan tangannya.
"Saat ini kau sudah jadi milikku, jadi jangan pernah berpikir untuk melarikan diri!" bisik William lagi ke telinga Alicia. Bulu kuduk Alicia langsung meremang di belakang lehernya. Seketika Alicia menoleh ke William sesaat dia mendengar pernyataan William. Darimana dia tahu kalau Alicia ingin kabur? Apakah dia bisa membaca pikiranku? batin Alicia sambil menatap William yang tak lagi menoleh ke Alicia. Gina melihat William yang nampak ramah pada Alicia semakin kesal, tangannya mengepal di atas pangkuannya.
"Tunggu saja! William akan jadi milikku!" batin Gina sambil menatap pasangan calon pengantin yang berdiri di tengah panggung.